01.09.09

Apa yang Membuat Amerika Hebat?

Posted in Alkitab at 7:09 pm by anabaptists

MUNCULNYA SISTEM DEMOKRASI

Sejak tahun 1998, ketika mahasiswa berkumpul di gedung DPR, dan di korankoran diberitakan serta dibahas segala sesuatu tentang demokrasi, rakyat Indonesia tersentak oleh kata “demokrasi”. Kata demokrasi berasal dari kata bahasa Yunani “demos” dan “kratos” dengan arti “demos” sama dengan people atau rakyat dan “kratos” adalah rules atau memerintah, sehingga kata demokrasi berarti pemerintah oleh rakyat (Worldbook Dictionary, Thorndike Benhard).

Sebenarnya masalah demokrasi tentu sudah lama sekali populer, tetapi karena Soeharto bertindak diktator, demokrasi baru populer pada tahun 1998 ketika mahasiswa berusaha menumbangkannya. Masyarakat Indonesia baru berkenalan dengan demokrasi yang sudah lama dikenal bangsa lain. Baron de Montesquieu (1689 - 1755) telah mencetuskan sistem pemerintahan yang didasarkan pada keseimbangan kekuasaan antara eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Amerika Serikat (AS) adalah negara pertama yang mempraktekkan sistem pemerintahan demokrasi (1776) dengan sistem federasi. Kemudian pada 14 Juli 1789, terjadi revolusi yang menumbangkan raja Louis XVI di Perancis, yang kemudian dipimpin lagi oleh Jenderal Napoleon Bonaparte secara diktator.

Sejak merdeka dari Inggris (4 Juli 1776), United States of America (USA) menjadi negara demokratis pertama di muka bumi. Presiden pertama AS, George Washington, adalah orang Kristen lahir baru yang tadinya berasal dari gereja Episkopal, namun bertobat dan dibaptis ulang menjadi anggota gereja Baptis. Ia memberi contoh untuk tidak menerima pendaulatan dalam bentuk apapun untuk terus menjadi presiden. Seterusnya USA adalah negara demokrasi yang bebas dan memberi penghargaan tertinggi bagi hak asasi manusia. Terlebih lagi setelah Abraham Lincoln berhasil menghapus perbudakan pada tahun 1865.

Negara-negara di Eropa tersipu-sipu dengan sistem demokrasi di Amerika, sehingga akhirnya para raja dan ratu satu persatu merelakan terpangkasnya kekuasaan mereka untuk menjadi monarchi konstitusional, dengan raja atau ratu yang hanya sekedar lambang saja. Hanya Perancis-lah yang rakyatnya bertindak amat kasar terhadap raja Louis XVI.

Amerika Serikat (AS) adalah negara pertama di dunia yang memakai sistem demokrasi sebagai sistem pemerintahannya, dan negara pertama yang memakai sistem federasi juga. Kedua sistem ini adalah yang terbaik bagi manusia di muka bumi ini.

PENCETUS AWAL DEMOKRASI

Sebenarnya Anabaptis adalah pencetus awal sistem demokrasi, bukan Montesquieu, karena tercatat Anabaptis dari Eropa yang teraniaya melarikan diri ke benua baru yang ditemukan Columbus, sehingga menjadi masyarakat pertama di benua Amerika. Setelah dua bulan di lautan, mereka mendarat di pantai yang sekarang disebut Harbor of Provincetown pada tanggal 19 November 1620 . Sebelum mereka turun ke darat, satu persatu mereka maju ke depan untuk bersumpah dan menandatangani sebuah perjanjian (sumpah) bahwa mereka akan mematuhi hukum yang mereka buat bersama.

Dengan demikian mereka memulai sebuah masyarakat demokratis pertama di bumi, enam puluh sembilan tahun sebelum Montesquieu lahir. Perjanjian tersebut diberi nama Mayflower Compact.

Atas pimpinan kapten John Smith, mereka akhirnya pindah ke Plymouth. Pada tanggal 25 Desember, mereka berusaha membangun sebuah gedung yang mereka sebut common house dan mereka pertama hidup dengan sangat ketakutan terhadap orang-orang Indian. Di musim dingin pertama ini, separuh dari mereka yang berangkat telah meninggal dan pada akhir musim dingin, mereka dapatkan ternyata orang-orang Indian bersahabat, malah membantu mengajar mereka bercocok tanam, mengajar mereka menangkap ikan dan mengeringkannya (ikan kering / ikan asin). Mereka menjalani kehidupan dengan sangat baik bersama orang-orang Indian. Sampai musim gugur pertama, mereka telah berhasil membangun tujuh rumah dan sebuah gereja.

Pada bulan November, setelah satu tahun mereka berada di benua Amerika, datang lagi kapal dari Inggris dengan 30 orang pendatang baru. William Bradford, gubernur pertama mengajak orang-orang Indian yang berjumlah 100 orang ikut mengucap syukur kepada Tuhan atas berkatNya. Kemudian datang lagi kapal dari Inggris terus menerus dengan orang-orang yang pindah. Awalnya mereka hidup bersahabat dengan orang-orang Indian hingga datang orang-orang jahat dari Inggris yang menciptakan permusuhan dengan mereka.

DEMOKRASI & IMAN ALKITABIAH

Tidak ada satu agama pun selain kekristenan yang mengajarkan tentang demokrasi. Yudaisme mengajarkan theocracy karena memang Jehovah sedang menjadikan bangsa Yahudi sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran.

Sesungguhnya Jehovah adalah raja mereka, oleh sebab itu selama 400 tahun masa hakim-hakim, mereka tidak memiliki raja manusia karena Jehovah adalah raja mereka. Dulu Sang Pencipta memperkenalkan diriNya kepada manusia PL dengan nama Jehovah sedangkan di PB Ia memperkenalkan diriNya dengan nama Yesus.

Bahkan kekristenan yang tidak alkitabiah tidak mengerti arti demokrasi. Gereja Roma yang Am telah bertindak otoriter selama ribuan tahun. Mereka tidak mengenal, bahkan tidak menyenangi sistem demokrasi karena sistem ini akan menyebabkan manusia berpikir dan kemudian menentang mereka. Calvinist lebih lagi, John Calvin bahkan menjadi penguasa yang sangat otoriter ketika ia kebetulan berhasil menguasai kota Geneva. Siapapun yang mencoba menentangnya, bahkan sedikit tidak setuju dengannya, bisa berakhir di tiang pembakaran seperti Servetus.

Luther yang kemudian menyatukan gerejanya dengan pemerintahan Jerman tentu tidak mungkin menasehati raja Jerman untuk melucuti wewenang kerajaannya berbagi dengan rakyat jelata. Sejarah mencatat tidak ada denominasi awal yang mengerti arti demokrasi selain kelompok Anabaptis. Karena sesungguhnya demokrasi itu sepasang dengan kebebasan beriman. Itulah sebabnya baik Katolik, Calvinis, Lutheran maupun Anglikan yang melarang pihak lain menafsirkan Alkitab berbeda dengan mereka tidak mengerti arti demokrasi yang sesungguhnya.

Setelah Anabaptis di Amerika berkembang, benua baru Amerika menjadi tempat terindah bagi pencari kebebasan beriman, sehingga kerajaan Inggris menetapkan wilayah benua Amerika sebagai wilayah koloninya dan kerajaankerajaan di Eropa berlomba-lomba merebut wilayah koloni di benua Amerika. Setelah kedatangan penguasa dari Eropa, kaum Anabaptis kehilangan kebebasan mereka lagi.Kebebasan dari penjajah dan kebebasan dari intimidasi rohani, mendorong sejumlah pahlawan berjuang untuk kemerdekaan Amerika. Patrick Henry, seorang yang pernah menunggang kuda berpuluh-puluh mil untuk tampil di pengadilan membela tiga pengkhotbah Baptis yang sedang diadili, pada 23 Maret 1775, di sebuah gereja di kota Richmond menyampaikan pidato yang diakhiri dengan sebuah teriakan give me liberty or give me death. Ini menggetar hati siapapun yang mendambakan kebebasan beragama.

Gereja Episkopal/Anglikan tidak mengerti arti demokrasi atau kebebasan beragama. Demikian juga dengan gerejagereja reformasi lain, apalagi Katolik. Anabaptis-lah yang telah sungguh-sungguh mengerti arti kebebasan beragama dan demokrasi. Dan karena perjuangan kaum Anabaptis-lah Amerika Serikat menjadi sebuah negara demokratis.

DEMOKRASI / KEKRISTENAN?

Karena negara-negara Kristen baik AS maupun Eropa akhirnya menganut sistem pemerintahan demokratis, sekalipun masih dengan raja dan ratu yang bersifat seremonial, maka mereka semakin maju. Baik teknologi maupun ekonomi negara demokratis terbukti semakin maju karena ada persaingan yang sehat dan penghargaan terhadap meritrokrasi yang tinggi. Pendidikan pun semakin maju sehingga menarik imigran dari negera-negara non-Kristen. Mereka berbondong-bondong menuju negara Kristen yang demokratis dengan tetap keras kepala pada keyakinan iman mereka yang bersifat destruktif.

Dengan kehadiran imigran dari negara Amerika Latin yang mayoritasnya Katolik, terlebih lagi setelah kedatangan imigran dari negara Asia yang beragam iman, tatanan masyarakat AS yang jujur dan ramah terdistorsi. Ditambah lagi dengan semakin bertambahnya masyarakat AS yang atheis, maka sesungguhnya sistem demokrasi dan pasar bebas yang dianut tidak compatible lagi dengan komposisi masyarakatnya.

Masyarakat Asia yang beragam agama menyangka yang membuat AS hebat itu hanyalah sistem demokrasi dan pasar bebasnya. Padahal sistem demokrasi dan pasar bebas itu hanya compatible dengan kekristenan yang alkitabiah. Amerika Latin tidak bisa mentas dari kemiskinan, sebagaimana Christianto Wibisono selalu menyangka penyebabnya adalah karena mereka tidak demokratis, padahal yang benar adalah karena kekristenan di sana tidak alkitabiah sehingga tidak bisa demokratis.

Sistem demokrasi itu baik jika mayoritas masyarakatnya baik. Jika ada sepuluh orang, delapannya orang baik dan dua orang jahat, demokrasi pasti akan membawa keadaan yang baik. Tetapi jika ada delapan orang jahat, dan hanya dua orang baik, maka sistem demokrasi akan menjadi alat orang-orang jahat melaksanakan kejahatan mereka. Jadi, dengan berduyun-duyun orang dari Afrika, Timur Tengah dan Asia yang pergi ke Eropa dan Amerika sambil mempertahankan kebudayaan dan agama mereka, telah merubah tatanan masyarakat Eropa dan Amerika yang dasarnya adalah kekristenan.

Ketika penulis tinggal di AS, hampir semua supermarket hanya dijaga oleh satu orang kasir saja, yang kalau di negara dunia ketiga, pasti lebih banyak yang tidak bayar daripada yang bayar. Supermarket barang elektronik dan komputer menjanjikan satu bulan money-back guarantee tanpa alasan. Artinya jika anda tidak suka, dalam waktu 30 hari, barang boleh dikembalikan tanpa alasan. Kalau ini dilakukan di negara dunia ketiga, pasti dalam satu bulan langsung bankrut. Pada saat sesudah Natal, penulis melihat banyak orang antri di department store untuk mengembalikan atau menukar hadiah Natal yang tidak cocok ukurannya dan lain sebagainya.

Demokrasi dan pasar bebas sesungguhnya hanya cocok dengan kekristenan alkitabiah yang masyarakatnya mayoritas orang Kristen lahir baru. Kondisi AS yang semakin banyak homosex dan atheis, ditambah lagi dengan imigran dari negara non-Kristen dan dari negara Kristen KTP, tentu telah menyebabkan distorsi sistem yang seharusnya bagus menjadi malapetaka. Bisa digambarkan dengan sebuah keluarga dengan anak-anak yang rapi, baik dan sopan, tiba-tiba kedatangan anak orang lain yang numpang dan tidak tahu diri, yang kencing tidak siram, tissue dibuang sembarangan, maka suasana keluarga tersebut pasti akan kacau-balau.

Pasar yang tadinya terdiri dari pedagang jujur semakin kedatangan pedagang licik yang penuh penipuan. Pasar saham yang seharusnya dibeli oleh investor sesungguhnya belakangan digantikan dengan para spekulan bursa. Akhirnya disinyalir bahwa kekacauan di Wall Street itu disebabkan oleh short-term selling. Jelas sekali bahwa yang melakukan short-term selling itu bukan investor melainkan spekulan. Jelas masyarakat Kristen lahir baru tidak biasa dengan pedagang yang penuh penipuan. Ketika penulis masih kecil sempat menyaksikan orang kampung memasukkan tanah atau batu ke dalam gumpalan karet (kulat) supaya lebih berat timbangannya. Kini orang-orang mengoplos bensin dengan minyak tanah, mencampur beras dengan batu, mengawetkan ikan atau makanan bukan lagi dengan es tetapi dengan formalin, menambahkan melamin ke dalam susu supaya terasa lebih gurih. Semua ini tidak terpikirkan oleh orang Kristen lahir baru. Pohon tengkawang ditebang, pohon durian dikarbit supaya buahnya rontok serentak, ikan ditubah atau dibom. Semua ini merusak secara jangka panjang dan adalah hal-hal yang tidak ada di benak orang Kristen lahir baru. Kalau gerombolan DPR lebih banyak koruptor daripada idealis yang rela kelaparan demi prinsip, orang berhikmat tahu bahwa negara demokrasi demikian pasti akan semakin buruk keadaannya.

Jadi, yang membuat AS hebat itu demokrasi atau kekristenan yang alkitabiah? Jelas kekristenan yang alkitabiah yang telah menyebabkan masyarakat memilih sistem yang demokratis, dan sistem itu dengan nilai kekristenan telah bergandengan tangan menciptakan kebaikan dalam segala bidang. Kini, setelah sekian abad, iblis mengirim imigran ke AS sambil merusak masyarakat tersebut dengan memanfaatkan kebebasannya dengan mesin Hollywood. Iblis menyerang melalui bidang pendidikan sehingga semakin banyak profesor yang bukan hanya sekedar Kristen KTP, bahkan non-Kristen juga mengajar di universitas-universitas yang didirikan oleh orang-orang Kristen yang sangat mengasihi Tuhan. Mahasiswa Kristen AS tidak sanggup mempengaruhi imigran non-Kristen yang belajar di sana, melainkan mereka yang dipengaruhi sehingga semakin tidak percaya diri sebagai orang Kristen.

Oh…iblis sedang menghancurkan AS, negara yang didirikan oleh orang-orang yang mengasihi Tuhan, negara yang paling banyak mengirim misionari ke berbagai belahan bumi. Melalui krisis keuangan yang baru terjadi, iblis sedang menghancurkan AS secara ekonomi dan pasti akan membawa efek ke segala bidang. Rakyat AS yang kesulitan ekonomi akan memilih presiden yang pokoknya bisa memberikan peningkatan ekonomi, tidak masalah dia itu memegang prinsip kekristenan atau tidak. Bahkan umat agama lain pun suatu hari akan dipilih mereka jika yang bersangkutan bisa memimpin kepada kejayaan ekonomi. Herankah kita kalau anti-Kristus muncul menawarkan diri kepada dunia sebagai Economy-Champion dan dunia serta-merta menyanjungnya? Saat itulah ia akan menguasai dunia dan tidak ada yang bisa menjual atau membeli tanpa seijinnya.***

Sumber: Buletin PEDANG ROH 58, Jan-Maret 2009, DR. Suhento Liauw

“Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.” (Efesus 6:13)

12.11.08

Sejarah Alkitab

Posted in Alkitab at 4:28 pm by anabaptists


Alkitab adalah sebuah kitab yang memiliki arti yang sangat dalam bagi umat Kristen dan seluruh umat di dunia. Secara eksplisit, penjualannya mencapai angka tertinggi dan selalu berada di pasaran, tanpa mengalami perubahan jaman. Alkitab juga merupakan buku yang paling banyak diterjemahkan, yaitu 2179 dialek dan bahasa. Secara implisit, Alkitab menjadi suatu pengtatar bagi para orang percaya dan perwujudan kasih Tuhan lewat tulisan.

Namun pada kenyataannya, Alkitab menghadapi tantangan yang tidak sedikit dan perkembangannya banyak mengalami hambatan. Selain itu dilema lain yang dihadapi Alkitab adalah banyaknya orang (yang ironisnya justru orang Kristen) yang tidak dapat menerima pesan dalam Alkitab, bahkan yang lebih parahnya lagi banyak orang meragukan keontetikannya.Lewat makalah singkat ini, kami akan berusaha menyajikan sebaik mungkin mengenai serba-serbi Alkitab. Semoga makalah ini dapat menjadi berkat bagi kita semua.

1. Sejarah Alkitab
First Translation

Terjemahan pertama dari Alkitab merupakan versi oral dari Perjanjian Lama dalam bahasa Aramaic. Terjemahan bahasa Aramaic disebut Targum, yang datang dari bahasa Ibrani yang berarti terjemahan. Targum biasa dibuat untuk komunitas Yahudi kuno yang lebih banyak berbahasa Aramaic daripada Ibrani. Orang Yahudi yang hanya berbicara Aramaic tidak dapat mengerti Alkitab ketika dibacakan di Ibrani. Seorang penerjemah akan berdiri di samping pembaca di sinagoge dan menerjemahkannya untuk mereka. Mungkin sekitar tahun 100 SM, orang Yahudi menetapak terjemahan standar, yang merupakan Targum tertulis.
Orang Yahudi yang tinggal di Yunani juga membutuhkan terjemahan dari Alkitab

Para kaum terpelajar pertama-tama menerjemahkan Hukum Taurat sekitar tahun 250 SM. Menurut tradisi, 70 (atau 72) kaum terpelajar Yahudi yang bekerja di Alexandria, Mesir menerjemahkan seluruh Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani sekitar pertengahan tahun 200 SM. Terjemahan ini dikenal dengan Septuaginta, yang diambil dari bahasa Latin berarti tujuh puluh.

Sebagian besar dari orang Kristen mula-mula berbicara bahasa Yunani, dan karena itu gereja mula-mula menggunakan septuaginta yang merupakan terjemahan Perjanjian Lama. Namun kebutuhan untuk terjemahan Alkitab lainnya meningkat saat pemeluk agama Nasrani menyebar ke Syria dan ke negara berbahasa Latin. Alkitab diterjemahkan dalam bahasa Syriac dan Latin sekitar tahun 100 M.

Sekitar tahun 383 M, St Jerome memulai revisi sebuah Alkitab Latin atas permintaan Pope St Damasus I. Untuk sumber Perjanjian Lamanya, Jerome menggunakan teks Ibrani dan Yunani dan terjemahan Latin. Untuk Perjanjian Baru, dia menggunakan teks Yunani dan terjemahan Latin. Dia menyelesaikannya sekitar tahun 405 M. Terjemahannya menjadi dasar dari sebuah versi yang dikenal sebagai Vulgate, kata dari bahasa latin yang berarti populer.

Terjemahan Inggris

Sejarah Alkitab yang terjadi di Inggris merupakan gerakan dari kepemilikan dan penggunaan oleh tubuh Kristus kepada yang bukan menjadi bagian dari mereka. Sejarah Alkitab juga merupakan saksi pembentukan bahasa Inggris dari campuran bahasa Perancis, Angloe-Norman dan Anglo Saxon. Walaupun agama Kristen mencapai Inggris pada abad ke-3, Alkitab masih dalam bahasa latin dan hampir hanya berada dalam kalangan kristiani sendiri selama ratusan tahun.

Antara abad 7 dan abad 14, Alkitab sudah mulai diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Minat untuk menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris berkembang pesat pada abad ke-14, dan tahun 1382 Alkitab bahasa Inggris pertama tampil dalam sebuah manuskrip. Alkitab ini merupakan hasil kerja Toko Gerakan Reformasi Inggris john Wycliffe, dimana tujuannya adalah memberikan Alkitab kepada setiap orang.

A. Terjemahan Pada Era Reformasi

Pada tahun 1525 Tokoh Reformasi Inggris William Tyndale menerjemahkan Perjanjian baru dari terjemahan Yunani, dan salinannya dicetak di Jerman dan diedarkan di Inggris. Terjemahan Tyndale untuk Perjanjian Lama dari tulisan Ibrani hanya sebagian yang telah diselesaikan. Gaya terjemahannya juga berlanjut pada tahun 1611 (King James Version) dan juga dalam Revised Standard Version tahun 1946-1952.

Pada tahun 1535 Tokoh Reformasi Inggris Miles Converdale menerbitkan sebuah Alkitab dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan dari versi Latin dan versi Jerman untuk menambahkan versi Tyndale. Alkitab ini bukanlah alkitab Inggris pertama terlengkap yang pernah dicetak, namun tidak seperti pendahulunya alkitab ini merupakan hasil terjemahan yang diminta oleh Canterbury Convocation.
Tak lama sesudah itu seorang tokoh reformasi Inggris bernama John Rogers membuat sebuah edisi revisi dari Tyndale’s Bible, muncul pada tahun1537 yang disebut Matthew’s Bible.

Tahun 1538 seorang berkebangsaan Inggris Richard Taverner mengusulkan adanya revisi yang lain. Pada saat yang sama, Thomas Cromwell memerintahkan Converdale untuk membuat alkitab yang baru dimana tampil dalam enam edisi antara tahun1539 dan 1568. Alkitab ini disebut “The Great Bible”. Revisi akhirnya pada tahun1568 dikerjakan oleh para bishop dari Gereja Anglikan yang dikenal sebagai “The Bishop Bible”. The Bishop Bible tidak hanya dirancang untuk menggantikan the Great Bible tapi juga merupakan suatu terjemahan untuk orang-orang non Kristen. Alkitab ini diproduksi di Jenewa yang disebut dengan “The Geneva Bible”. The Bishop Bible adalah alkitab resmi yang kedua.

B. The Douay dan Versi Katolik Roma lainnya
The Douay atau Douay Rheims Bible, diselesaikan pada 1582-1609, digunakan secara umum oleh Gereja Katolik Roma dalam negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar sampai sekitar tahun 1900, ketika saat itu Alkitab tersebut dipertimbangkan direvisi oleh Bishop Inggris Richard Challoner.
The Douay Bible diterjemahkan dari bahasa latin., terutama oleh dua orang pengasingan Inggris di Perancis, William Allen dan Gregory Martin. Selama abad 19 dan 20, The Douay dan Challoner Bible ditempatkan dengan Alkitab terjemahan lain oleh gereja Katolik Roma. Di Amerika Serikat, satu yang paling banyak digunakan adalah New American Bible (1970), Alkitab bahaasa Inggris terlengkap pertama yang diterjemahkan dari bahasa Ibrani dan Yunani oleh Gereja Katolik Roma di Amerika Serikat.

C. The King James Version dan Revisinya
Tahun 1604 Raja James I menugaskan sebuah revisi yang baru untuk English Bible; yang diselesaikan tahun 1611. Mengikuti Tyndale’s Bible, versi resmi ini diakui dengan keindahan dan kesederhanaan dalam gaya bahasanya. Beberapa tahun berikutnya, versi resmi ini mengalami beberapa revisi, yang terkenal di antaranya adalah the English Revised Version (1881-1885), the American Standard Version (1901), dan revisi dari American Standard Version ditangani oleh International Council of Religious Education, mewakili 40 denomasi Prostestan di AS dan Kanada.
Versi ini dikenal dengan Revised Standard Version hadir tahun 1946-1952. Diterima dengan luas di kalangan Gereja Orthodox, Protestan, dan Gereja Katolik Roma. Selanjutnya the New Revised Standard Version (NRSV, 1989). The New King James Bible, dengan tata bahasa yang kontemporer dipublikasikan tahun 1982.

D. Terjemahan Modern lainnya

Pada paruh pertama abad ke-20, terdapat banyak terjemahan Alkitab, kebanyakan dilakukan per individu seperti: Weymouth (1903); Goodspeed dan Smith (1923-1927); Moffat (1924-1926); Phillips (1947)); dan lainnya. Kegiatan menerjemahkan ini bukanlah merupakan revisi dari versi Tyndale-King James-RSV. Yang penting diketahui diantaranya : the Jerusalem Bible, sebuah terjemahan Inggris dari hasil kerja France Dominicans; Today’s English Version (1966-1976); The New English Bible (1946); The New International Bible (1973-1979); dan the Living Bible. Sebuah terjemahan baru, disponsori oleh Jewish Publication Society of America, dipublikasikan dalam tiga bagian tahun 1962, 1974 dan 1983, disebut dengan the New Jewish Version.

Bertambahnya terjemahan-terjemahan baru merupakan saksi dari perubahan bahasa, penemuan-penemuan baru, dan terutama keinginan untuk membaca dan mengerti isi Alkitab.

2. Keajaiban-keajaiban Alkitab

Tulisan atau karangan manusia sering memperlihatkan ketidakselarasan dan kontadiksi. Buku-buku yang penulisnya lebih dari satu orang biasanya akan memuat banyak ketidaksesuaian dalam hal falsafah, fakta, gaya ataupun gagasannya.
Tidak jarang tulisan yang dibuat oleh satu orang pun akan memuat berbagai kontradiksi dalam hal maupun logika. Namun orang-orang yang telah mengabadikan dirinya untuk menyelidiki Alkitab secara terus menerus oleh keselarasan dan konsistensi pengajaran yang terdapat dalam Alkitab.

Josh Mcdowell, seorang apologis (pembela) ajaran Kristen yang terkenal, pernah diminta seseorang untuk menulis The Great Books of the Western World, tulisan-tulisan yang mengisahkan tentang tokoh-tokoh terkenal dunia Barat. Mcdowel malah balik meminta orang itu supaya menentukan 10 penulis dari latar belakang yang sama, kurun waktu yang sama, negara yang sama dan bahasa yang sama untuk membahas satu topik permasalahan yang sama. “Apakah mereka semua akan sepaham?” tanya Josh. Orang itu berkata, “Berguraukah Anda? Bukankah hal itu hanya akan menghasilkan ide-ide yang campur aduk?”

Keselarasan isi Alkitab yang menakjubkan dalam Alkitabpatut membuat kita percaya. Dari kitab Kejadian hingga kitab Wahyu, Alkitab terus-menerus memberitakan satu hal, yakni pembebasan manusia dari hutang dosanya melalui kematian yesus Kristus. Perjanjian Lama memberitakan pengharapan akan kedatangan-Nya, dan Perjanjian Baru menyampaikan penggenapan dari semua pengharapan yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama.

Kalau saja Alkitab ditulis oleh satu orang dan dalam satu kurun waktu tertentu, bukan hal istimewa kalau isinya selaras dalam semua uraiannya.
Namun renungkanlah kenyataan yang sebenarnya bahwa :
• Alkitab ditulis oleh 40 orang berbeda
• Alkitab ditulis dalam kurun waktu lebih dari 1600 tahun
• Bahasa asli Alkitab terdiri dari tiga bahasa: Ibrani, Yunani dan Aram
• Latar belakang para penulisnya pun bermacam-macam, ada nabi (Yeremia), imam (Zakharia), gembala (Amos), raja (Daud), pelayan (Nehemia), tabib (Lukas), pemungut cukai (Matius), dan orang Farisi (Paulus)
• Alkitab ditulis di tiga benua: Asia, Afrika, dan Eropa
• Jangka waktu antara penulisan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru lebih dari 400 tahun.

Meskipun demikian, ternyata isi Alkitab tetap merupakan satu kesatuan yang selaras. Bagaikan cabang, akar, batang dan daun yang merupakan bagian dari satu pohon, bagian-bagian dalam Alkitab terjalin dalam satu kesatuan isi.
Seluruhnya mengarah pada pemberitaan dan pengajaran tentang Yesus Kristus serta keselamatan yang dianugerahkan-Nya kepada manusia. Inilah buku dari segala buku. Alkitab adalah buku yang Anda dapat percayai.

Keaslian Isi Alkitab

Alkitab juga merupakan buku yang dapat dipercayai oleh karena isinya yang terjamin keasliannya. Memang tak satu pun dari naskah Alkitab yang ditulis oleh para penulis aslinya yang masih utuh sampai sekarang. Semuanya telah hilang atau rusak dimakan waktu yang berabad-abad.
Hal ini memang sering menjadi sasaran serangan orang-orang yang mempersoalkan keaslian Alkitab. Namun, kita dapat meyakini bahwa Alkitab yang ada pada kita sekarang ini terjamin keaslian isinya. Karena Alkitab telah disalin dan diterjemahkan dari naskah yang sama dengan aslinya.

Perjanjian Lama. Kitab-kitab Perjanjian Lama yang asli, sebagian besar ditulis dalam bahasa Ibrani. Kitab-kitab ini disalin atas papyrus (irisan batang semacam tumbuhan ilalang yang diproses menjadi seperti kertas) atau perkamen (kuliat binatang yang dikerjakan dan diolah menjadi lembaran yang halus sekali), jika salinan ini sudah tua atau rusak, maka akan dibuat salinan yang baru, sedangkan yang telah tua atau rusak itu dimusnahkan.

Pekerjaan ini tidaklah mudah, karena saat itu belum ada mesin fotokopi seperti sekarang ini. Semuanya harus ditulis ulang dengan tangan. Dalam hal ini para penyalin kitab benar-benar cermat mengikuti pedoman yang telah ditentukan untuk menghindari kemungkinan kesalahan dalam penyalinan tersbut.
Metode penyalinan yang telah digunakan selama berabad-abad ini, dari tahun 500-900, adalah Metode Masorit. Sistem yang dipakai para sarjana Ibrani ini adalah dengan menghitung secara teliti. Pertama-tama mereka harus menghitung semua huruf yang terdapat dalam satu halaman. Kemudian, setelah mereka selesai menyalin, mereka harus mencocokkan lagi jumlah huruf yang mereka salin.
Hal ini akan membuat mereka terhindar dari kemungkinan mengulang ataupun menghilangkan kata-kata atau baris kalimat. Kalau ternyata jumlah yang mereka hitung tidak cocok, mereka harus menghancurkan salinan yang telah mereka buat dengan susah payah itu dan memulai proses penyalinan yang baru lagi.

Namun bagaimana dengan naskah-naskah sebelum tahun 900? Pertanyaan semacam ini memang tidak akan terjawab dengan pasti sebelum ditemukannya naskah-naskah dari Laut Mati. Pada suatu hari yang panas berdebu di tahun 1947, seorang pemuda Arab melemparkan batu ke salah satu di antara ratusan goa yang terdapat di sekitar Laut Mati. Anak itu kemudian terkejut, karena terdengar bunyi pecahnya suatu benda dalam goa tersebut. Ketika ia merangkak masuk ke dalam goa untuk menyelidiki, anak itu menemukan sebuah guci yang pecah beserta naskah-naskah kuno, termasuk di dalamnya kitab Yesaya.
Dan dengan ditemukannya naskah-naskah tersebut bisa dibuktikan bahwa titak ditemukannya perbedaan antara naskah-naskah yang ditemukan di sekitar Laut mati dengan naskah-naskah yang dikerjakan oleh sarjana Masorit.

Berdasarkan bukti-bukti yang menakjubkan ini, kita tentu dapat menjadi lebih yakin bahwa Perjanjian Lama yang telah begitu cermat diselidiki dan dibuktikan keasliannya, benar-benar adalah firman Allah yang dapat dipercayai.

Perjanjian Baru. Apa yang telah dinyatakan tentang Perjanjian Lama di atas berlaku juga untuk Perjanjian Baru. Kitab-kitab Perjanjian Baru juga terlindung dari kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi selama berabad-abad, meskipun kitab-kitab ini telah disalin ribuan kali dan tersebar di gereja-gereja purba.
Dua penemuan penting terjadi lagi beberapa tahun terakhir ini, yang semakin mendukung bukti-bukti otentik naskah Perjanjian Baru. Pertama, Papyrus Perpustakaan Rylands yang berisi cuplikan Yohanes 18 yang bertanda tahun 125 sesudah Masehi. Kedua, kumpulan Papylus Chester Beatty yang berisi hampir semua kitab Perjanjian Baru dan bertanda tahun antara 200-275 sesudah Masehi. Isi Alitab yang terjamin keabsahannya ini melengkapi alasan kita untuk dapat mempercayai Alkitab.

3. Penyangkalan Terhadap Alkitab

Di pertangahan abad 17; Voltaire, salah satu dari penulis-penulis yang paling berpengaruh di masa itu, menunjukkan sebuah Alkitab di tangannya dan berkata, “Dalam 100 tahun mendatang, Kekristenan akan tersapu lenyap dan tinggal sejarah saja”. Lucunya, hanya 50 tahun setelah kematiannya.
Perkumpulan Alkitab Jenewa (Geneva Bible Society) memakai rumahnya sebagai markas besar mereka untuk mencetak dan mengedarkan Alkitab! Luar Biasa!
Yesus berkata, “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi pekataanKu tidak akan berlalu!” (Matius 24:35)

4. Relevansi Alkitab

Alkitab yang menyebutkan fakta-fakta sejarah, berkaitan dengan ilmu pengetahuan, dan menubuatkan hal-hal yang akan terjadi di masa mendatang, dapat menjadi buku yang dapat dipercaya karena memang apa yang dikatakannya tepat terbukti.

Jika sebuah buku memaparkan jalinan sejarah manusia dan wahyu Allah namun isinya tentang manusia dan dunianya saja sudah meragukan, maka apa yang dikatakan buku itu tentang Allah pun dapat diragukan.
Namun syukurlah, Alkitab ternyata telah membuktikan ketepatan tulisannya dalam hal-hal yang berkaitan dengan data-data sejarah, ilmu pengetahuan dan penggenapan nubuat-nubuatnya. Semua yang tertulis dalam alkitab terbukti tepat dan dapat dipercaya.

Alkitab menyajikan data-data yang akurat tentang sejarah hidup manusia. Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru penuh dengan nama-nama orang, tempat dan peristiwa-peristiwa nyata yang terjadi di dunia ini.
Dunia Alkitab bukanlah dunia awang-awang. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya semuanya terjadi di dunia kita ini dengan orang-orang yang seperti Anda dan saya.

Kritik-kritik tajam terhadap ketepatan data sejarah Alkitab terus dijawab oleh para arkeolog. Sebagai contoh, Perjanjian Lama menyebutkan hampir 50 kali tentang orang/bani Het. Selama berabad-abad orang-orang yang mempelajari sejarah purbakala bertanya-tanya mengenai data-data sejarah orang Het ini, karena mereka belum menemukan bukti adanya orang/bani Het itu.
Namun pada tahun 1906, kota Het ditemukan di sekitar 145 km dari timur Ankara, ibukota Turki. Injil Lukas dan Kisah Para Rasul (keduanya ditulis oleh Lukas) telah menimbulkan kekaguman para peneliti yang mencari sejumlah referensi tentang masyarakat dan tempat-tempat pada zaman orang-orang Yahudi.

Demikianlah, dapat dipercayanya Perjanjian Baru dalam hal-hal yang berhubungan dengan data-data duniawi memberi jaminan kepada kita bahwa apa ditulisnya tentang hal-hal surgawi pun dapat dipercaya.

Ketepatan Data Ilmiah Dalam Alkitab. Anda mungkin berpikir bahwa ada pemisahan antara iman dan ilmu pengetahuan. Padahal sebetulnya tidak. Konflik-konflik yang timbul di antara dua hal ini sebenarnya hanyalah akibat dari adanya kesimpulan atau pemahaman yang keliru dari orang-orang yang sebetulnya kurang mendalami baik kebenaran isi Alkitab maupun perkembangan ilmu pengetahuan.

Inti perdebatan antara iman dan ilmu pengetahuan pada dsarnya bukanlah pada aktual atau tidaknya data masing-masing, melainkan lebih pada aktual atau tidaknya kesimpulan dan pemahaman kedua pihak terhadap kebenarannya masing-masing.

Sebagai kesimpulan terakhir, Alkitab dan Ilmu Pengetahuan tidak dapat dipertentangkan. Allah yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya, dan yang mengatur segala seuatu di dunia ini adalah Allah yang sama dengan Allah ynag mengilhami Alkitab.

Satu hal nyata tentang dapat dipercayanya Alkitab adalah ketepatannya dalam hal penggenapan nubuatan yang dikatakan sebagai firman Tuhan yang berkuasa.Perhatikan rincian penggenapan nubuatan tentang Tuhan Yesus Kristus yang terdapat dalam Alkitab.

Apapun yang dinubuatkan Alkitab, semuanya pasti tergenapi. Ratusan nubuat telah terbukti digenapi secara nyata. Berdasarkan hal ini, kita boleh meyakini perkataan Alkitab mengenai hal-hal yang akan datang. Semuanya pasti tergenapi.

5. KESAKSIAN

Di tahun 1882, Panin, seorang imigran muda dari Rusia menamatkan studinya di Harvard. Ia mengalami perubahan yang mengherankan di dalam Kristus, setelah sekian lama sekian lama berkelana sebagai agnostik yang sering mempelajari atheisme! Sebagaimana seorang sarjana matematika yang brilian, dan ahli berbagai bahasa dan sastra, Panin mulai mempelajari Alkitab sebagai orang Kristen.
Dengan pengetahuan bahasa Ibrani, Aram, dan Yunani, ia mulai mempelajari Alkitab dalam bahasa aslinya. Kedua bahasa ini, Ibrani dan Yunani amat unik, sebab tak memiliki sistem angka. Jadi, mereka tak memakai simbol-simbol khusus untuk angka. Jadi, mereka tidak memakai simbol-simbol khusus untuk angka (seperti no. 1,2,3 dan seterusnya) tetapi memakai huruf-huruf untuk menyatakan angka-angkanya.

Dengan menyadari nilai-nilai angka yang terkandung dalam setiap huruf Ibrani dan Yunani (Gerika), Panin mulai bereksperimen mengganti huruf-huruf tersebut dengan nilai angkanya. Tiba-tiba saja otaknya yang telah terlatih itu melihat sebuah pola matematika dalam Alkitab.
Hasil penelitian beberapa jam telah membuatnya makin takjub. Ayat-ayat yang ditelitinya mengandung bukti suatu pola matematika yang cermat dan tak bercacat, jauh dari kemungkinan kebetulan atau kemampuan manusia untuk menyusunnya. Penemuannya itu merupakan titik balik dari karirnya. Dan mulai saat itu sampai kematiannya di tahun 1942, ia mengabadikan seluruh kehidupannya untuk meneliti sistem angka dari Alkitab.

Ia menunjukkan bahwa Alkitab dalam bahasa aslinya adalah merupakan rancangan yang sempurna dari seorang Mahapemikir Matematika-jauh di atas kemampuan manusia untuk menyusunnya. Ia memberikan lebih dari 43.000 lembar hasil penelitiannya kepada Yayasan Penelitian Nobel (Nobel Research Foundation) disertai dengan pernyataan, bahwa ini adalah bukti Alkitab sebagai firman Allah. Mereka menjawab, “Sejauh penyelidikan yang telah kami lakukan….kami menemukan bukti-bukti yang menguatkan pernyataan ini”.

Apa yang ia temukan? “Janji Tuhan adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji , tujuh kali dimurnikan dalam dapur di peleburan tanah” (Mazmur 12:7).

Panin menemukan bahwa pola-pola bilangan prima seperti 11, 13, 17, dan 23, terutama 7, ditemukan dalam berkas-berkas yang besar. Ia menjumlahkan nilai-nilai bilangan dari kata, kalimat, alinea, bait dan kitab, dan ia menemukan pola-pola yang sama dalam bentuk ini!
Ia menemukan bahwa jumlah nilai bilangan dari kata-kata habis dibagi dengan 7. Jumlah nilai bilangan dari nama-nama baik pria maupun wanita, habis dibagi dengan7. Jumlah nilai bilangan dari kata-kata yang dimulai dengan huruf vokal maupun konsonan, habis dibagi dengan 7. Jumlah nilai bilangan dari kata ulang maupun kata tunggal habis dibagi dengan7! Jumlah nilai bilangan dari kata-kata benda maupun bukan kata benda habis dibagi dengan 7. Setiap kata jumlah nilai bilangannya habis dibagi dengan 7! Mula-mula Panin mendalami hanya satu bait saja dalam waktu yang cukup lama untuk mendapatkan keteguhan bukyi statistik dari rancangan supernatural ini. Ia mengatakan, bahwa semakin kita mendalami suatu bait, semakin kita mendapat bukti lebih banyak dari pola-pola itu, sehingga pikiran kita menjadi terkagum-kagum!

BEBERAPA CONTOH

Di sini ada beberapa contoh dari Perjanjian Lama, yaitu kalimat pertama dari Alkitab,”Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”.(Kejadian 1:1). Demikianlah bunyi ayat ini dalam bahasa Indonesianya, sedangkan dalam bahasa Ibraninya, ayat ini tepat terdiri dari 7 kata. Ketujuh kata ini memiliki tepat 28 huruf (4×7). Ada 3 kata benda (Allah, langit, dan bumi), gantilah huruf-hurufnya dengan nilai-nilai bilangannya, lalu tambahkan semua hasilnya; hasilnya adalah 777 (111×7)! Kata “menciptakan” dalam bahasa Ibraninya, jumlah nilai bilangannya adalah 203 (29×7). Tiga kata yang pertama memiliki 14 huruf (2×7) demikian pula dengan 4 kata yang terakhir, memiliki 14 huruf (2×7). Kata-kata Ibrani untuk dua obyek (langit dan bumi (masing-masing memiliki 7 huruf).

6. KESIMPULAN

Tidak Ada Yang Kebetulan Dalam Alkitab. Ada satu hal dalam Alkitab yang tidak berani dilakukan oleh buku-buku lain di dunia, yaitu menubuatkan dengan tepat masa yang akan datang. Allah dapat mengatur situasi dan keadaan sejarah untuk mewujudkan nubuatan-nubuatan yang telah ditetapkan sebelum dunia dijadikan. Nubuatan-nubuatan ini dinyatakan dalam Alkitab.
Dalam kehidupan Yesus yang singkat selama 33 tahun, kita lihat lebih dari 300 nubut digenapkan. Anggapan yang menyatakan bahwa semua ini terjadi kebetulan pada satu orang adalah menggelikan. Alkitab secara khusus menubuatkan peristiwa dan kejadian yang sama aktualnya dengan yang diberitakan besok pagi.

APAKAH ORANG KRISTEN SUDAH MERUBAH ALKITAB?

Sebagian kaum Muslim menuduh orang-orang Kristen mengubah Alkitab untuk disesuaikan dengan doktrin mereka yang salah. Sekalipun tuduhan ini menjelaskan perbedaan antara Qur’an dan Alkitab, tuduhan ini tidak memiliki bukti yang kuat. Qur’an dan para sarjana sama-sama meneguhkan otentisitas Alkitab.

Qur’an memuji Alkitab

Alkitab tidak mungkin sudah diubah sebelum atau pada jaman Muhammad karena kalau itu terjadi Qur’an tidak akan memuji Alkitab: Dan Kami iringkan jejak mereka dengan Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. (Sura 5:46)

Alkitab tidak dirusak/diubah

Karena Alkitab tidak diubah sebelum atau pada jaman Muhammad, satu-satunya kesempatan lain adalah setelah kematian Muhammad.Namun bukti-bukti dari para sarjana memperlihatkan bahwa dari abad ke 7 – 21 tidak ada doktrin penting yang berbeda dari teks dalam bahasa Ibrani dan Yunani. Selain dari variasi dalam ejaan dan tata bahasa, Alkitab hari ini secara esensi tidak ada bedanya dengan Alkitab yang dipuji oleh Muhammad (Sura 3:3).

Juga ketika Muhammad dilahirkan, ribuan Alkitab sudah ada dalam berbagai bahasa yang berbeda-beda. Kalau orang Kristen mengubah Alkitab, bagaimana mereka mampu menghancurkan semua Alkitab yang sejati yang dapat mengungkapkan tipu muslihat itu?

Seseorang yang nekad untuk mengubah Alkitab kemungkinan besar akan mengubah pengajaran-pengajaran yang mendakwa dia. Kalau orang-orang Kristen benar-benar merubah Alkitab, kemungkinan mereka akan mengubah fakta-fakta mengenai keraguan Tomas, kemunafikan Petrus, dan sanksi bagi yang mengubah Firman Allah.

Yang benar adalah: Firman Allah tetap sama. “Semua firman Allah adalah murni. Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung pada-Nya. Jangan menambahi firman-Nya, supaya engkau tidak ditegur-Nya dan dianggap pendusta” (Amsal 30:5-6).

11.25.08

Jabatan Nabi dan Rasul Sudah Tidak Ada

Posted in Alkitab at 7:39 pm by anabaptists

Banyak orang Kristen mempertanyakan pertanyaan topik di atas dan jawaban yang mereka peroleh biasanya tidak tegas sehingga bukannya memberi kejelasan malahan menambah kebingungan. Akhirnya ketidakjelasan akan hal yang sangat penting ini mempengaruhi konsep kekristenan dan tentu tindak-tanduk kehidupan ibadah mereka.

Kita tahu bahwa Nabi dan Rasul menempati posisi yang sangat penting dalam proses perkembangan wahyu Allah. Melalui merekalah Alkitab ditulis, sehingga kini ada di tangan kita serta menjadi patokan doktrin kekristenan kita.

Tugas utama Nabi dan Rasul itu bukan mengadakan mujizat, melainkan sebagai dasar jemaat (Ef. 2:20). Mereka membangun jemaat melalui firman yang mereka ucapkan maupun tuliskan. Tanda dan mujizat yang mereka pertunjukkan itu sesungguhnya dimaksudkan untuk meneguhkan firman yang mereka ucapkan (Mrk.16: 20).

Mereka adalah penyalur wahyu Allah kepada manusia. Di dalam proses perkembangan wahyu, Allah pernah memakai undian, urim dan tumim, mimpi, penglihatan (visi), malaikat, Kristofani, dan nabi. Khusus untuk Nabi, selain menyampaikan firman secara lisan (bernubuat), sebagian mereka digerakkan untuk menulis (Yer. 36).

Allah pernah memakai sarana-sarana tersebut di atas untuk menyampaikan firmanNya. Tetapi firman atau pendapat Allah yang disampaikan melalui undian, urim- tumim, mimpi, visi, malaikat, bahkan nabi, yang bersifat lisan itu tidak bisa dijadikan dasar doktrin. Semua itu hanya bisa dijadikan petunjuk praktis kehidupan sehari- hari. Tanpa adanya firman tertulis yang lengkap dan sempurna, tidak mungkin ada doktrin yang benar dan sempurna karena mustahil untuk mendirikan doktrin di atas mimpi maupun nubuatan lisan. Itulah sebabnya sementara para nabi bernubuat secara lisan, Allah menggerakkan sebagian mereka untuk menuliskan wahyu yang akan dipakaiNya sebagai standar doktrin bagi jemaatNya sepanjang masa.

Sedangkan para Rasul adalah orang yang dipilih langsung oleh Tuhan. Syarat kerasulan mereka ialah melihat Tuhan (I Kor. 9:1) dan dibaptis oleh Yohanes Pembaptis (Kis.1:21-22).

Untuk syarat yang satu ini, dibaptis Yohanes, bahkan Paulus tidak memenuhinya. Hal ini sempat menimbulkan keraguan sebagian jemaat terhadap kerasulan Paulus. Tetapi Paulus dengan gigih membela jabatan kerasulannya (I Kor.9:1, II Kor.12:12, Gal.2:8).

Memang Paulus tidak ikut rombongan Yesus sejak pembaptisan Yohanes Pembaptis. Itulah sebabnya Rasul Paulus berkata bahwa kerasulannya itu bagaikan anak yang lahir sebelum waktunya (I Kor.15:8).

Namun Tuhan Yesus sendiri menampakkan diri kepadanya dan memilihnya (Kis. 9:15-16, 26:16) serta memberinya kuasa yang sama dengan rasul lain.

Perhatikan hal-hal yang tercatat di dalam Kisah Para Rasul. Sekali pun Barnabas lebih dahulu menjadi Kristen, bahkan dialah yang mengajak Paulus, namun Allah memakai Paulus untuk mengadakan mujizat, bukan Barnabas (Kis. 13:9-10, 14:8 dsb.).

Hal ini menunjukkan bahwa Allah memilih Paulus untuk jabatan Rasul bukan Barnabas. Karena persyaratan yang jelas itu maka tidak ada orang yang berani menyebut dirinya Rasul selain dua belas orang yang Tuhan pilih langsung dan Paulus.

Pembaca harus dapat membedakan kata rasul ketika dipakai untuk jabatan dan ketika itu dipakai sebagaimana arti kata itu secara umum. Barnabas pernah disebut rasul namun bukan dalam arti kata jabatan Rasul, melainkan dalam arti kata bahwa ia adalah seorang yang diutus (Kis. 14:1,4,6,18 dll.).

Dengan tegas dapat disimpulkan bahwa Tuhan tidak menambah jabatan Rasul untuk bangsa Israel, karena sebagaimana mereka terdiri dari 12 suku, Tuhan telah menetapkan 12 Rasul bagi mereka. Dan juga tidak akan ada orang yang akan dibaptis Yohanes Pembaptis karena Yohanes telah lama mati. Sedangkan Rasul untuk bangsa non-Yahudi juga telah Tuhan pilih langsung dengan penampakan diri kepadanya bagaikan bayi yang lahir sebelum waktunya. Selain menampakkan diri kepadanya, Tuhan juga melengkapinya dengan kuasa yang setara dengan Rasul-rasul lain (II Kor.12:12, Gal.2:8).

Akhirnya dengan tegas dapat kita katakan bahwa jabatan Rasul telah Tuhan hentikan hanya pada 12 orang Rasul untuk bangsa Israel dan satu Rasul yaitu Paulus untuk bangsa non-Yahudi. Selanjutnya siapapun yang menyebut dirinya Rasul, kita dapat pastikan bahwa itu bukan yang diangkat Tuhan.

Selanjutnya kita melihat bahwa dihentikannya jabatan nabi itu bersamaan dengan dihentikannya proses pewahyuan atau fenomena supranatural (nubuatan, bahasa roh) sebagaimana dinubuatkan Rasul Paulus (I Kor. 13:8-10).

Pada ayat-ayat tersebut Paulus menubuatkan bahwa nubuatan akan berakhir, bahasa roh akan berhenti dan pengetahuan akan lenyap dengan menyebut metode jika yang sempurna tiba maka yang tidak sempurna akan lenyap.

Sebelum menafsirkan kapan penggenapan nubuatan tersebut, harus diselesaikan dulu batu sandungannya, yaitu tentang ‘pengetahuan’ yang dimaksudkan Paulus. Kata ‘pengetahuan’ di situ itu bukan pengetahuan 2 + 2 = 4, melainkan karunia pengetahuan seperti yang dimaksud dalam 12:8, yaitu karunia berkata-kata dengan pengetahuan atau hikmat. Sebab kalau suatu hari kelak kita akan kehilangan pengetahuan 2 +2 = 4, maka itu sama artinya bahwa suatu hari nanti kita akan jadi orang bego. Tidak saudara, Paulus tidak memaksudkan bahwa suatu hari kita akan kehilangan akal sehat. Bahkan ketika kita sampai di Surga nanti, pengetahuan kita justru akan disempurnakan, bukan dilenyapkan.

Selanjutnya kita patut merenungkan tentang kapan nubuat, bahasa roh, dan karunia pengetahuan itu akan digantikan dengan sesuatu yang lebih sempurna. Mendapatkan kepastian melalui penafsiran yang tepat akan menolong orang Kristen memiliki konsep yang tepat dan tindakan yang tepat.

Secara umum kita lihat ada dua kemungkinan penggenapan nubuatan Rasul Paulus, yaitu setelah hari pengangkatan (Rapture) atau setelah Wahyu 22:21 ditulis. Selain dua kemungkinan tersebut saya tidak melihat ada kemungkinan lain lagi.

Setelah hari pengangkatan. Sebagian orang percaya bahwa nubuatan, bahasa roh, dan karunia pengetahuan akan berakhir pada saat Tuhan datang. Jadi bagi mereka karunia bernubuat dan berbahasa roh itu masih berlangsung sekarang sehingga mereka berusaha mengejarnya.

Konsekuensi dari penafsiran ini ialah mempercayai bahwa jabatan nabi masih tetap ada karena bernubuat itu adalah karunia utama nabi. Selanjutnya mereka akan tetap mengusahakan bahasa roh sebagai sarana penguat iman (I Kor.14:22), bukan memakai firman tertulis (Alkitab). Dan tanpa mereka sadari bahwa mempercayai penafsiran demikian itu berarti mempercayai bahwa Alkitab bukan satu-satunya firman Allah, melainkan salah satu firman Allah.

Karena masih ada nubuatan dari Allah, maka itu berarti Allah masih menurunkan wahyu, dan kalau wahyu berikut yang dari Allah itu dituliskan maka konsekuensinya tulisan itu akan setara dengan Alkitab. Bisakah anda lihat bahwa mempercayai karunia bernubuat dihentikan pada saat kedatangan Tuhan itu sama dengan mempercayai bahwa Alkitab adalah salah satu firman Allah?

Setelah Wahyu 22:21 dituliskan. Kelompok lain menafsirkan bahwa karunia bernubuat, berbahasa roh, dan berkata-kata dengan pengetahuan itu telah Tuhan hentikan sejak kitab Wahyu 22:21 dituliskan. Setelah wahyu tertulis (written word) sempurna, maka selanjutnya Allah tidak memberi wahyu tambahan lagi. Allah tidak memberikan karunia berbahasa roh karena Allah tidak memakai bahasa roh untuk meneguhkan iman lagi, melainkan dengan firman yang tertulis, yaitu Alkitab.

Alkitab, dari Kejadian 1:1 sampai Wahyu 22:21, adalah satu-satunya firman Allah. Ingat, satu-satunya, artinya di luar Alkitab tidak ada firman Allah baik lisan maupun tertulis. Alkitab adalah sarana yang sempurna sebagaimana yang dimaksudkan Rasul Paulus dalam I Korintus 13:9-10. Seturut dengan dihentikannya proses pewahyuan, maka jabatan Nabi dan Rasul, yaitu jabatan yang berfungsi menyalurkan wahyu, pun dihentikan pula.

Selanjutnya tinggallah 3 jabatan yang bertanggung jawab mengajar kan firman Tuhan yang telah mereka tuliskan, yaitu Gembala, Penginjil dan Guru (Ef. 4:11).

Gembala menggembalakan jemaat, dibantu oleh Penginjil untuk menginjili yang belum percaya dan guru untuk mengajar yang telah percaya. Penatua dan Penilik adalah nama lain dari Gembala (Lihat Kis. 20:17,28, Fil. 1:1, Titus 1:5,7).

Berarti kalau sudah ada jabatan Gembala, jangan lagi ada jabatan Penilik atau Penatua. Pilih saja salah satunya agar tidak terjadi tumpang tindih jabatan yang tidak jelas tugas dan fungsinya.

Wah. 22:21 Rapture
———————–|——————————-|————–

1. Alkitab adalah salah satu firman Allah
2. Alkitab berisi firman Allah.
3. Alkitab adalah satu-satunya firman Allah
Orang “Kristen” yang mengakui adanya firman Allah di dalam kitab-kitab lain pasti memegang statemen pertama. Orang Kristen Neo Orthodox memegang statemen kedua. Bagi mereka, tidak seluruh isi alkitab itu firman Allah, melainkan hanya yang menyentuh hati mereka ketika dibaca (yang terjadi encounter dengan mereka). Sedangkan orang Kristen Alkitabiah pasti memegang statemen ketiga.

Ketahuilah, pemegang statemen pertama adalah orang yang percaya bahwa nubuatan masih tetap berlangsung. Allah masih tetap menurunkan wahyu sampai hari pengangkatan. Sedangkan pemegang statemen ketiga adalah orang yang percaya bahwa wahyu dari Allah telah dihentikan sejak wahyu terakhir, kitab Wahyu 22:21 dituliskan. Banyak orang Kristen tidak menyadari bahwa pengakuan iman mereka itu kontradiksi jika mereka percaya pada statemen ketiga sementara itu mereka percaya juga pada nubuatan, mimpi, visi dan lain sebagainya. Sekali lagi, itu kontradiksi.

Memang Allah pernah menubuatkan bahwa Ia akan mencurahkan RohNya ke atas manusia, dan anak-anak laki-laki dan perempuan akan bernubuat (Yoel 2:28).

Namun terhadap nubuatan ini Petrus menyatakan bahwa itu telah digenapi pada hari Pentakosta. Sebagian, yaitu yang matahari menjadi gelap, akan digenapi nanti.

Sangat disayangkan dimana sebagian orang Kristen tidak menyadari bahwa Allah telah berusaha membimbing manusia dari firman yang tidak pasti (indefinite), yaitu yang disampaikan melalui undian, urim-tumim, mimpi, visi, malaikat, ucapan lisan Nabi dan Rasul, sampai kita memiliki firman yang pasti (definite), yaitu Alkitab, firman tertulis, namun masih ingin kembali kepada yang tidak pasti. Pada zaman sekarang iblis berusaha habis-habisan mengalihkan perhatian manusia dari firman yang pasti (definite), tertulis, ke firman yang tidak pasti (indefinite), yaitu fenomena supranatural.

Jika pada hari ini kita tidak memiliki firman tertulis yang pasti, melainkan hanya mengandalkan mimpi, visi dan lain sebagainya, maka kekristenan tidak memiliki doktrin yang pasti (definite). Pengajaran (doktrin) yang bagaimanakah yang dapat didasarkan pada mimpi dan nubuatan lisan? Bahkan kita patut bersyukur atas dihentikannya karunia bernubuat, penyampaian wahyu melalui mimpi dan lain sebagainya karena Alkitab telah lengkap. Seandainya Alkitab belum lengkap, artinya masih ada manuver nubuatan dan lain sebagainya, maka doktrin yang diajarkan di gereja itu bukanlah yang final, melainkan yang masih bisa direvisi melalui nubuatan berikut.

Sesungguhnya jika anda mengerti kebenaran dengan baik, anda pasti mengerti mengapa jabatan Nabi dan Rasul sudah tidak ada, dan mengapa karunia bernubuat, karunia berbahasa roh dan karunia berkata-kata dalam pengetahuan sudah ditiadakan. Allah telah meniadakannya karena telah ada firman tertulis yang sempurna di tangan kita, yang darinya dapat didirikan doktrin serta yang menjadi patokan kebenaran jemaat sepanjang masa. Siapapun yang mengatakan bahwa ia adalah rasul atau nabi, atau mendapat karunia bernubuat, atau berbahasa roh, dapat dipastikan bahwa itu bukan dari Tuhan.***

(Dr. Suhento Liauw, Rektor STT Graphe/GITS dan Gembala Gereja Baptis Independen Alkitabiah Graphe)

11.18.08

Siapakah Kristen Fundamentalis Itu?

Posted in Alkitab at 8:28 pm by anabaptists

Kebanyakan orang Kristen di Indonesia tidak mengenal Kristen Fundamentalis. Yang dikenal adalah kaum Injili, Liberal, Pantekosta, dan Reform atau Protestan. Tahun 70-an di mata sebagian orang Kristen Indonesia, yang alkitabiah adalah yang Injili sedangkan yang Liberal itu salah tanpa pengertian.

Tahun 80-an setelah Stephen Tong mendirikan Reform, sebagian orang
Indonesia yang kurang informasi berpikir yang berbau Reform itulah
yang alkitabiah. Sesungguhnya siapakah Fundamentalis, Liberal,
Injili, dll. itu? Apakah ada perbedaannya jika kita menjadi salah
satu dari mereka? Ikutilah nasehat Yakobus, “tetapi apabila di antara
kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada
Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan
dengan tidak membangkit-bangkit (tidak menegur), maka hal itu akan
diberikan kepadanya (1:5).

Sejak zaman renaissance, setelah kekristenan pernah dikagetkan oleh
kesesatan Gereja Roma Katolik (GRK) yang sangat parah, ada kehausan
akan kebenaran yang alkitabiah. Pada saat itu muncul kelompok
puritant, dan berbagai kelompok yang tendensi theologisnya adalah
menuju ke kebenaran Alkitab yang murni. Semua yang dikatakan Alkitab
diyakini sebagai kebenaran absolut. Inilah KRISTEN FUNDAMENTALIS itu.

Tetapi pada akhir abad ke-19, muncul kelompok yang tidak lagi percaya
bahwa Alkitab adalah kebenaran absolut yang tidak ada salah. Fenomena
yang terhebat adalah terbitnya Alkitab bahasa Yunani Critical Text
oleh Brooke Foss Westcott (Bishop Gereja Anglican) dan John Anthony
Hort pada tahun 1881, yang isinya penuh kesalahan tetapi diyakini
sebagai yang lebih tepat. Menurut pengeditnya kesalahan memang pada
sang penulis (Matius, Paulus dll.), bukan masalah mutu manuskrip yang
mereka jadikan patokan. Sejak saat itu Liberalisme yaitu “sikap tidak
mempercayai Alkitab sebagai kebenaran absolut yang tidak ada salah”
melanda Eropa. Angin itu bertiup kencang dan yang pertama kali
ditumbangkan adalah para theolog Jerman.

Adu argumentasi yang tidak ada habis-habisnya antara kelompok
FUNDAMENTALIS dan LIBERAL terus berlanjut dan makin hari makin
sengit. Tahun 1909, dua orang kaya membiayai sebuah komisi yang
diketuai oleh beberapa orang dan terakhir oleh R.A.Torrey, menyusun
argumentasi mewakili kelompok FUNDAMENTALIS terhadap LIBERAL,
menghasilkan 12 volume buku yang berjudul The Fundamentals. (Buku ini
ada di STT GRAPHE). Pada saat itu oleh kedua orang kaya itu dicetak
300,000 set dan dibagi secara gratis kepada pengkhotbah siapa saja
yang menginginkannya. Peperangan doktrin tentu semakin seru dan bukan
hanya di Eropa dan Amerika melainkan juga hingga di ladang misi.

Tahun 1947, Harold Ockenga, Rektor pertama Fuller Theological
Seminary, mendirikan kelompok yang ia sebut INJILI, katanya untuk
menjembatani kelompok Fundamental dengan Liberal. Sejak saat itu
muncullah kelompok INJILI yang memposisikan diri di tengah-tengah.
Karena posisinya di tengah, maka kadang ia seperti Fundamental dan
kadang ia seperti Liberal (berubah-ubah warna seperti bunglon).
Kelompok Injili ini maju pesat karena didukung oleh Billy Graham yang
pada saat itu sudah sangat tergiur untuk menjadi mashyur. Selain itu
juga didukung oleh Carl F.H. Henry, yang mendirikan majalah
Christianity Today pada tahun 1955. Kelompok ini berkembang terutama
disebabkan oleh sikapnya yang seperti bunglon. Ia bisa diterima oleh
semua kelompok karena fleksibilitasnya yang tinggi.

Sementara itu Gerakan Kharismatik dimulai pada tahun 1886. Seorang
Pendeta Baptis yang bernama Richard G. Spurling dari Cokercreek,
Tennessee, merasa tidak puas dengan organisasi gerejanya sehingga ia
keluar dan berusaha mendirikan gereja sendiri. Setelah ia keluar, ia
memimpin sebuah kebangunan rohani yang disertai bahasa lidah.
Kemudian ia berhasil mendirikan gereja yang disebut Church of God
(Sidang Jemaat Allah). Tahun 1898 Charles F. Parham, yang dipanggil
bapak Gerakan Pentakosta Modern, mendirikan rumah penyembuhan Betel.
Kemudian tahun 1900 dia juga mendirikan Betel Bible College di
Topeka, Kansas. Sekolah Alkitab inilah yang dengan efektif
menyebarkan gerakan kharismatik bersama semua kelompoknya yang
percaya masih ada wahyu tambahan sesudah Alkitab (Wahyu 22:21).

Kesalahan terbesar kelompok ini ialah mengejar Extra Biblical
Authority (otoritas di luar Alkitab), yaitu mimpi, bahasa lidah,
nubuatan dan berbagai fenomenon. Mereka percaya Allah masih
menurunkan wahyu sesudah Wahyu 22:21. Dengan demikian berarti mereka
tidak percaya bahwa Alkitab adalah satu-satunya firman Allah. Mereka
tidak percaya bahwa diluar Alkitab tidak ada firman Allah baik
tertulis maupun lisan.

Kelompok Reform atau Presbyterian adalah kelompok yang dimulai oleh
John Calvin. Kelompok Refrom dan Lutheran bisa dilihat sebagai
kelompok yang sama yaitu kelompok Protestan karena kedua-duanya
melakukan protes dan keluar dari GRK dalam waktu yang hampi
bersamaan, atau setidaknya dalam suasana yang sama. Pada awal
reformasi hampir semua theolog Reform maupun Lutheran berpandangan
fundamental. Tetapi fakta menunjukan bahwa di Eropa dan Amerika
kelompok Lutheran dan Reform adalah yang paling cepat menjadi
Liberal. Boleh dikatakan bahwa Liberalisme itu muncul dari Lutheran
dan Reform. Mengapa?

Penyebab sebegitu lemahnya kelompok Reform dan Lutheran dalam
menghadapi godaan penyesatan itu sangat mungkin karena mereka hanya
mereformasi Doktrin Keselamatan (soteriology) tanpa mereformasi
Doktrin Gereja (Ecclesiology). Padahal kesesatan Doktrin Keselamatan
GRK itu dikarenakan kesesatan Doktrin Gerejanya. Tetapi baik Calvin
maupun Luther sama-sama masih tetap memungut banyak tradisi GRK
misalnya baptisan bayi dan baptisan percik serta sistem tata-ibadah
yang memakai Liturgi.

Baptisan percik sekalipun salah tetapi tidak sebahaya baptisan bayi
(pedo-baptism). Baptisan bayi menyebabkan orang yang belum lahir baru
menjadi anggota gereja sejak bayi dan bertumbuh sebagai anggota
gereja. Kalau semua orang telah menjadi anggota gereja melalui
kelahiran jasmani atau Kristen keturunan, tentu pasti suatu hari
gereja akan dipimpin oleh orang yang belum lahir baru, dan sekolah
theologi akan menghasilkan banyak theolog tanpa lahir baru (theolog
Kristen keturunan).

Sesuai dengan berjalannya waktu, makin hari akan makin banyak theolog
atau pemimpin gereja Reform, Lutheran dan Anglikan (episkopal), atau
yang membaptis bayi, yang menjadi Liberal.

Kelompok Baptis terhitung sebagai kelompok yang memiliki resistensi
tinggi terhadap Liberalisme. Kelihatannya rahasianya adalah tradisi
anna-baptist yang menjadi sokoh-gurunya. Tradisi Anna-baptist telah
berumur dua ribuan tahun. Sejak gereja dirusak dengan sistem Katolik
(universal/Am), sekelompok orang yang tidak rela membiarkan gereja
dirusak dari dalam, memisahkan diri. Mereka mempertahankan kemurnian
kekristenan sambil mengorbankan segala-galanya.

Gereja Roma Katolik sangat membenci mereka karena mereka membaptis
ulang orang dari GRK yang bertobat. Mereka diburu lebih dari memburu
binatang. Dan junmlah mereka yang telah dibunuh tidak sanggup
dihitung. Bahkan pada masa reformasi, mereka juga dibunuh oleh para
reformator, terutama Zwingli. Para reformator menganiaya anna-baptist
itu karena anna-baptist berkata bahwa mereka masih belum benar
sehingga orang Protestan yang mau bergabung dengan anna-baptist
diminta dibaptis ulang. Atas hal ini para reformator bukannya sadar
atas kesalahan mereka, malah tersinggung dan membunuh banyak anna-
baptis. John Bunyan, penulis buku Perjalanan Seorang Musafir,
dipenjarakan oleh gereja Anglikan selama 12 tahun, hingga meninggal,
hanya karena ia mengkhotbahkan pengajaran yang bertentangan dengan
gereja Anglikan, yaitu tidak oleh membaptis bayi dan gereja harus
dipisahkan dari negara. Setelah kebebasan beragama dijamin baik di
Eropa maupun di Amerika, anna-baptist keluar dan mendirikan gereja
yang bernama BAPTIS.

Akhirnya, kelompok gereja Baptislah yang kuat mempertahankan
Fundamentalisme, yaitu sikap mempertahankan Alkitab tanpa kompromi.
Namun demikian pada abad 20 ini banyak juga gereja Baptis yang
terhanyut oleh badai liberalisme. Terlebih lagi di Indonesia, dimana
banyak gereja Baptis kehilangan hakekat inti jati dirinya. Namun
kalau theolog Baptis saja terhanyut, anda bisa bayangkan apa yang
terjadi dengan kelompok lain, terutama yang tidak mereformasi Doktrin
Gerejanya.

Fundamentalis tentu bukan hanya orang Baptis saja. Dari kelompok lain
juga ada, cuma lebih banyak dari kelompok Baptis terutama baptis
yang alkitabiah. Bob Jones, Sr. pendiri Bob Jones University adalah
pendekar Fundamentalis dari gereja Methodis. Dr. Timothy Tow di
singapore adalah Fundamentalis dari gereja Presbytarian, dll.

Menurut hemat saya, tidak ada kelompok Kharismatik yang tergolong ke
dalam fundamentalis karena tidak mungkin benar untuk percaya bahwa
Alkitab satu-satunya firman Allah sambil mempercayai adanya wahyu
tambahan di luar Alkitab. Mereka tidak sadar bahwa dengan mempercayai
adanya nubuatan sesudah Alkitab selesai, itu artinya percaya bahwa
ada firman Allah di luar Alkitab. Biasanya mereka akan dengan lugu
berargumentasi bahwa I Kor.14:1 suruh bernubuat, tanpa menyadari
bahwa pada saat surat itu ditulis Alkitab belum final, atau Wahyu
22:21 belum ditulis.

Di Indonesia, Kristen Fundamentalis hampir tidak pernah dikenal. Dr.
Rod Bell, Sr. (ketua Fundamental Baptist Fellowship) bahkan berkata
kepada Dr. Suhento Liauw, “kalau nama Fundamentalis tidak harum di
negara anda, pakai istilah lain saja.” Tetapi Dr. Liauw tetap memakai
istilah Fundamentalis dan mempopulerkan istilah Kristen Fundamentalis
karena percaya bahwa orang-orang di Indonesia sudah cukup pintar dan
pasti dapat membedakan dan tahu bahwa Fundamentalis Kristen itu
adalah yang sangat teguh berpegang pada Alkitab, dan kalau seseorang
sangat teguh berpegang pada Alkitab itu pasti tidak mungkin menculik
orang seperti yang dilakukan Abu Sayaf. Justru karena sangat memegang
teguh Alkitablah kaum Fundamentalis telah dianiaya sepanjang masa
oleh berbagai kelompok yang tersinggung oleh ketegasan mereka.

Sepulang dari USA, Saya memperkenalkan Kristen Fundamentalis yang
berpegang teguh pada Alkitab. Alkitab adalah kebenaran firman Tuhan
yang absolut. Diluar Alkitab tidak ada firman Tuhan baik lisan maupun
tertulis. Orang Kristen lahir baru harus memiliki kerinduan untuk
mematuhi Alkitab apapun resikonya. Inilah seruan Dr. Liauw diantara
begitu banyak prinsip yang diperjuangkan oleh kaum Fundamentalis.

Tidak ada maksud untuk menyinggung pihak manapun, melainkan hanya
dengan tanpa rasa takut mengungkapkan kebenaran. Dan jika kebenaran
itu ternyata membuat sebagian orang tersinggung, yang dapat kami
katakan hanyalah “mohon maaf, yang sebesar-besarnya.” Itu adalah
pendapat kami. Apakah mengemukakan pendapat itu sebuah kesalahan?
Apakah ada negara yang melarang orang berpendapat? Kalau memakai akal
sehat, seharusnya tidak ada.

Siapakah Kristen Fundamentalis?
Orang yang hanya percaya kepada Alkitab dan memegang teguh Alkitab
tanpa kompromi, berapapun harga yang harus dibayar untuk itu.

Oleh: Dr. Suhento Liauw
Rektor GRAPHE INTERNATIONAL THEOLOGICAL SEMINARY (GITS)
Gembala Gereja Baptis Independen Alkitabiah (GBIA) GRAPHE

11.11.08

Mengapa Kita Percaya Alkitab?

Posted in Alkitab at 8:48 pm by anabaptists

1. Kejujurannya
2. Ketahanannya
3. Pernyataannya Mengenai Dirinya Sendiri
4. Mukjizatnya
5. Kesatuannya
6. Keakuratannya dari Segi Sejarah dan Geografi
7. Rekomendasi dari Kristus
8. Keakuratan Ramalannya
9. Keberlangsungannya
10. Kuasanya untuk Mengubah Hidup Manusia

1. KEJUJURANNYA

Alkitab sungguh jujur. Alkitab memperlihatkan Yakub, bapak dari “bangsa
pilihan,” sebagai seorang penipu. Alkitab juga menggambarkan Musa, sang pemberi
Hukum Taurat, sebagai seorang pemimpin yang merasa tidak aman dan keras kepala,
yang dalam usaha pertamanya untuk menolong bangsanya sendiri, membunuh seorang
laki-laki dan kemudian lari menyelamatkan diri ke padang gurun. Alkitab
menggambarkan Daud bukan hanya sebagai raja yang paling dikasihi, panglima
perang, dan pemimpin rohani, tetapi juga sebagai orang yang mengambil isteri
orang lain dan kemudian, untuk menutupi dosanya, bersekongkol untuk membunuh
sang suami. Pada satu sisi, Kitab Suci pernah menilai bahwa umat Allah, bangsa
Israel, begitu buruk sehingga Sodom dan Gomora tampak baik bila dibandingkan
dengan mereka. {.Yeh 16:46-52} Alkitab memperlihatkan bahwa sifat
alamiah manusia memusuhi Allah. Alkitab memprediksikan masa depan yang penuh
dengan masalah. Alkitab mengajarkan bahwa jalan ke Surga sempit dan jalan ke
Neraka lebar. Jelaslah, Kitab Suci ini tidak ditulis untuk mereka yang hanya
menginginkan jawaban sederhana atau pandangan terhadap agama dan manusia yang
ringan dan serba optimis.

2. KETAHANANNYA

Ketika negara Israel yang modern muncul kembali setelah ribuan tahun orang
Israel tercerai-berai, seorang gembala Beduin menemukan satu dari harta karun
arkeologis yang paling penting di zaman ini. Dalam sebuah gua di tepi Barat Daya
Laut Mati, di dalam sebuah buli-buli yang pecah ditemukan dokumen-dokumen yang
telah disembunyikan selama dua ribu tahun. Temuan-temuan tambahan menghasilkan
salinan-salinan naskah yang umurnya seribu tahun lebih tua dari salinan-salinan
tertua yang diketemukan sebelumnya. Satu dari yang paling penting adalah salinan
kitab Yesaya. Isinya ternyata sama dengan kitab Yesaya yang ada di Alkitab kita.
Gulungan-gulungan naskah Laut Mati itu muncul dari debu bagaikan jabatan tangan
yang bersifat simbolik untuk mengucapkan selamat datang kepada bangsa Israel
yang baru kembali ke tanah airnya. Gulungan-gulungan itu menyingkirkan pendapat
dari sebagian orang yang mengatakan bahwa Alkitab yang asli sudah hilang
ditelan waktu dan sudah rusak.

3. PERNYATAANNYA MENGENAI DIRINYA SENDIRI

Apa yang dikatakan Alkitab tentang dirinya sendiri adalah hal yang penting untuk
diketahui. Jika para penulis Kitab Suci sendiri tidak pernah mengklaim bahwa
mereka berbicara bagi Allah, tentunya kita berbuat lancang jika kita membuat
klaim itu bagi mereka. Mungkin kita juga akan menghadapi persoalan lain. Kita
mungkin akan menghadapi sejumlah misteri yang tidak terpecahkan, yang terkandung
di dalam tulisan yang bersifat historis dan etis. Dan kita tidak akan mempunyai
sebuah buku yang telah mengilhami munculnya sinagoga dan gereja yang tidak
terhitung jumlahnya di seluruh dunia. Suatu Alkitab yang tidak mengklaim bahwa
ia berbicara atas nama Allah tentunya tidak akan menjadi fondasi bagi iman
ratusan juta orang Yahudi dan Kristen (.2Pe 1:16-21). Namun, dengan
didukung oleh bukti dan argumentasi yang cukup, para penulis Alkitab telah
mengklaim bahwa mereka diilhami oleh Allah. Berhubung jutaan orang telah
mempertaruhkan kehidupan mereka saat ini dan saat kekekalan pada klaim-klaim
itu, Alkitab bukanlah buku yang baik jika para penulisnya berbohong secara
konsisten tentang sumber informasi mereka.

4. MUKJIZATNYA

Peristiwa keluarnya Israel dari Mesir memberikan dasar historis untuk
mempercayai bahwa Allah telah menyatakan Diri-Nya sendiri kepada Israel.
Seandainya Laut Merah tidak terbelah sebagaimana yang diceritakan Musa,
Perjanjian Lama kehilangan otoritasnya untuk berbicara atas nama Allah. Demikian
pula Perjanjian Baru juga bergantung pada mukjizat. Seandainya Yesus secara
badani tidak bangkit dari kematian, Rasul Paulus mengatakan bahwa iman Kristen
didirikan di atas kebohongan. (.1Ko 15:14-17) Untuk memperlihatkan
kredibilitasnya, Perjanjian Baru menyebutkan saksi-saksinya, dan ini
dilakukannya di dalam kerangka-waktu yang memungkinkan klaim-klaim itu diuji
kebenarannya. (.1Ko 15:1-8) Banyak dari para saksi itu akhirnya mati
sebagai martir, bukan untuk membela keyakinan moral atau rohani yang abstrak
tetapi untuk klaim mereka bahwa Yesus telah bangkit dari kematian. Memang mati
sebagai martir bukan hal aneh, namun tetaplah penting untuk menyadari apa yang
menyebabkan mereka rela kehilangan nyawanya. Banyak orang rela mati untuk
sesuatu yang mereka percaya sebagai kebenaran. Dan tidak ada yang rela mati
untuk sesuatu yang mereka tahu sebagai kebohongan.

5. KESATUANNYA

Empat puluh pengarang yang berbeda menulis 66 kitab dalam Alkitab selama lebih
dari 1.600 tahun. Empat ratus tahun yang hening memisahkan 39 kitab Perjanjian
Lama dari 27 kitab Perjanjian Baru. Namun demikian, dari Kejadian sampai Wahyu,
semua kitab menceritakan satu cerita yang utuh. Bersama-sama mereka memberikan
jawaban yang konsisten terhadap pertanyaan-pertanyaan terpenting yang dapat kita
tanyakan: Mengapa kita di sini? Bagaimana kita dapat mengatasi rasa takut?
Bagaimana kita dapat berhasil? Bagaimana kita bisa bangkit dari keadaan kita
yang buruk dan tetap berpengharapan? Bagaimana kita dapat berdamai dengan
Pencipta kita? Jawaban-jawaban Alkitab yang konsisten terhadap pertanyaan-pertanyaan
ini memper lihatkan bahwa Kitab Suci bukanlah banyak buku melainkan satu buku.

6. KEAKURATANNYA DARI SEGI SEJARAH DAN GEOGRAFI

Selama berabad-abad banyak orang meragukan keakuratan Alkitab dari segi sejarah
dan geografi. Namun para arkeolog modern berulang-ulang telah menggali dan
menemukan bukti mengenai orang-orang, tempat-tempat, dan kebudayaan-kebudayaan
yang digambarkan dalam Kitab Suci. Dari waktu ke waktu, deskripsi dalam Alkitab
telah dibuktikan sebagai catatan yang lebih dapat diandalkan daripada spekulasi
para ahli. Turis masa kini yang mengunjungi musium dan tempat-tempat yang
dilukiskan di Alkitab mau tak mau sangat terkesan dengan latarbelakang geografis
dan historis dari teks Alkitab yang ternyata riil.

7. REKOMENDASI DARI KRISTUS

Banyak orang telah mengatakan hal yang baik mengenai Alkitab, tetapi tidak ada
yang memberi rekomendasi sekuat yang diberikan Yesus dari Nazaret. Ia
merekomendasikan Alkitab bukan hanya dengan ucapan-Nya tetapi juga dengan
kehidupan-Nya. Pada saat-saat pencobaan-Nya, pengajaran di hadapan orang banyak,
dan penderitaan-Nya, Yesus dengan jelas memperlihatkan bahwa Ia mempercayai
Kitab Suci Perjanjian Lama lebih dari sekadar tradisi nasional.

(Mat 4:1-11; 5:17-19) Yesus percaya bahwa Alkitab adalah buku tentang
Diri-Nya sendiri. Kepada orang-orang senegeri-Nya Ia berkata, “Kamu menyelidiki
Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa olehnya kamu mempunyai hidup yang
kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku,
namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.” (.Yoh 5:39-40)

8. KEAKURATAN RAMALANNYA

Dari zaman Musa, Alkitab telah meramalkan peristiwa-peristiwa yang tak seorang
pun ingin mempercayainya. Sebelum Israel masuk ke Tanah Perjanjian, Musa
meramalkan bahwa Israel akan tidak setia, bahwa Israel akan kehilangan tanah
yang Allah berikan kepadanya, dan bahwa Israel akan tercerai-berai ke seluruh
dunia, dikumpulkan kembali, dan kemudian dibangun kembali (.Ula 28-31).
Pusat dari ramalan Perjanjian Lama adalah janji tentang Mesias yang akan
menyelamatkan umat Allah dari dosa-dosa mereka dan pada akhirnya membawa
penghakiman dan kedamaian bagi seluruh dunia.

9. KEBERLANGSUNGANNYA

Kitab-kitab Musa ditulis 500 tahun sebelum kitab-kitab Hindu yang paling awal.
Musa menulis kitab Kejadian 2.000 tahun sebelum Muhammad menulis Quran. Selama
masa yang panjang itu, tak ada buku yang dikasihi atau dibenci seperti Alkitab.
Tak ada buku yang secara konsisten telah dibeli, dipelajari, dan dikutip seperti
Alkitab. Sementara jutaan judul-judul lain muncul dan tenggelam, Alkitab tetap
merupakan buku yang menjadi ukuran bagi buku-buku lain. Sekalipun sering
diabaikan oleh orang yang merasa tak nyaman dengan ajaran-ajarannya, Alkitab
tetap merupakan buku utama dari peradaban Barat.

10. KUASANYA UNTUK MENGUBAH HIDUP MANUSIA

Orang yang tidak percaya sering menunjuk kepada mereka yang mengatakan bahwa
mereka percaya Alkitab tetapi hidupnya tidak berubah. Tetapi sejarah juga
ditandai oleh mereka yang kehidupannya menjadi lebih baik oleh karena buku ini.
Sepuluh Perintah Allah telah menjadi sumber pengarahan moral bagi banyak orang
yang tak terhitung jumlahnya. Mazmur-mazmur Daud telah memberikan kekuatan pada
waktu kesulitan dan kehilangan. Khotbah Yesus di Bukit telah menjadi obat bagi
jutaan orang untuk mengatasi kesombongan dan sikap legalisme. Uraian Paulus
mengenai Kasih di .1Kor 13 telah banyak melunakkan hati yang sedang marah.
Perubahan hidup dari orang-orang seperti Rasul Paulus, Agustinus, Martin Luther,
John Newton, Leo Tolstoy, dan C.S. Lewis menunjukkan perubahan yang dapat
dilakukan Alkitab. Bahkan satu bangsa atau suku seperti Celtic di Irlandia,
Viking yang liar di Norwegia, atau Indian Auka di Equador telah diubah oleh
Firman Allah dan kehidupan serta karya Yesus Kristus yang tak terbandingkan.

ANDA TIDAK SENDIRIAN jika Anda masih meragukan Alkitab. Alkitab, sama
seperti dunia di sekitar kita, memang mengandung unsur-unsur misteri. Namun
demikian, jika Alkitab benar-benar seperti yang dikatakannya, Anda tidak perlu
memilah-milah sendiri bukti-bukti yang ada. Yesus justru menjanjikan pertolongan
ilahi bagi mereka yang ingin mengenal kebenaran tentang diri-Nya dan ajaran-Nya.
Sebagai tokoh utama dari Perjanjian Baru, Yesus berkata, “Barangsiapa mau
melakukan kehendak Allah, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah,
entah aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri.” (.Yoh 7:17)

Satu kunci penting untuk mengerti Alkitab adalah bahwa Alkitab tidak pernah
bermaksud untuk menarik kita kepada dirinya sendiri. Setiap prinsip di dalam
Alkitab memperlihatkan kebutuhan kita akan pengampunan yang disediakan Kristus
bagi kita. Alkitab memperlihatkan mengapa kita perlu membiarkan Roh Kudus hidup
melalui kita. Untuk hubungan yang seperti inilah Alkitab diberikan kepada kita.

© 2000-2004 RBC Ministries Asia, Ltd.

« Previous entries