12.11.08
Posted in Gereja at 4:42 pm by anabaptists
Tahun dan Peristiwa
Tahun-tahun di bawah ini merupakan beberapa yang terpenting dalam sejarah gereja.
Tahun - Peristiwa
1) 64 Roma Terbakar
2) 70 Titus Menghancurkan Yerusalem
3) ±150 Yustinus Martir Menulis Apologynya
4) ±156 Kemartiran Polikarpus
5) 177 Irenaeus Menjadi Uskup Lyons
6) ±196 Tertullianus Mulai Menulis Buku-buku Kristen
7) ±205 Origenes Mulai Menulis
251 Cyprianus Menulis On the Unity of the Church
9) 270 Antonius Memulai Hidupnya sebagai Pertapa
10) 312 Pertobatan Konstantinus
11) 325 Konsili Nicea
12) 367 Surat Athanasius Mengakui Kanon Perjanjian Baru
13) 385 Uskup Ambrosius Menentang Ratu
14) 387 Pertobatan Agustinus
15) 398 Yohanes Chrysostomus Menjadi Uskup Konstantinopel
16) 405 Hieronimus Menyelesaikan Vulgata
17) 432 Patrick Berangkat sebagai Misionaris ke Irlandia
18) 451 Konsili Chalcedon
19) 529 Benedictus dari Nursia Mendirikan Ordo Biaranya
20) 563 Columba Berangkat sebagai Misionaris ke Skotlandia
21) 590 Gregorius I menjadi Paus
22) 664 Sinode Whitby
23) 716 Bonifatius Berangkat sebagai Misionaris
24) 731 Bede yang Patut Dipuja Menyelesaikan Karyanya Sejarah Gereja Bangsa Inggris
25) 732 Pertempuran Tours
26) 800 Karel Agung Dinobatkan Menjadi Kaisar
27) 863 Cyrillus dan Methodius Mengabarkan Injil kepada Orangorang Slavia
28) 909 Biara Didirikan di Cluny
29) 988 Pertobatan Vladimir, Pangeran Rusia
30) 1054 Skisma Gereja Timur dan Barat
31) 1093 Anselmus Menjadi Uskup Agung Canterbury
32) 1095 Paus Urbanus II Melancarkan Perang Salib Pertama
33) 1115 Bernardus Mendirikan Biara di Clairvaux
34) ±1150 Universitas Paris dan Universitas Oxford Didirikan
35) 1173 Peter Waldo Memulai Gerakan Kaum Waldens
36) 1206 Fransiskus dari Asisi Meninggalkan Kekayaannya
37) 1215 Konsili Lateran Keempat
38) 1273 Thomas Aquinas Menyelesaikan Karyanya Summa Theologica
39) 1321 Dante Menyelesaikan The Divine Comedy
40) 1378 Catherina dari Siena Pergi ke Roma untuk Mendamaikan Skisma Besar
41) ±1380 Wycliffe Mengawasi Penerjemahan Alkitab ke dalam Bahasa Inggris
42) 1415 Yohanes Hus Dibakar pada Tiang Pancang
43) 1456 Johann Gutenberg Membuat Alkitab Cetak yang Pertama
44) 1478 Pendirian Inkuisisi Spanyol
45) 1498 Savonarola Dieksekusi
46) 1512 Michelangelo Menyelesaikan Langit-langit Kapel Sistina
47) 1517 Martin Luther Memampangkan Sembilan Puluh Lima Dalilnya
48) 1523 Zwingli Memimpin Reformasi Swiss
49) 1525 Gerakan Anabaptis Dimulai
50) 1534 Undang-undang Supremasi Henry VIII
51) 1536 Yohanes Calvin Menerbitkan Institutio: Pengajaran Agama Kristen
52) 1540 Paus Mengakui Kaum Yesuit
53) 1545 Pembukaan Konsili Trente
54) 1549 Cranmer Menciptakan Buku Doa Umum
55) 1559 John Knox Kembali ke Skotlandia untuk Memimpin Reformasi
56) 1572 Pembantaian pada Hari Santo Bartolomeus
57) 1608-1609 John Smyth Membaptis Orang-orang Baptis Pertama
58) 1611 Penerbitan Alkitab Versi Raja James
59) 1620 Para Peziarah Menandatangani Perjanjian Mayflower
60) 1628 Comenius Diusir dari Negerinya
61) 1646 Pengakuan Iman Westminster
62) 1648 George Fox Mendirikan Society of Friends
63) 1662 Rembrandt Menyelesaikan Lukisan Kembalinya Anak Hilang
64) 1675 Philip Jacob Spener Menerbitkan Pia Desideria
65) 1678 Karya John Bunyan The Pilgrim’s Progress Diterbitkan
66) 1685 Kelahiran Johann Sebastian Bach dan George Frederic Handel
67) 1707 Penerbitan Hymns and Spritual Songs Karya Isaac Watts
68) 1727 Kebangunan Rohani di Herrnhut Mengawali Moravian Brethren
69) 1735 Kebangunan Rohani Besar di bawah Jonathan Edwards
70) 1738 Pertobatan John Wesley
71) 1780 Robert Raikes Memulai Sekolah Minggu
72) 1793 William Carey Berlayar Menuju India
73) 1807 Parlemen inggris Mengadakan Pemungutan Suara untuk Menghapuskan Perdagangan Budak
74) 1811 Para Campbell Mengawali Gerakan Disciples of Christ
75) 1812 Adoniram dan Ann Judson Berlayar Menuju India
76) 1816 Richard Allen Mendirikan Gereja Episkopal Methodis Afrika
77) 1817 Elizabeth Fry Mengawali Pelayanan bagi Narapidana Perempuan di Penjara
78) 1830 Mulainya Kebangunan Rohani Perkotaan oleh Charles G. Finney
79) ±1830 John Nelson Darby Membantu Mengawali Plymouth Brethren
80) 1833 Khotbah John Keble tentang “Murtad Nasional” Memicu Gerakan Oxford
81) 1854 Hudson Taylor Tiba di Cina
82) 1854 Soren Kierkegaard Menerbitkan Serangan terhadap Kekristenan
83) 1854 Charles Haddon Spurgeon Menjadi Imam di London
84) 1855 Pertobatan Dwight L. Moody
85) 1857 David Livingstone Menerbitkan Missionary Travels
86) 1865 William Booth Mendirikan Bala Keselamatan
87) 1870 Paus Pius IX Memproklamasikan Doktrin Infalibilitas Paus
88) 1886 Gerakan Relawan Mahasiswa Dimulai
89) 1906 Kebangunan Rohani Azusa Street Memunculkan Aliran Pentakostalisme
90) 1910-1915 Penerbitan Buku The Fundamentals Memunculkan Gerakan Fundamentalis
91) 1919 Tafsiran Surat Roma oleh Karl Bath Diterbitkan
92) 1921 Radio Kristen Pertama Mengudara
93) 1934 Cameron Townsend Memulai Institut Linguistik Musim Panas
94) 1945 Dietrich Bonhoeffer Dieksekusi Nazi
95) 1948 Dewan Gereja-gereja se-Dunia Terbentuk
96) 1949 Kampanye Los Angeles Billy Graham
97) 1960 Berawalnya Pembaruan Karismatik Modern
98) 1962 Konsili Vatikan II Dimulai
99) 1963 Martin Luther King, Jr., Memimpin Pawai ke Washington
100) 1966-1976 Gereja Cina Bertumbuh tanpa Terusik Revolusi Kebudayaan
PendahuluanSepuluh peristiwa terpenting apa yang pernah terjadi dalam kehidupan Anda selama kurun waktu lima tahun terakhir ini? Sekarang tanyakanlah kepada ayah, puteri, suami atau istri, atau dua orang sahabat karib Anda untuk menjawab pertanyaan yang sama tentang diri Anda. Segera Anda menyadari bahwa cara pandang kita terhadap suatu peristiwa bisa berbeda dengan orang lain, termasuk mereka yang sangat dekat dengan kita.Sekarang marilah kita mengakui bahwa tidak seorang pun dapat dengan pasti menunjuk tanggal-tanggal terpenting dalam sejarah gereja. Tentunya, daftar yang ada pada Tuhan tentang hal itu mungkin akan sangat berbeda dengan daftar yang kita buat.
Kami tidak bermaksud menjadi wasit resmi untuk menentukan peristiwa apa yang terpenting dalam kehidupan gereja pada abad-abad lampau. Namun kami berupaya menampilkan selintas berbagai peristiwa dalam sejarah umat Tuhan yang rumit. Peristiwa tersebut diharapkan akan memberi garis-garis besar serta para pelaku yang telah membentuk kekristenan kepada yang bukan sejarawan dan bukan pengamat.Banyak orang Kristen dewasa ini ingin mengetahui lebih banyak tentang asal-usul keyakinan mereka serta berapa banyak ajaran dan praktik gereja mereka yang telah terwujud. Namun mereka tidak mempunyai waktu atau kecenderungan membaca karya akademis yang berjilid-jilid banyaknya. Hanya buku semacam inilah yang dapat memberikan kepuasan bagi kehausan mereka. Bagi orang-orang non-Kristen, buku ini merupakan buku acuan andal untuk lebih mengenal para tokoh terkemuka, berbagai gerakan, makna dan peristiwa-peristiwa dalam sejarah kekristenan yang panjang.Kami memulai sejarah gereja setelah (atau setidak-tidaknya yang di luar) peristiwa-peristiwa yang tercatat dalam Perjanjian Baru. Jelas bahwa kebangkitan, pertobatan Paulus, Konsili Yerusalem dan sebagainya adalah peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah gereja. Namun di mana kita harus berhenti? Oleh karenanya, kami memilih hanya peristiwa-peristiwa yang tidak tercatat dalam Perjanjian Baru.Kami tidak menyusun beragam peristiwa tersebut menurut urutan pentingnya, tetapi secara kronologis agar dapat menelusuri abad demi abad.Beberapa pilihan yang bernilai tinggi telah kami lewatkan karena kami merasa bahwa hal itu dapat digabungkan dengan peristiwa lain. Misalnya, karena survei telah membuktikan bahwa Ninety-Five Theses Luther dan Diet of Worms ada kaitan satu sama lain, maka kami hanya menyertakan judul pertama yang meliputi keduanya.Peristiwa-peristiwa lainnya telah disertakan bukan saja karena pentingnya tetapi bagaimana dampak peristiwa-peristiwa itu, atau betapa keadaan akan berbeda, jika peristiwa-peristiwa tersebut tidak terjadi. Misalnya Sidang Sinode Whitby tidak mungkin tercatat sebagai salah satu persidangan gereja besar, tetapi sangatlah penting bahwa Gereja Inggris memilih untuk bersatu dengan Roma pada waktu itu. Sejarah mungkin akan berbeda jika mereka memilih alternatif lain.
Kami juga rnenyertakan beberapa hal yang mungkin terkesan direkayasa dan mengada-ada. Dunia tidak berubah, begitu gereja, pada saat kelahiran Bach dan Handel. Namun, tidak menyertakan sumbangsih musik mereka bagi kehidupan ibadah sungguh akan merupakan suatu cacat. Oleh karena itu, beberapa peristiwa disertakan di sini khususnya karena nilai simbolisnya.
Meskipun demikian, terdapat beberapa alternatif menarik yang kami tidak sertakan dalam kurun waktu dua dasawarsa terakhir, karena kita masih sangat dekat dengan peristiwa-peristiwa itu untuk perspektif yang dibutuhkan.
Mungkin ada cemoohan atas pilihan-pilihan kami yang lebih banyak berbicara tentang dunia Barat, kaum lelaki, Protestan dan kaum evangelikal. Di satu pihak, memang hal ini tak terelakkan, dan di lain pihak hal ini mencerminkan bias kami.
Tetapi kami tidak bersikukuh bahwa pilihan kami inilah yang final. Sebenarnya dari awal kami mengharaukan tanggapan para pembaca yang ingin menyodorkan kemungkinan adanya peristiwaperistiwa laip yang dapat disertakan atau yang dapat dilewatkan. Untuk itu kami mengundang para pembaca agar menulis pendapatnya kepada kami, disertai dengan alasan-alasan rinci. Jika tanggapan tersebut cukup meyakinkan, maka kami akan menerbitkan jilid kedua dengan judul “Kejadiankejadian Penting Lain dalam Sejarah Gereja” (More Important Events in Church History). Kami mengundang mereka yang ingin memberi komentar mengenai jilid kedua untuk menulis. Kirimkan kepada: Ken Curtis, Christian History Institute, Box 540, Worcester, PA 19490, atau Fax ke 215-584. 4610.
Ketika saya menjabat sebagai editor majalah Christian History, kami menulis kepada para pelanggan dan meminta mereka mengirimkan peristiwa-peristiwa yang mereka anggap layak dibukukan. Kemudian, setelah memilah-milah dan menyusun daftar ini, kami mengirimnya kembali kepada mereka ‘dengan catatan agar mereka dapat menandai pilihan-pilihan yang mereka setujui dan yang tidak disetujui; serta menambahkan, bila perlu, hal-hal yang tidak tercantum. Jawaban mereka mewujudkan daftar baru. Sebuah survei juga telah dilayangkan kepada para anggota American Society of Church History, sebuah kelompok sejarawan gereja profesional. Dalam memilih judul-judul peristiwa yang terdapat dalam buku ini, hasil survei tersebut mendapat perhatian cukup, meskipun saya yang bertanggung jawab dalam pemilihan final.
Sejak semula, dengan melakukan pemilihan, kami sepenuhnya sadar bahwa beberapa hal terpenting sungguh sukar dikenali dan diukur. Kami seperti bendaharawan di Bait Allah yang mungkin tidak menghiraukan pentingnya “uang keping yang dipersembahkan seorang janda”. Yesus telah menjelaskan bahwa cinta kasih merupakan tanda istimewa para pengikut-Nya. Ia juga berbicara tegas akan hal-hal sederhana seperti memberikan secangkir air atas nama-Nya. Banyak isi buku ini yang merefleksikan kualitas dasar kekristenan. Namun, apa saja sesungguhnya yang terpenting tidak akan kita ketahui hingga hari penghakiman umat manusia, yang memperlihatkan mana gandum dan mana debu jerami.
Sumber :
A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang & Randy Petersen, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, Immanuel, 1999.
Permalink
Posted in Gereja at 4:17 pm by anabaptists
Apa artinya lahir baru bagi orang Kristen yang sudah dewasa?
Lahir baru sering disebut dengan istilah Born Again, terjemahah Indonesia menjadi Dilahirkan Kembali atau sering disebut sebagai Lahir baru (bukan reborn, ya). Tidak ada ketentuan apakah seseorang yang lahir baru secara fisik itu haruslah orang yang dewasa atau tidak. Seharusnya ketika orang percaya kepada Yesus maka secara otomatis ia mengalami kelahiran kembali. Namun, kenyataannya banyak iman yang tumbuh karena turunan bapak-ibu Kristen, orang-orang yang mengenal hukum taurat dan pengajaran agama dan orang-orang yang “percaya” tetapi memiliki kehidupan yang lama atau duniawi.
Yesus menggunakan istilah “kelahiran” yang biasa dipakai dalam persalinan untuk menegaskan maknanya secara rohani, bukan jasmani. PertemuanNya dengan Nikodemus (Yohanes 3:1-13) secara analogi mengajarkan “kelahiran kembali” dalam hubungan rohani yang baru, dimana Allah menjadi Bapa dan kita menjadi anak-anakNya (Yohanes 1:12). Yesus sedang mengkontraskan kehidupan Nikodemus sebagai ahli agama yang memiliki kehidupan rohani berdasarkan tuntutan hukum taurat dan agamanya.
Walau seseorang menyatakan dirinya sebagai orang Kristen namun seringkali kehidupan mereka masihdi didalam kesenangan duniawi atau di dalam daging. Kata “dilahirkan” kembali digunakan dalam kalimat pasif, yang menandakan sebuah peran Roh Kudus dalam kehidupan orang yang percaya kepadaNya. Kelahiran kembali berbicara tentang kelahiran di dalam Roh bukan di dalam dagng. Kelahiran kembali merupakan awal proses seseorang hidup didalam Roh dan dipimpin oleh Roh.
Lalu, apakah kita dapat mengatakan bahwa kita sudah lahir baru sementara kita masih melakukan hal-hal yang tidak baik?
Seorang yang telah lahir baru tidak lagi menyukai dosa. Kehidupannya berperang melawan dosa. Luputnya seseorang yang telah lahir baru dalam menaati Firman Tuhan bukanlah menandai perilakunya yang suka berkubangandengan dosa. Karena orang yang lahir baru tidak lagi dikuasai oleh dosa. Tindakan yang tidak baik (dosa) bukan lagi dalam konteks kehidupan yang mengikuti keinginan daging atau nafsu dunia. Namun tindakan ini muncul karena seorang yang telah lahir baru tersebut tidak memberikan dirinya untuk selalu dipimpin oleh Roh. Itulah sebabnya Paulus menyatakan “Aku manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?“ (Roma 7:24). Kelahiran baru menandai adanya pertentangan antara menuruti keinginan daging dengan keinginan Roh. Kemenangan tidak lagi terletak pada ketidakmampuan kita melawan dosa. Karena “Roh yang memberi hidup dan telah memerdekakan kita dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum taurat (Roma 8:2). Sehingga setiap tuntutan hukum taurat, yakni tuntutan untuk mentaati Tuhan dan FirmanNya dapat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh (Roma 8:4). Kelahiran baru adalah tanda dimulainya status yang baru, ciptaan baru, dimana yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2 Korintus 5:17).
Renungkan:
Apakah anda sudah mengalami kelahiran kembali? Ingat tanda kelahiran kembali bukan karena anda sudah Kristen dari bapak-ibu, dibaptis, rajin ke gereja dan melakukan seluruh aturan agama yang ada. Kelahiran kembali bukan lahir kembali secara jasmani, sebuah konsep reborn atau reinkarnasi. Kelahiran kembali terjadi secara rohani dimana peran Roh Kudus secara aktif bekerja di dalam diri anda yang percaya kepadaNya. Kelahiran kembali tidak menghilangkan status kita sebagai orang berdosa namun memerdekakan dan memampukan kita untuk melawan dosa dan hidup dalam pimpinan RohNya. Namun, pertanyaannya sekarang adalah: Apakah anda merasa telah percaya kepadaNya dan dilahirkan kembali namun sedang bergumul dalam dosa, kecanduan, kecenderungan dosa yang menghantui pikiran dan perasaan anda dan memperbudak anda untuk kembali melakukan hal yang sama? Jika demikian, anda perlu dilahirkan kembali!
Permalink
11.25.08
Posted in Gereja at 7:13 pm by anabaptists
Setelah Tuhan Yesus menyelesaikan pekerjaan di atas bumi dan sebelum terangkat ke dalam kemuliaan, Ia memberikan amanat kepada murid-muridNya sebagai berikut: “KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat. 28: 18-20). Sehubungan dengan amanat ini Yesus memberikan otoritas kepada jemaatNya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia.
Sebuah jemaat Perjanjian Baru adalah sekelompok orang percaya yang sudah dibaptis yang secara sukarela menggabungkan diri bersama untuk memelihara (mempertahankan) ordinansi dan pemberitaan Injil Yesus Kristus.
Karakteristik istimewa jemaat ini jelas membekas di dalam Perjanjian Baru.
Jemaat tersebut merupakan sebuah perkumpulan sukarela dan independen di antara jemaat-jemaat (gereja-gereja) lainnya. Jemaat tersebut bisa saja, dan dimungkinkan untuk berafiliasi dengan jemaat-jemaat lain di dalam hubungan persaudaraan; tetapi ia harus tetap independen dari segala campur-tangan luar, dan hanya bertanggungjawab kepada Kristus, yang adalah pemberi hukum tertinggi dan sumber dari segala otoritas. Dari sejak awal para pengajar dan para jemaat secara bersama-sama melaksanakan urusan gereja.
Dalam pengertian Perjanjian Baru, tidak ada organisasi yang merupakan sebuah Gereja (Jemaat) Umum atau Nasional, yang meliputi sebuah wilayah negara yang luas, yang terdiri atas sejumlah besar organisasi setempat (lokal). Jemaat (gereja) dalam pengertian alkitabiah selalu merupakan sebuah organisasi yang independen dan lokal. Gereja-gereja (jemaat-jemaat) yang bersaudara “dipersatukan hanya karena ikatan iman dan belas kasih. Independensi dan persamaan membentuk tubuh internal mereka” (Edward Gibbon, The History of the Decline and Fall of the Roman Empire, I, 554, Boston, 1854). Gibbon, yang selalu artistik dalam melakukan pembahasan, melanjutkan: “Begitulah lembutnya dan sama kedudukannya dimana orang Kristen diperintah lebih dari seratus tahun setelah wafatnya para rasul. Setiap kumpulan membentuk sendiri sebuah kelompok terpisah dan independen yang berasal dari, untuk dan kepada kepentingan mereka sendiri; dan bahkan bagian dari kelompok yang paling jauh inipun mempertahankan hubungan yang akrab, mutual (saling menguntungkan), mengadakan hubungan surat-menyurat dan utusan-utusan, kalangan Kristen belum berhubungan dengan kumpulan legislatif atau atasan apapun” (Ibid., 558).
Para pejabat gereja yang pertama, adalah para gembala, yang biasa disebut penatua (elder) atau penilik (bishop), dan kedua, para diaken. Mereka adalah para pelayan yang terhormat yang merupakan orang yang merdeka. Para gembala tidak memiliki otoritas yang lebih tinggi dari saudara-saudara yang lain, dan hanya karena pelayananlah, mereka memperoleh tingkat kehormatan yang baik.
Para penulis Episkopal yang kemudian, seperti Jacob dan Hatch, tidak mengambil sistim dari bentuk kepemerintahan alkitabiah yang mula-mula, namun selalu menyatakan bentuk kepemerintahan jemaat (yang mereka anut berasal dari jemaat) yang mula-mula, dan mengatakan bahwa episkopasi (kepenatuan/kepenilikan) adalah perkembangan yang kemudian. Di dalam Perjanjian Baru, penatua dan penilik merupakan nama berbeda untuk menggambarkan jabatan yang sama. Dr. Lightfoot, Penilik dari Durham, di dalam sebuah diskusi yang sangat melelahkan membahas tentang masalah ini, mengatakan:
Jelas, bahwa pada akhir Masa Kerasulan, dua golongan yang lebih rendah dari ketiga lapisan pelayanan tersebut benar-benar tidak dapat dipungkiri dan tersebar luas; namun bekas atau jejak episkopasi, demikian sebutan yang lebih pantas, sangat sedikit dan tidak jelas… Episkopasi dibentuk oleh golongan presbyterian untuk meninggikan posisi; dan gelar tersebut, yang tadinya biasa bagi semua orang, menjadi sebuah gelar
yang bergengsi yang lebih tepat dikatakan sebagai pemimpin mereka (Lightfoot, Commentary on Philippians, 180-276).
Dean Stanley menggambarkan pandangan yang serupa. Ia mengatakan :
Sesuai ketentuan jemaat (gereja) yang tegas yang berasal dari jemaat mula-mula, hanya terdapat dua golongan, yakni penilik dan diaken (Stanley, Christian Institutions, 210).
Richard B. Rackham (The Acts of the Apostles cii), AD. 1912, berpendapat mengenai kata ‘penilik’ (episcopos):
Kita bisa langsung mengatakan bahwa belum diperoleh pengertian yang pasti seperti yang tercantum di dalam surat Ignatius (tahun 115 AD), maupun pada masa kini, yakni mengenai patokan tunggal mengenai kepenilikan. Dari Kis. 20: 28, Tit. 1: 6-7, dan dibandingkan dengan 1 Tim. 3: 2f, dapat kita simpulkan bahwa episcopos (penilik) jelas adalah sebuah sinonim dari kata presbyter (penatua), dan bahwa kedua jabatan tersebut adalah identik (sama).
Knowling (The Expositors Greek Testament, II, 435-437) meninjau tulisan semua ahli, Hatch (Smith and Cheetham, Dictionary of Christian Antiquities, II, 1700), Harnack (Gebhardt and Harnack, Clement of Rome, edisi revisi, 5), Steinmetz, dsb., menyimpulkan sebagai berikut:
Perikop yang satu ini (Kis. 20: 28) juga sudah cukup untuk menunjukkan bahwa ‘presbyter’ dan ‘bishop’ pada mulanya secara praktis adalah identik (sama).
Jerome, pada akhir abad keempat, mengingatkan para penilik bahwa mereka menerima posisi yang lebih tinggi di atas para penatua, bukan karena institusi dari Allah seperti halnya dengan penggunaan posisi tersebut di dalam jemaat; karena sebelum pecah kontroversi di dalam gereja, tidak didapati adanya perbedaan di antara keduanya, kecuali bahwa presbyter (penatua) merupakan istilah yang berkenaan dengan usia, dan bishop (episcopos = penilik) merupakan istilah yang berkenaan dengan status (martabat) resminya; namun ketika manusia terdorong oleh Setan untuk mendirikan kelompok dan sekte dan bukannya hanya mengikut Kristus, kita sebut saja mereka kelompok Paulus, kelompok Apolos, atau kelompok Kefas, yang sepakat mengangkat salah seorang dari para penatua sebagai pimpinan dari penatua-penatua lainnya, sehingga di bawah pengawasan universalnya terhadap gereja-gereja, ia boleh membunuh benih-benih yang ingin memisahkan diri (Hieron. Comm. ad Tit. 1: 7). Para penulis agung dari Gereja Yunani setuju dengan Jerome di dalam mempertahankan identitas asli para penilik dan penatua seperti di dalam Perjanjian Baru. Mereka antara lain adalah Chrysostom (Hom.i. Ef. ad Fil. 1: 11); Theodoret (ad Fil. 1: 1); Ambrosiaster (ad Ef. 4: 11); dan kaum pseudo-Augustinian (Questions V et NT. qu. 101).
Terdapat dua ordinansi di dalam gereja yang sederhana pada masa itu, yakni Baptisan dan Perjamuan Tuhan. Baptisan merupakan pengakuan iman di dalam Kristus dari segi luarnya. Karena baptisan menyatakan sebuah kepercayaan di dalam kematian, penguburan dan kebangkitan Yesus Kristus, yang diikuti oleh kebangkitan semua orang percaya melalui Roh yang kekal.
Hanya orang percaya saja yang boleh dibaptis dan melalui sebuah pengakuan iman di dalam Yesus Kristus. Gereja/Jemaat terdiri atas orang-orang percaya atau orang-orang kudus. Di dalam Perjanjian Baru para anggota disebut sebagai “dikasihi Allah, yang dipanggil untuk menjadi orang-orang kudus”; dikuduskan di dalam Yesus Kristus”; “setia di dalam Kristus”; “dipilih Allah, kudus, dan dikasihi .” Syarat keanggotaan tersebut adalah pertobatan, iman, benar, dan diawali dengan baptisan yang melambangkan perubahan hidup.
Sehubungan dengan hal ini, menarik untuk dicatat bahwa semua Pengakuan Iman Pedobaptis (gereja yang melaksanakan baptisan bayi/kanak-kanak) hanya memasukkan orang-orang percaya di dalam definisi anggota jemaat yang sebenarnya. Definisi jemaat berikut ini dikutip dari Pengakuan Iman Augsburg dari Gereja Lutheran. Ia boleh dikatakan hampir mewakili yang lainnya. Pengakuan itu berbunyi:
Berbicara yang sebenarnya, bahwa gereja Kristus adalah sebuah jemaat anggota Kristus; yaitu orang-orang kudus, yang sungguh-sungguh percaya dan taat kepada Kristus sebagaimana mestinya.
Sedemikian universalnya definisi gereja ini di dalam semua Pengakuan Iman sehingga Kostlin, seorang Profesor Theologi di Halle mengatakan: “Pengakuan Reformed menggambarkan Gereja sebagai persekutuan orang-orang yang percaya atau orang-orang kudus, dan memelihara keberadaannya diatas pengajaran Firman yang murni” (Kostlin, Schaff-Herzog Religious Encyclopedia, I, 474).
Definisi di atas, diterapkan secara konsisten, tidak termasuk baptisan bayi, karena bayi belum bisa percaya, yang di dalam Perjanjian Baru selalu merupakan sebuah prasyarat untuk dibaptis. Pengajaran Perjanjian Baru sangat jelas mengenai masalah ini. Yohanes Pembaptis memberi syarat kepada mereka yang akan dibaptis agar sudah bertobat, beriman, melakukan pengakuan dosa dan hidup di dalam kehidupan yang benar (Mat. 3: 2; Kis. 19: 4). Yesus melakukan pemuridan terlebih dahulu dan kemudian membaptis mereka (Yoh. 4: 1), dan memberikan perintah khusus bahwa pengajaran harus mendahului baptisan (Mat. 28: 19). Di dalam pengajaran para rasul, pertobatan mendahului baptisan (Kis. 2: 38); para petobat dipenuhi dengan sukacita, dan hanya orang dewasa saja (laki-laki maupun wanita) yang dibaptis (Kis. 8: 6, 8, 12). Tidak ada catatan atau kesimpulan yang mengimplikasikan bahwa baptisan bayi dilakukan oleh Yesus maupun rasul-rasulnya.
Ini secara umum diakui oleh para ahli.
Dollinger, seorang ahli Katolik, Profesor di bidang Sejarah Gereja di Universitas Munich, mengatakan: “Tidak ada bukti atau tanda-tanda di dalam Perjanjian Baru bahwa para rasul membaptis bayi atau memerintahkan bayi-bayi dibaptis” (John Joseph Ignatius Dollinger, The First Age of the Church, II, 184).
Dr. Edmund de Pressence, seorang Senator Perancis dan Protestan mengatakan: “Tidak ada fakta positif yang mendukung praktek (baptisan bayi) yang dapat dikemukakan dari Perjanjian baru; bukti-bukti sejarah yang dinyatakan tidak meyakinkan” (Pressence, Early Years of Christianity, 376, London, 1870).
Banyak penulis buku yang membahas baptisan bayi akan langsung menegaskan bahwa hal tersebut tidak disebutkan di dalam Perjanjian Baru. Disini hanya akan dikutip salah satu penulis tersebut. Joh. W.F. Hofling, seorang Profesor Theologi Lutheran di Erlangen mengatakan: “Kitab Suci tidak memberikan bukti sejarah bahwa kanak-kanak dibaptis oleh para rasul” (Hofling, Das Sakrament der Taufe, 99, Erlangen, 1846, 2 vol.).
Sedikit sekali ahli pada masa kini yang akan keliru mengenai masalah ini. “Encyclopedia of Religion and Ethics” yang diedit oleh Profesor James Hastings dan Profesor Kirsopp Lake dari Universitas Leyden mengatakan: “Tidak ada indikasi baptisan bayi di dalam Perjanjian Baru”.
“Real Encyklopadia fur Protestantiche Theologie und Kirche” (XIX, 403, edisi ketiga), ensiklopedi Jerman yang hebat, mengatakan:
Praktek baptisan bayi tidak dapat dibuktikan pada masa kerasulan dan sesudah kerasulan. Kita memang sering mendengar tentang baptisan seisi rumah, seperti di dalam Kis. 16: 34; 18: 8; 1 Kor. 1: 16. Namun perikop terakhir yang dikutip, 1 Kor. 7: 14, tidak mendukung anggapan bahwa baptisan bayi adalah suatu
kebiasaan pada masa itu. Karena jika memang demikian tidak mungkin Paulus kemudian menulis “Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar”.
Kepala Sekolah Robert Rainy, New College, Edinburgh, seorang Presbyterian, mengatakan:
Baptisan mensyaratkan beberapa perintah Kristen, dan didahului dengan puasa. Ia menandakan pengampunan dosa masa lalu, dan merupakan titik balik kehidupan baru di dalam Kekristenan dan dengan inspirasi tujuan dan maksud Kristen. Ia merupakan ‘meterai’ seseorang yang tidak akan diganggu-gugat (Rainy, Ancient Catholic Church, 75).
Bentuk baptisan adalah masuk ke dalam air, atau menyelam ke dalam air. Yohanes membaptis di sungai Yordan (Mrk. 1: 5); dan ia membaptis di Ainon, dekat Salim “sebab disitu banyak air” (Yoh. 3: 23). Yesus dibaptis di sungai Yordan (Mrk. 1: 9), dan Ia “masuk ke dalam air” dan “keluar dari air” (Mat. 3: 16). Perikop-perikop simbolis (Rom. 6: 3, 4; Kol. 2: 12), yang menggambarkan baptisan sebagai sebuah penguburan dan kebangkitan yang dengan jelas menyatakan bahwa cara selam merupakan pelaksanaan baptisan Perjanjian Baru.
Istilah ini memang merupakan makna perkataan Yunani baptizein. Perkataan tersebut didefinisikan oleh Liddell dan Scott, yakni kosa kata sekuler Yunani yang digunakan di semua sekolah tinggi dan universitas, sebagai “menyelam atau di bawah air”. Seluruh pakar menyetujui pandangan ini. Prof. R.C. Jebb, Litt. D., University of Cambridge, mengatakan: “Saya tidak tahu apakah ada yang mempunyai wewenang dalam kosa kata Yunani-Inggris yang mengubah kata tersebut menjadi bermakna ‘memercik’ atau ‘menetes/mencurah/menuang’. Saya hanya bisa mengatakan bahwa pengertian tersebut bukan berasal dari kata tersebut di dalam kesusasteraan Yunani” (Letter to the Author, 23 September, 1898). Dr. Adolf Harnack, University of Berlin, mengatakan: “Tidak diragukan bahwa baptisan berarti selam. Tidak ditemukan bukti bahwa kata tersebut mempunyai arti yang lain di dalam Perjanjian Baru dan di dalam kepustakaan Kristen yang paling lamapun” (Schaff, The Teaching of the Twelve, 50).
Dr. Dosker, Profesor Sejarah Gereja dari Presbyterian Theological Seminary, Louisville, mengatakan:
Setiap sejarawan yang tulus akan mengakui bahwa kaum Baptis memiliki argumentasi yang lebih bagus, baik secara ketatabahasaan maupun sejarah mengenai bentuk baptisan yang berlaku. Kata baptizo berarti menyelam, baik di dalam kesusasteraan Yunani maupun dalam Alkitab bahasa Yunani, kecuali jika secara nyata menunjukkan pemakaian yang berubah makna (Dosker, The Dutch Anabaptists, 176, Philadelphia, 1921).
Tidak ada yang lebih pasti daripada jemaat-jemaat Perjanjian Baru yang secara seragam melaksanakan cara selam.
Selanjutnya Perjamuan Tuhan menunjukkan kematian Juruselamat sampai Ia datang kembali. Ia merupakan sebuah peringatan kekal atas tubuh yang dihancurkan dan darah yang tercurah dari Tuhan yang telah bangkit. Di dalam Alkitab, Perjamuan Tuhan selalu didahului oleh pelaksanaan baptisan, dan tidak ada catatan mengenai orang yang mengambil bagian Perjamuan yang belum dibaptis sebelumnya. Bahwa baptisan harus mendahului Perjamuan Tuhan diakui para pakar dari semua kelompok.
Dr. William Wall menyimpulkan dari seluruh bidang sejarah yang membahas masalah ini ketika mengatakan: “Karena tidak ada jemaat yang pernah melaksanakan Perjamuan kepada orang sebelum mereka dibaptis… Sebab dari semua kemustahilan yang pernah terjadi, tak satupun yang pernah mempertahankan bahwa seseorang harus mengambil bagian di dalam Perjamuan sebelum ia dibaptis” (Wall, The History of Infant Baptism, I, 632, 638, Oxford, 1862).
Kaum Baptis selalu menuntut bahwa ordinansi tersebut merupakan simbol dan bukan sakramen (alat yang menguduskan). Memang itulah inti pendirian mereka.
Presiden E.Y. Mullins secara singkat menyatakan sejarah pendirian Baptis sebagai berikut:
Mereka memandang garis besar unsur-unsur rohani Kekristenan dengan semangat dan kejernihan yang tinggi. Sama pentingnya seperti semangat dan kejernihan bentuk-bentuk yang kelihatan dari luar. Bagi mereka kelihatannya pokok kehidupan Kekristenan seakan-akan tergantung kepada bagaimana mempertahankan unsur-unsur rohani dan seremonial di tempatnya masing-masing. Tentu saja sejarah Kristen meneguhkan pandangan mereka. Bentuk-bentuk dan upacara bagaikan tangga. Kita dapat naik dan turun di atasnya. Jika kita menempatkannya sebagai simbol, maka jiwa-jiwa hidup diatas kebenaran yang disimbolkan. Jika kita mengubahnya menjadi sakramen, jiwa-jiwa kehilangan pokok kehidupannya sendiri, yaitu perjamuan rohani dengan Tuhan. Suatu upacara agama yang bersifat luar melahirkan pengertian pokoknya dari konteks dimana ia ditempatkan, dari sistim umum dimana ia membentuk bagian. Jika sebuah upacara dibentuk dalam konteks sistim kebenaran rohani, ia dapat menjadi sebuah unsur yang sangat diperlukan untuk kelangsungan kebenaran-kebenaran tersebut. Jika ia dibentuk didalam konteks sistim sakramen, ia bisa dan akan menjadi sebuah alat yang mengaburkan kebenaran dan memperhambakan jiwa. Persepsi nilai upacara sebagai simbol dan bahayanya sebagai sakramen inilah yang menjiwai kaum Baptis didalam pembelaan yang kuat terhadap penafsiran rohani atas ordinansi Kekristenan (McGlothlin, Infant Baptism Historically Considered, 7).
Gereja mula-mula merupakan badan-badan misi. Mereka diwajibkan untuk menyampaikan Amanat Agung yang diberikan Tuhan kita. Sebagai ketaatan kepada program misi yang direncanakan oleh Tuhan, murid-murid dalam beberapa generasi mengabarkan Injil kepada dunia-dunia yang dikenal.
Jemaat mula-mula pertama dibentuk oleh Yesus dan para rasulNya; dan setelah pembentukan jemaat yang pertama itu, semua jemaat (gereja) yang lain harus mencontoh jemaat tersebut. Jemaat-jemaat tersebut dibentuk untuk diteruskan di dunia ini sampai kerajaan-kerajaan di bumi ini menjadi Kerajaan Allah, digenapi di dalam Kristus. Nubuatan penuh dengan karakter Kerajaan Kristus yang kekal (Dan. 2: 44-45). Yesus menegakkan maksud yang sama di dalam jemaatNya dan menyampaikan janji tersebut kepada segala zaman. Ia berkata: “Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16: 18). Kata jemaat disini tak diragukan lagi dipakai di dalam pengertiannya yang biasa dan literal sebagai sebuah lembaga lokal; dan satu-satunya perikop dimana hanya ditemukan di dalam Matius (18: 17), sehingga harus diberi pengertian yang sama. Banyak sekali pakar yang mendukung pendapat bahwa perikop ini merujuk kepada jemaat (gereja) Kristus yang lokal dan kelihatan (Meyer, Critical and Exegetical Handbook to the Gospel of Matthew).
Pengertian kritis atas kata tersebut tidak berbeda jauh dari pengertian ini (Thayer, Greek-English Lexicon of the New Testament, 197). Kata ‘jemaat’ digunakan oleh Tuhan dan para rasul tidak begitu bertentangan dengan Theokrasi Yahudi, seperti sinagoga Yahudi, karena sinagoga selalu bersifat lokal (Cremer, Biblico-Theological Lexicon of the New Testament Greek, 330-331). Katolik Roma selalu menolak eksistensi jemaat rohani yang universal (Alzog, Universal Church History, I, 108-109). Sampai pada Reformasi Jerman praktis tidak ada pengertian jemaat yang lain. Ketika Luther dan lainnya memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma, sebuah penafsiran baru atas perikop ini diterima untuk disesuaikan dengan pandangan yang baru; sehingga mereka meyakini bahwa Matius 16: 18 hanya menunjuk kepada kemenangan akhir Kekristenan. Namun jelas penafsiran ini jauh dari yang dimaksudkan oleh Tuhan.
Paulus menyampaikan sebuah janji yang besar: “Bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin” (Ef. 3: 21). Ellicott menerjemahkan perikop ini: “Kepada semua generasi dari zaman segala zaman.” Kemuliaan Kristus akan eksis dalam segala zaman didalam jemaat. Oleh karena itu, jemaat harus eksis dalam segala zaman. Bahkan orang-orang yang ditebus di dalam surga digambarkan didalam Alkitab sebagai sebuah jemaat.
Penulis percaya bahwa di dalam setiap zaman sejak Yesus dan para rasul, telah ada kumpulan orang percaya, jemaat, yang secara substansial mempertahankan prinsip-prinsip Perjanjian Baru seperti yang kini dinyatakan oleh kaum Baptis. Tidak ada rekayasa di dalam halaman-halaman ini yang meniru warisan para penilik, seperti yang direkayasa Katolik Roma, yang menelusuri kembali ke zaman para rasul. Rekayasa tersebut adalah “bekerja di dalam api untuk kesia-siaan belaka”, dan meneruskan sebuah pandangan yang salah mengenai sifat Kerajaan Kristus, dan kedaulatan Allah yang bekerja di atas bumi. Yesus sendiri ketika menjawab permintaan kaum Farisi yang ditujukan kepadaNya (Luk. 17: 20-24), membandingkan KerajaanNya dengan kilat, memancarkan sinarnya dengan kedaulatan tertinggi yang tak tertahankan dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain. Dan gambaran ini sesuai dengan urusan Allah di dalam kerajaan rohani. Dimanapun terdapat orang-orang yang dipilih Allah, maka ketika waktuNya tiba , Ia akan mengirimkan Injil untuk menyelamatkan mereka, dan jemat-jemaat yang sesuai kehendakNya akan diatur (William Jones, The History of the Christian Church, XVII, Philadelphia, 1832).
Perjanjian Baru mengakui kesederhanaan yang demokratis, bukan sebuah monarkhi yang hirarkhis. Tidak ada kekacauan, namun yang ada adalah pernyataan prinsip-prinsip yang kekal. Tidak ada isyarat yang menyatakan tidak adanya kesinambungan jemaat, tetapi adanya kesinambungan jemaat itu sudah pasti, namun penekanan kita adalah bahwa hal ini bukan merupakan perhatian yang dominan pada masa kerasulan. Penekanan tidak diletakkan kepada suksesi baptisan, atau golongan jemaat yang berdasarkan sejarah. Beberapa rasul merupakan murid dari Yohanes Pembaptis (Yoh. 1: 35), tetapi tidak ada catatan tentang pembaptisan yang lainnya, meski mereka telah dibaptis. Paulus, sang misionari besar, dibaptis oleh Ananias (Kis. 9: 17-18), tetapi tidak diketahui siapa yang membaptis Ananias. Tidak diketahui secara pasti asal-usul jemaat di Damaskus (Damsyik). Jemaat di Antiokhia merupakan pusat misionari luar yang besar, tetapi sejarah asal-usulnya tidak diberikan dengan jelas. Jemaat Roma telah ada ketika Paulus menulis surat kepada mereka. Kebisuan terjadi di seluruh Perjanjian Baru, namun terdapat semacam pengulangan yang konstan, keteguhan kepada doktrin-doktrin fundamental, dan sebuah pernyataan prinsip. Hal tersebut menandai seluruh masa kerasulan dan untuk hal tersebut, setiap masa sejak masa tersebut mempertahankannya.
Pengulangan tersebut diakui, bahkan juga ketika kesalahan diketahui. Murid-murid ingin Yesus menegur seseorang yang bukan pengikut Tuhan (Mrk. 9: 40), tetapi Yesus menolak melakukannya. Jemaat Korintus tidak sempurna di dalam melaksanakan perintah Tuhan dan di dalam kehidupan. Para pengajar Yudaisme terus menerus menodai Injil, dan Yohanes sang Penginjil, dalam hari-hari terakhirnya, memerangi kesalahan busuk, tetapi doktrin-doktrin agung tentang karya penebusan Kristus, percaya dan pertobatan, baptisan atas orang-orang yang sudah percaya, kemurnian jemaat, pembebasan jiwa, dan jaminan atas kebenaran-kebenaran, diakui dimana-mana. Kadang-kadang prinsip-prinsip ini ditentang dan orang yang mempertahankannya dianiaya, seringkali mereka ini dikaburkan; kadang-kadang mereka didukung oleh orang-orang yang tidak terpelajar, dan pada waktu yang lain didukung oleh para lulusan universitas yang brilian, yang seringkali mencampur-adukkan kebenaran dengan spekulasi-spekulasi filosofis; namun selalu, biasanya dibawah keadaan-keadaan yang sangat bervariasi, prinsip-prinsip ini muncul ke permukaan.
Gereja (jemaat-jemaat) Baptis memiliki ikatan organisasi yang paling ramping, dan kepemerintahannya yang kuat tidak berdasarkan pemerintahan mereka. Mereka seperti sungai Rhone, yang kadang-kadang mengalir sebagai sungai yang lebar dan dalam, namun kadangkala tersembunyi di dalam pasir. Namun meskipun demikian, ia tidak pernah kehilangan kesinambungan atau eksistensinya. Ia hanya tersembunyi selama suatu masa tertentu. Jemaat Baptis bisa menghilang dan muncul lagi dengan cara yang paling tidak dapat diduga. Penganiayaan dimana-mana dengan pedang dan api, dapat menyebabkan prinsip-prinsip mereka yang hampir punah menjadi tampil lagi, ketika dengan sebuah cara yang sungguh sangat ajaib Allah membangkitkan beberapa orang, atau sekelompok martir untuk menyatakan kebenaran.
Jejak-jejak kaum Baptis yang berabad-abad dapat dengan lebih mudah ditelusuri melalui darah daripada melalui baptisan. Ia lebih merupakan sebuah silsilah penderitaan daripada sebuah suksesi penilik; sebuah prinsip kemartiran, bukan sebuah keputusan dogmatik dari majelis-majelis; sebuah penghubung
kasih emas, bukan sebuah rantai suksesi besi, yang dengan sambil berusaha menggoyang mata rantai hubungannya kembali kepada para rasul, telah mengakibatkan sejumlah kaum Baptis yang protes diikat pada tiang pembakaran daripada menyatakan kebenaran Perjanjian Baru. Meskipun demikian, adalah suksesi kerajaan yang benar, bahwa di setiap masa kaum Baptis telah mendukung kebebasan bagi semua orang, dan mempertahankan bahwa Injil Anak Allah memerdekakan setiap orang di dalam Yesus Kristus.
————————————————————-
Hasan Karman, 2005
Buku-buku untuk bacaan lebih lanjut dan rujukan:
George P. Fisher (Congregationalist), A History of the Christian Church, hal. 1-44.
Philip Schaff (Presbyterian), History of the Christian Church, Vol. 1.
John Alzog (Katolik Roma), Manual of Universal Church History, 4 volume.
Thomas J. Conant (Baptis), The Meaning and Use of Baptizein.
John T. Christian, Immersion, the Act of Christian Baptism.
Edwin Hatch, The Organization of the Early Christian Churches.
Permalink
11.18.08
Posted in Gereja at 8:30 pm by anabaptists
Kita tahu bahwa ada banyak agama di muka bumi ini, bahkan jumlahnya tak terhitung.
Pertama, ada banyak agama yang tidak memiliki kitab tertulis yang diyakini firman Allah. Allah yang berhikmat itu sanggup menulis dan Allah yang tidak sanggup menulis itu adalah Allah yang tidak berhikmat. Karena tidak memiliki kitab tertulis yang bisa dijadikan patokan pengajaran dan tuntunan kehidupan, maka tentu berakibat pada pengajaran dan kehidupan umat yang tidak menentu.
Agama yang tidak memiliki kitab tertulis itu meneruskan pengajarannya melalui mulut ke mulut, dan tentu sangat tidak standar. Tidak mungkin mendirikan doktrin yang pasti dan mantap dari cerita lisan, maka sudah tentu doktrin agama tersebut biasanya tidak jelas.
Karena doktrinnya tidak jelas maka umatnya tidak memiliki patokan pengajaran yang pasti, dan juga tidak memiliki tuntunan hidup yang pasti. Hal ini disebabkan karena umatnya bisa menulis tetapi Allahnya tidak bisa menulis. Sebenarnya tidak sulit bagi orang yang berakal sehat untuk menyimpulkan bahwa yang sedang disembah itu pasti bukan Allah yang maha tahu dan yang maha kuasa melainkan sekedar illah ciptaan oknum tertentu belaka.
Kedua, ada banyak agama yang memiliki kitab tertulis yang diyakini firman Tuhan, tetapi isinya sangat sederhana, dan sangat ketinggalan. Ada banyak kitab suci yang isinya mengandung hal-hal yang sangat konyol, yaitu yang sudah jelas-jelas bertentangan dengan fakta dan akal sehat. Sekalipun bertentangan dengan fakta dan akal sehat, namun dibela oleh umatnya mati-matian. Mereka siap membunuh orang yang berani menunjukkan kesalahan kitab mereka. Umatnya dengan leluasa menyerang kitab suci agama lain namun siap marah bahkan kalap ketika orang mencoba menunjukkan kesalahan kitab sucinya. Padahal kalau kitab yang diyakini mereka berasal dari Allah, maka biarkanlah kitab itu membela dirinya, atau biarkanlah Allah yang membela kitabNya, atau biarkanlah kebenaran itu sendiri mempertahankan dirinya.
Pendengar yang kami kasihi,
Kalau kita percaya akan keberadaan (existensi) Allah yang maha kuasa dan maha tahu yang menciptakan alam semesta, maka tentu kita percaya juga bahwa Allah tersebut adalah Allah yang penuh hikmat. HikmatNya melebihi para pendiri perusahaan, atau para pendiri negara, bahkan tentu lebih dari siapapun. Jadi kalau pendiri perusahaan tahu bahwa perusahaan memerlukan anggaran dasar, dan pendiri negara tahu bahwa negara memerlukan Undang-undang dasar, maka Allah tentu lebih tahu bahwa manusia memerlukan firman yang tertulis agar bisa dijadikannya patokan doktrin dan kehidupan.
Karena Allah ingin menyelamatkan manusia dan menuntun kehidupannya, maka Allah yang penuh hikmat dan tentu yang sanggup menulis itu berkepentingan agar umatnya memiliki firman yang tertulis.
Hanya dengan firman yang tertulislah jalan keselamatan itu pasti. Jalan keselamatan yang disampaikan secara lisan, atau melalui tradisi, dan lain sebagainya itu hanya akan menuntun manusia pada akhir yang mengerikan.
Allah pernah mendemonstrasikan bahwa Ia adalah Allah yang sanggup menulis dengan memerintahkan Musa naik ke atas bukit untuk menjemput sepuluh hukum yang ditulisNya.
Tetapi demi untuk mengecoh iblis Allah tidak menjatuhkan firmanNya dari langit atau memberikan firman yang lengkap kepada Musa, karena cara demikian pasti akan langsung ditiru oleh iblis yang akan juga memanggil hambanya dan memberikan firmannya, maka Allah memilih menggerakkan orang tertentu untuk menuliskan firmanNya. Firman Allah itu akhirnya ditulis seolah-olah itu adalah hukum, atau sejarah, atau dialok, atau surat pribadi yang berupa nasehat, dan lain sebagainya, sehingga sebelum dikanonkan iblis tidak menyadari bahwa suatu saat semua itu akan dikanonkan menjadi satu kanon firman Allah.
Setelah iblis menyadari bahwa ia membutuhkan juga kitab tertulis untuk menandingi firman Allah yang tertulis, maka ia sudah terlambat. Namun pasti iblis menganut faham lebih baik terlambat daripada sama sekali tidak, maka ia pun mulai menghasilkan kitab-kitabnya.
Allah menuliskan 39 kitab yang berisikan janjiNya untuk mengirim Juruselamat. Tiga puluh sembilan kitab ini terdiri dari tiga kelompok kitab yaitu; kitab Torah yang adalah kitab hukum, dan Kethubim yang adalah kitab bacaan, dan Nabium yang adalah kitab para nabi.
Sekalipun namanya Torah, Kethubim, dan Nabium, namun inti kitab-kitab tersebut ialah menjanjikan seorang Juruselamat lengkap dengan ciri-cirinya. Itulah sebabnya kemudian keseluruhan kitab tersebut dinamakan kitab PERJANJIAN.
Baik orang Yahudi, yaitu penerima firman, bahkan Tuhan Yesus sendiri mengakui bahwa kitab Perjanjian Lama adalah firman Allah. Tuhan Yesus dalam Luk.24:44 menunjukkan bahwa Ia tidak mengakui apokripa atau deuterokanonika sebagai firman Allah dengan hanya menunjuk Torah, Ketubhim, dan Nabium.
Sesudah Nabi Maleakhi, ada kurang lebih empat ratus tahun Allah tidak menurunkan firman atau tidak memerintahkan seorang nabi untuk menulis.
Akhirnya muncul Yohanes Pembaptis, pembuka jalan (forerunner), yang menyerukan bahwa Mesias atau Juruselamat yang dijanjikan telah tiba. Katanya, “lihatlah, Anak domba Allah yang menghapus dosa isi dunia.”
Juruselamat yang ditunjuk Yohanes, yaitu Yesus, menjalani kehidupan manusia, karena tujuan kedatanganNya ialah menyelamatkan manusia dengan menanggung dosa manusia. Hanya dengan cara demikian saja manusia bisa diselamatkan karena upah dosa ialah maut atau dosa hanya dapat diselesaikan dengan penghukuman.
Masa kehadiran Yesus di dunia adalah masa penggenapan atas semua yang telah dituliskan jauh sebelumnya di dalam kitab Perjanjian Lama. Menurut Rasul Yohanes ada banyak hal telah dikerjakan oleh Yesus, jika semuanya dituliskan maka akan terlalu banyak. Namun jika tidak dituliskan maka kita tidak tahu bahwa nubuatan kitab Perjanjian Lama tentang Juruselamat yang dijanjikan telah digenapi. Itulah sebabnya Tuhan menggerakkan para murid yang adalah saksi mata, dan penerima wahyu langsung, untuk menuliskan peristiwa yang mereka pernah saksikan dan juga menuliskan pengajaran bagi kehidupan pribadi orang percaya maupun jemaat.
Akhirnya Para Rasul menulis secara langsung, atau meminta murid mereka menulis. Namun sumber atau isinya tetap bersumber dari Rasul atau saksi mata, atau penerima langsung wahyu Allah.
Lukas memang bukan Rasul, tetapi isi Injilnya, sebagaimana dikatakannya pada beberapa ayat bagian awal, adalah hasil wawancara dengan Rasul-rasul. Demikian juga Markus, ia bukan rasul namun isi Injilnya bersumber dari Petrus.
Bagaimanakah prosesnya sehingga ada 27 kitab yang diterima ke dalam kanon firman Allah? Tentu tidak ada sebuah dewan atau suatu konsili yang berwenang menetapkan melainkan jemaat mula-mula yang penuh dengan Roh Kudus yang memutuskan untuk mereka sendiri.
Prosesnya ialah, misalnya surat Paulus untuk jemaat Korintus, itu ada di kota Korintus, dan surat Efesus ada di kota Efesus. Pada saat jemaat Korintus pergi ke Efesus mereka membaca surat Efesus dan menyalinnya dan membawa pulang ke Korintus sehingga di Korintus ada surat Korintus dan Efesus.
Melalui interaksi antar jemaat maka akhirnya perpustakaan jemaat semakin bertambah. Sangat mungkin jumlah kitab yang ada di antara jemaat-jemaat itu berbeda, tetapi yang jelas mereka tidak sembarangan menerima suatu kitab atau surat sebagai kebenaran firman Allah. Dan tercatat yang diakui adalah berkisar di antara 27 kitab yang kita miliki sekarang.
Karena Allah telah terang-terangan menunjukkan penyertaanNya terhadap Rasul-rasul, dengan memberi mereka kuasa untuk menghidupkan dan mematikan orang, maka jemaat juga yakin akan otoritas rasul. Oleh sebab itu semua kitab, atau surat yang menyandang nama atau diketahui bahwa surat itu ditulis oleh seorang Rasul atau dibacking oleh seorang Rasul, maka keabsahannya tidak diragukan sedikitpun.
Atau setidak-tidaknya, surat atau kitab tersebut telah beredar semasa seorang Rasul masih hidup sehingga rasul tersebut pernah membaca dan memberikan restu atasnya.
Kita tahu bahwa kitab Wahyu adalah kitab terakhir yang ditulis oleh Rasul yang terakhir. Kitab Wahyu adalah kitab penutup yang ditulis oleh rasul terakhir. Sesudah menulis kitab Wahyu Rasul Yohanes meninggal dan tidak ada rasul lagi.
Oleh sebab itu kitab manapun yang muncul kemudian, artinya sesudah tidak ada rasul lagi yang memberi pengesahan, maka tidak bisa diterima lagi oleh jemaat sebagai firman Tuhan.
Memang akhirnya muncul banyak kitab APOKRIPA P.B. yang menyandang nama-nama beken, misalnya Injil Petrus, Injil Thomas, Injil Barnabas dan lain sebagainya. Tulisan-tulisan itu disebut APOKRIPA, artinya muncul diam-diam, atau menyusup masuk, karena munculnya secara diam-diam. Keabsahan mereka dipertanyakan karena muncul setelah rasul-rasul tidak ada. Kalau betul-betul Injil Petrus itu adalah tulisan Petrus, atau Injil Barnabas itu tulisan Barnabas, seharusnya sudah beredar sejak penulisnya masih hidup, bukan jauh setelah penulisnya tidak ada bahkan jauh setelah Rasul terakhir yaitu Rasul Yohanes tidak ada.
Pendengar yang kami kasihi,
Jelas sekali bahwa 27 kitab Perjanjian Baru adalah kitab-kitab yang telah disahkan oleh Para Rasul dan telah diterima oleh jemaat mula-mula.
Allah telah menyelesaikan sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh manusia di muka bumi, yaitu firmanNya yang pasti. Tanpa firman tertulis, tidak ada kepastian firman Tuhan. Memang Allah berkali-kali berfirman secara lisan, baik kepada Abraham, Musa dan lain sebagainya. Tetapi kita tidak tahu apa yang dikatakan Allah jika itu tidak dituliskan dan tersimpan sampai generasi kita. Allah bahkan pernah memakai mimpi, visi, malaikat dan lain sebagainya untuk menyampaikan sesuatu kepada manusia. Tetapi semua itu bukan alat yang bisa dijadikan landasan pengajaran yang pasti, artinya yang bisa dijadikan landasan doktrin. Tidak ada anggaran dasar perusahan yang bersifat lisan, apalagi Undang-undang dasar sebuah negara.
Akhirnya dari bicara secara lisan, memakai undian, mimpi, visi, malaikat, dan lain sebagainya, Allah sampai pada pemakaian tulisan. Dan yang lebih indah lagi ialah semua tulisan yang masih terpencar itu akhirnya dikumpulkan menjadi sebuah kanon, atau sebuah alat ukur yang pasti, yang tidak boleh ditambah maupun dikurangi lagi.
Banyak orang bertanya; “apakah kebenaran Alkitab itu kebenaran yang absolut?” Jawabnya, tentu! Kalau kebenaran Alkitab itu relatif maka itu sama dengan tidak ada kebenaran. Lho, bukankah sangat tergantung pada tafsiran manusia? Ya…tafsiran manusia itu tidak absolut, tetapi kebenaran Alkitab itu absolut. Dengan kata lain, tafsiran yang paling dekat dengan Alkitablah yang paling absolut. Mari, kita bersama-sama memakai otak yang diberikan Allah kepada kita untuk merenungkan firmanNya yang absolut, agar kebenaran yang kita yakini adalah kebenaran yang absolut.
Allah memberikan kita otak untuk berpikir, dan juga memberikan kita firmanNya yang absolut untuk dipelajari dengan otak kita. Setiap orang boleh menafsirkan firman Tuhan yang absolut itu. Tentu tidak semua tafsiran itu yang dihasilkan absolut, tafsiran yang semakin dekat dengan Alkitab adalah penafsiran yang semakin absolut, karena Alkitab adalah kebenaran absolut.
Kalau Alkitab bukan kebenaran absolut, melainkan kebenaran relatif, maka itu berarti Allah tidak pernah menurunkan kebenaran, melainkan membiarkan manusia mencari serta menentukan kebenaran mereka sendiri. Kalau Alkitab bukan kebenaran absolut maka Yesus satu-satunya jalan keselamatan, juga bukan statemen yang absolut.
Memang iblis menjadi sangat takut dan gentar dengan Alkitab karena Alkitab adalah kebenaran Allah yang absolut. Karena dengan kebenaran absolut dari Allah itulah ia akan dihancurkan dengan tak berkutik.
Tetapi iblis bukan tipe oknum yang gampang menyerah. Ia berusaha keras agar manusia tidak menjadikan Alkitab kebenaran yang absolut.
Pertama, ia berusaha agar manusia menambahi kebenaran Alkitab dengan tradisi. Karena kalau manusia hanya mau berpatokan pada Alkitab saja, maka iblis kehilangan peluang untuk menanamkan pengaruhnya. Ia jugalah yang memunculkan berbagai kitab APOKRIPA untuk mengacaukan kanon, atau ukuran. Kalau ukuran kebenaran menjadi kacau, maka manusia akan kehilangan standar kebenaran serta akan semakin jauh dari kebenaran.
Saya sangat prihatin dengan teman-teman yang menyebut dirinya Kristen, namun tidak sanggup melihat usaha iblis untuk mengacaukan standar kebenaran. Semua doktrin akan kacau kalau landasan kebenarannya tidak ada kepastian. Allah telah memberikan firmanNya yang definite (pasti), namun iblis berusaha keras agar manusia berdiri, berjalan, bahkan duduk dalam firman yang indefinite (tidak pasti). Tentu kemudian mereka tergelincir, dan tidak bisa memahami doktrin yang benar atau yang alkitabiah, karena mereka telah keluar dari Alkitab.
Pendengar yang kami kasihi dalam Kristus,
Tiga puluh sembilan (39) kitab P.L. dan 27 kitab P.B. adalah satu-satunya firman Tuhan, dan di luar itu baik lisan maupun tertulis tidak ada firman Tuhan. Siapapun yang tidak memegang keyakinan demikian itu sama dengan tidak meyakini bahwa Allah telah menurunkan firmanNya yang pasti (definite). Dan kalau tidak ada firman yang pasti, maka tidak mungkin akan ada doktrin yang pasti, karena doktrin yang pasti itu harus yang disimpulkan dari firman yang pasti.
Itulah sebabnya Paulus menubuatkan dalam I Kor.13:8
bahwa Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.
Pertama, yang dimaksud pengetahuan di ayat tersebut itu jelas bukan akal sehat melainkan karunia berkata-kata dengan pengetahuan sebagaimana yang juga tertulis pada pasal 12:8. Sebab sampai di Sorga pun akal sehat kita, seperti dua tambah dua sama dengan empat, itu tidak akan lenyap.
Karunia bernubuat akan berakhir dan bahasa lidah akan berhenti itu bukan pada saat Paulus mengucapkan yang kira-kira tahun 50 an, melainkan nanti setelah Rasul Yohanes menuliskan kitab Wahyu pasal 22:21, yang kira-kira tahun 95. Memang pada saat Paulus mengirim surat I Korintus, ia menasehatkan agar jemaat Korintus mengejar karunia, dan terutama karunia bernubuat karena karunia bernubuat adalah yang paling bermanfaat sebab nubuatan itu datang dari Allah atau wahyu Allah.
Tetapi itu terjadi sebelum Allah menghentikan proses pewahyuan. Setelah wahyu terakhir, yaitu kitab Wahyu 22:21 diturunkan, yaitu ketika rasul Yohanes menuliskan amin, dan titik, maka sejak saat itu Allah tidak menurunkan wahyu lagi. Orang kristen yang berhikmat harus sanggup melihat bahwa Allah yang penuh hikmat telah menghentikan proses pewahyuan agar manusia memiliki standar firman Tuhan yang pasti. Jika Allah tidak menghentikan proses pewahyuan, maka itu berarti belum ada kepastian standar firman Tuhan.
Banyak orang tidak mengerti letak kesalahan dari mereka yang menggembar-gemborkan nubuatan masa kini. Bahkan ada yang lucu sekali, dimana di satu sisi mereka mengatakan bahwa mereka percaya bahwa Alkitab adalah satu-satunya firman Tuhan, namun disisi lain mereka percaya bahwa masih ada proses pewahyuan yang menghasilkan nubuatan.
Pada sesi yang lalu telah saya katakan bahwa sesungguhnya hanya ada dua kategori kesesatan, yaitu; Keluar dari Alkitab dan salah menafsirkan Alkitab.
Yang pertama jauh lebih gampang diidentifikasi. Siapa saja yang percaya pada EXTRA BIBLICAL AUTHORITY, baik tertulis maupun lisan, itu sudah keluar dari Alkitab.
Ada yang EXTRA BIBLICAL AUTHORITYnya berupa Deuterokanonika, tradisi, keputusan sidang ini dan itu, atau wahyu yang datang sesudah kitab Wahyu 22:21.
Extra biblical authority ini adalah penyebab utama penyesatan, atau penyebab utama terbentuknya doktrin yang tidak alkitabiah, karena doktrinnya tidak dilandaskan HANYA pada Alkitab, melainkan juga pada Extra Biblical Authority.
Oleh karena waktu, maka pada malam ini saya tidak sempat menguraikan tentang kategori kesesatan yang kedua, yaitu yang salah menafsirkan Alkitab. Selasa yang akan datang kami jadwalkan untuk membahas tentang cara menafsrian yang benar. Untuk malam ini anda telah mendapatkan penuntun sederhana namun sangat penting, yaitu bahwa yang alkitabiah itu ialah yang hanya percaya kepada Alkitab. Kekristenan model apapun, atau gereja merek apapun yang percaya pada EXTRA BIBLICAL AUTHORITY atau otoritas di luar Alkitab baik tertulis maupun lisan, maka tandailah, itu pasti kekristenan yang sesat. Perhatikan, bukan mungkin sesat tetapi pasti sesat. Tentu bukan sesat dari pengajaran Dr. Liauw, melainkan sesat dari Alkitab.
Pendengar yang saya kasihi dalam Kristus,
Kalau anda dalam kondisi sedang mempercayai Alkitab plus, entah itu plus kitab tertentu, tradisi, hasil persidangan, atau pun nubutan lisan masa kini, maka dengan rendah hati saya nasehati anda bahwa jika anda ingin masuk Sorga dan mempercayai doktrin yang alkitabiah, buanglah yang plus itu, percayalah HANYA pada Alkitab saja. Bernubuat memang dianjurkan sebagaimana tertulis dalam I Kor.14 yang ditulis sekitar tahun 50-an, tetapi itu sebelum Allah menutup firmanNya, artinya sebelum tahun 95 ketika rasul Yohanes menulis Wahyu 22:21.
Allah telah memberikan manusia firman tertulis yang standar, dokumen hitam di atas putih, yang tidak ada salah, yang berisikan pengajaran moral yang tertinggi. Kalau ada Allah, dan kalau Ia adalah Allah yang berhikmat, maka tidak mungkin Ia tidak menuliskan dan membatasi firmanNya. Sebab, jika tidak ada batasan tentang yang mana firmanNya, maka itu sama dengan tidak ada firman Allah, atau tidak ada Allah.
Pikirkanlah sobat, masuk sorga itu penting, bahkan yang terpenting. Maukah malam ini anda menyatakan kepada Allah bahwa mulai malam ini anda mau percaya bahwa hanya Alkitab saja firman Allah, dan percaya hanya kepada Alkitab saja? Amin.
(khotbah Dr. Suhento Liauw, posted by Andrew Liauw, M.Th)
Permalink
11.02.08
Posted in Gereja at 6:11 am by anabaptists
Perkataan Yesus kepada Petrus, “
Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku” telah menyebabkan badai perdebatan yang belum mereda selama berabad-abad. Gereja Katolik Roma menyatakan bahwa kata-kata ini membuktikan Petrus telah dijadikan lebih unggul daripada rasul-rasul lainnya dan penghormatan ini telah dialihkan kepada paus-paus Gereja Katolik Roma. Dan kesimpulannya, ketika berbicara tentang takhta Petrus, yaitu
ex cathedra, maka ia tidak mungkin bersalah.
Kewenangan Paus tidak lagi diterima secara serius oleh umat Katolik seperti dulu. Ketika ia berbicara mengenai keburukan Keluarga Berencana atau dosa perceraian, perkataannya sering kali tidak dihiraukan oleh banyak orang Katolik, khususnya di Amerika Serikat. Dewasa ini banyak orang yang menganggap dirinya orang-orang Katolik yang baik tidak sependapat dengan paus mengenai peran wanita di dalam gereja dan bahkan mengenai aborsi. Namun ajaran resmi Katolik Roma yang menyangkut kewenangan gereja dalam persoalan-persoalan seperti itu masih tetap berlaku.
Bagaimanakah gagasan kepausan ini muncul dan mengapa?
Suatu Permulaan
Tahun 452 SM, ketika Attila, orang Hun, memimpin pasukan berkudanya menuju Sungai Donau dengan maksud menguasai bagian barat dari Kerajaan Romawi. Serangan yang mendadak melintasi pegunungan Alpen membawanya ke Italia bagian utara. Ia bergerak terus menuju Roma sampai ia berjumpa dengan suatu delegasi Romawi, yang memohonnya untuk meninggalkan daerah itu. Ia baru saja hendak mengabaikan mereka ketika ia mendengar bahwa Leo, uskup Roma, ada diantara rombongan itu, sebagai Kerajaan Romawi. Mereka saling berhadapan, seorang raja asing dan seorang pemimpin gereja yang memerintah. Menurut beberapa sejarawan, Attila sudah memutuskan bahwa ia tak dapat meneruskan usaha penaklukannya karena memburuknya keadaan pasukannya disebabkan perjalanan kaki yang jauh. Bagaimanapun juga, ia menyetujui permintaan Leo untuk menyelamatkan ibu kota. Hal ini menjadikan Leo lebih ulung, bukan saja sebagai seorang pemimpin agama, tetapi juga sebagai seorang politikus.
Apakah sangkut-pautnya dengan perkembangan kepausan? Leo, yang dikenal dalam sejarah sebagai Leo Agung, memanfaatkan kepercayaan yang makin kuat bahwa perkataan Kristus kepada Petrus, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku,“ dapat dipakai untuk para uskup Roma. Ini memberinya keunggulan dan wewenang yang ia butuhkan untuk memerintah.
Akan tetapi, mengapakah kehormatan ini harus diberikan kepada uskup Roma? Betapapun, gereja dimulai di Yerusalem, dan jemaat-jemaat penting lainnya terdapat di tempat-tempat seperti Antiokhia di Siria dan Efesus. Namun, ingatlah bahwa Roma adalah ibukota Kerajaan Romawi. Kota ini mempunyai kekuatan dan pengaruh politik, sebuah kota tempat orang-orang percaya mula-mula mendirikan sebuah gereja Kristen yang kuat. Beberapa perkiraan menetapkan jumlah orang-orang percaya di Roma sekitar 30 ribu orang. Di barat, baik gereja maupun kotanya tidak mempunyai saingan. Lagi pula, para penulis Kristen yang mula-mula mengatakan bahwa Petrus dan Paulus telah mendirikan gereja di Roma. Lalu timbullah pemikiran bahwa uskup Roma menjadi calon pengganti rasul-rasul tersebut.
Lalu kita harus memahami sesuatu tentang struktur gereja. Uskup-uskup bermunculan diberbagai bagian yang berbeda dari negeri itu, tetapi kadangkala mereka berkumpul bersama untuk bersidang dan mendiskusikan masalah-masalah gereja. Seperti yang dapat diduga, uskup dari gereja-gereja yang lebih penting mempunyai pengaruh yang lebih besar dalam pertemuan-pertemuan tersebut. Jadi beberapa uskup mulai menjalankan kekuasaan atas daerah-daerah geografis tertentu. Gerejka-gereja yaang lebih kecil mempunyai imam yang memberi laporan kepada uskup. Dengan demikian, Roma bertambah besar kewenangan dan kekuasaannya.
Akhirnya, semua ini mencapai puncaknya. Setelah Konstantinus menjadi kaisar pada tahun 312, ia memutuskan untuk memindahkan ibukota Kerajaan Romawi ke Roma Baru, yaitu Konstantinopel, sebuah kota yang ia namakan menurut namanya sendiri. Jadi, kekuatan politik beralih dari barat ke timur (Yunani ada di Timur dan melambangkan suatu garis pemisah di antara barat dan timur). Ketika Konstantinus mengatur Konsili yang terkenal pada tahun 325, maka itu diselenggarakan di Nicea, hanya beberapa mil dari Konstantinopel.
Persaingan di antara kedua kota itu berkembang. Suatu hari Kaisar dari Konstantinopel mengadakan sidang umum, seperti yang telah dilakukan oleh Konstantinus. Akan tetapi, ia mengundang uskup-uskup dari bagian timur kerajaan sedangkan uskup Roma diabaikan. Konsili ini menyelesaikan beberapa persoalan teologis, tetapi juga menyatakan bahwa wewenang uskup Konstantinopel berada pada peringkat kedua setelah uskup Roma karena Konstantinopel adalah “Roma Baru“.
Sementara itu, di “Roma Lama“, pernyataan ini ditafsirkan sebagai suatu tantangan terhadap wewenang uskup Roma. Maka pada suatu sinode pada tahun berikutnya di Roma, uskup-uskup barat menandaskan, “Gereja Roma yang kudus harus lebih diutamakan daripada gereja-gereja lainnya, bukan berdasarkan keputusan sinode, tetapi karena kepadanya telah diberi keunggulan oleh perkataan Tuhan dan Penebus kita di dalam kitab Injil ketika Ia berkata, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku.”
Demikianlah, suasana teologis ketika Leo menjadi uskup. Secara politik, kekuasaan Roma mulai berkurang dan karena itu alasan lama mengenai keunggulan gereja Roma oleh sebab kekuasaan dan pengaruh Roma kurang berpengaruh. Tetapi ini tak menjadi soal. Sekarang Roma dapat menuntut keunggulannya berdasarkan keunggulan Petrus. Dan karena kemerosotan politis kota itu, maka uskup sanggup menjalankan kekuasaan yang lebih besar.
Leo benar-benar menyadari kedudukan tinggi yang telah ia warisi. Jadi, pada hari pelantikannya ia menegaskan bahwa jabatannya yang baru meninggikan “kemuliaan Rasul Petrus yang kudus… dalam takhtanya, kuasanya dilangsungkan dan kewenangannya bersinar.“ Kristus berjanji untuk mendirikan gereja-Nya di atas Petrus, dan inilah penggenapan perkataan-Nya. Leo adalah seorang pengkhotbah dan organisator yang baik. Ia mengambil banyak prinsip pemerintahan Romawi dan menerapkannya kepada gereja. Organisasi gereja dibakukan di seluruh kerajaan.
Meskipun Leo telah berhasil mencegah serangan Attila orang Hun, ia tidak sanggup mencegah kaum Vandal yang menyerang Roma pada tahun 455. Di pintu gerbang kota Roma, Leo bertemu dengan Gaiseric, raja orang Vandal, yang telah membawa pasukannya sampai ke sebelah utara sungai Tiber. Leo memohon belas kasihan, tetapi kaum Vandal menjarah Roma selama 14 hari. Mereka menjarah istana-istana, menahan tawanan politik dan bahkan anggota-anggota dari kaum aristokrat sebagai sandera politik. Dengan kapal-kapal yang sarat dengan harta benda dan manusia, kaum Vandal berlayar menuju Kartago.
Uskup Leo menghibur penduduk dan menaikkan ucapan syukur kepada Allah. Oleh karena ia menjadi penengah kepada raja Vandal, suatu pembunuhan masal telah dihindari dan sebagian gereja-gereja terlindungi. Ia mengajak rakyat Roma untuk mengakui bahwa Allah telah melembutkan hati kaum barbar itu. Bruce Shelley dalam penelitiannya tentang sejarah gereja mengatakan bahwa Leo tidak menyebut dirinya dan ia tidak perlu melakukannya, meskipun ia telah menyelamatkan Roma untuk kedua kalinya. “Ia telah memakai gelar kafir yang kuno Pontifex Maximus, imam besar keagamaan di seluruh kerajaan, dan semua orang mengerti bahwa Leo-lah, bukan Kaisar, yang telah memikul tanggung jawab atas kota yang kekal itu. Petrus telah mulai berkuasa.“
Setelah melompat beberapa abad ke depan, kita kembali melihat persaingan yang terjadi antara uskup Roma dan uskup Konstantinopel. Kedua bagian gereja ini berpisah semakin jauh. Berabad-abad telah berlalu sampai suatu hari pada tahun 1054, ketika suatu kebaktian akan dimulai di gereja Himat Kudus di Konstantinopel, dua orang wakil dari gereja Roma muncul dan meletakkan suatu bula paus (suatu pengumuman resmi dari paus) di atas Altar. Uskup Roma, secara resmi mengucilkan uskup Konstantinopel. Akan tetapi, uskup Konstantinopel tidak gentar. Bula itu akhirnya dibuang di jalan ketika seorang diaken gereja itu mendesak utusan dari Roma untuk membawanya kembali. Jadi blok timur dari Kekristenan memisahkan dirinya dari Roma. Peristiwa ini menjelaskan adanya Gereja Ortodoks Timur, yang menguatkan banyak ajaran agama (meskipun dengan berbagai perbedaan yang penting), tetapi menolak untuk menerima kekuasaan Paus. (bersambung).
October 10th, 2008 at 8:37 am
Permalink
« Previous entries