12.20.08
Posted in Keselamatan at 10:46 am by anabaptists
Untuk menarik pembeli, para pengecer biasanya memasang beraneka ragam iklan baik di media cetak maupun di media TV.Tujuan pemasangan iklan ialah agar pembeli datang dan membeli sehingga penjual mendapat keuntungan. Kalau ternyata tidak ada keuntungan maka pasti akan dipikirkan cara lain.
Cara lain yang lazim selain sekedar iklan ialah mengumunkan discount besar-besaran. Dengan program discount biasanya pembeli bisa membludak hingga penjual kewalahan untuk melayani.
Lalu, bagaimana kalau Injil didiscount biar orang yang datang mendengarkannya juga ramai membludak?
Ada banyak kesamaan antara menawarkan (bukan menjual) sesuatu dengan memberitakan Injil. Tetapi jelas ada banyak perbedaan yang sangat prinsipil dalam menjual sesuatu dengan memberitakan Injil. Banyak orang Kristen yang bergelut di dunia bisnis tidak mencoba merenungkan persamaan dan perbedaannya sehingga sebagian dengan tanpa pertimbangan menerapkan sistem berbisnis dalam pemberitaan Injil. Padahal jelas persamaannya lebih sedikit daripada perbedaannya.
Selanjutnya marilah kita membahas persamaan dan perbedaan antara berbisnis dengan memberitakan Injil.
1. Menawarkan Bukan Memaksa.
Persamaan antara penjual dengan pemberita Injil ialah kedua-duanya adalah sebuah pekerjaan yang bersifat menawarkan sesuatu.Penjual yang baik sebagaimana pemberita Injil berusaha hanya sampai pada batas menawarkan bukan memaksa orang membeli atau menerima tawarannya.
Kekristenan yang alkitabiah tidak memaksa orang menerima Injil, bahkan tidak setuju dengan Kristen keturunan. Semua orang yang mau menjadi Kristen harus melalui keputusan kesadarannya. Anak orang Kristen diajar pada waktu kecil dan setelah ia akil balik, ia tetap harus ditawarkan Injil untuk diputuskannya sendiri.
2. Menawarkan Sesuatu Yang Dibutuhkan
Walau sesederhana apapun barang yang diperdagangkan, penjualnya melakukan itu karena ia yakin barangnya dibutuhkan atau berguna. Lebih lagi Injil yang disampaikan oleh seorang pemberita Injil. Ia harus yakin bahwa Injil yang diberitakannya itu sangat dibutuhkan pendengarnya.
Selanjutnya tentu ada perbedaan yang sangat besar antara berbisnis dengan memberitakan Injil.
1. Satu Mencari Keuntungan & Satu Memberi Dengan Cuma-cuma
Tidak dapat dipungkiri bahwa semua bisnis bermotivasi mencari keuntungan. Sekalipun sudah dijual dengan harga obral, toh masih dipikirkan segi untung-ruginya. Setidaknya pemilik akan memakai falsafah lebih baik rugi sedikit daripada harus rugi banyak.Tetapi pemberitaan Injil bukan dimotivasi oleh keuntungan materi. Yang dipikirkan oleh pemberita Injil ialah jiwa yang bisa diselamatkannya.
Untuk itu tidak boleh melihat faktor untung-rugi secara materi didalam pemberitaan Injil ke sebuah daerah, atau memulai sebuah jemaat di suatu lokasi. Usaha pemberitaan Injil itu pasti rugi secara materi bahkan bisa kehilangan nyawa. Oleh sebab itu sikap alkitabiah di dalam mendirikan jemaat itu bukan berlomba mendirikan jemaat yang lebih besar, dan dana gereja mana yang lebih banyak dan lain sebagainya yang materialistis.
2. Satu Bersifat Materi & Satu Rohani
Pusat orientasi bisnis ialah meraup keuntungan materi sebanyak-banyaknya. Sedangkan pusat orientasi penginjilan ialah menyelamatkan orang dari Neraka sebanyak-banyaknya.
Di mata seorang pelaku bisnis hanya ada uang, dan mengukur segala sesuatu dengan jumlah materi. Menempatkan posisi kehormatan seseorang dari level kekayaannya. Sering kita mendengar orang berkata, Aorang-orang di situ bukan level dia,@ maksudnya tingkat kekayaan merekajauh berbeda.
Sementara itu di mata seorang pemberita Injil itu hanya ada jiwa yang akan terhilang dan yang telah diselamatkan. Dan nilai jiwa itu jauh sekali di atas materi. Seorang pemberita Injil memang masih memerlukan materi tetapi bukan seorang yang terpengaruh oleh materi apalagi tergantung pada materi.
* Kesimpulan kita ialah bahwa ada perbedaan yang besar antara berbisnis dengan memberitakan Injil. Oleh sebab itu tidak dapat dibenarkan untuk menerapkan metode, falsafah berbisnis ke dalam tindakan pemberitaan Injil.
Kalau untuk menghabiskan stock pebisnis mengobral dagangannya dengan discount besar-besaran, Injil tidak boleh diperlakukan demikian. Nilai Injil atau substansi Injil itu tidak boleh dikurangi sedikitpun.
Yesus Kristus adalah satu-satunya Juruselamat, tidak bisa didiscount menjadi salah satu. Di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang melaluinya kita bisa diselamatkan. Dari Adam hingga manusia terakhir kalau mau masuk Sorga ia harus percaya kepada Yesus. Mengapa?
Yesus menanggung dosa isi dunia (Yoh.1:29, I Yoh.2:2, Ibr.2:9), itu jangan didiscount menjadi hanya menanggung dosa orang pilihan saja. Karena dosa seisi dunia telah ditanggung, maka siapapun yang percaya kepada Yesus, semua dosanya akan diperhitungkan Allah telah tertanggung (I Tim.4:10, Rom.8:1). Yang tidak percaya itu diperhitungkan sebagai yang tidak menerima tawaran anugerah dari Allah. Pokoknya Injil tidak boleh didiscount seperti pakaian dll.
Juga tidak boleh ditambah harganya dengan perbuatan baik, baptisan, kerajinan ibadah dan lain sebagainya. Tindakan itu sama dengan perbuatan korupsi karena harganya dari Tuhan sudah ditetapkan. Perbuatan baik, baptisan, kerajinan beribadah itu dilakukan sesudah seseorang diselamatkan bukan untuk diselamatkan.
Kalau barang dagangan di Supermarket didiscount itu akan menguntungkan pembeli. Tetapi kalau Injil didiscount, maka penerimanya akan masuk ke Neraka.
Oleh sebab itu pembaca, tolong periksa Injil yang telah anda terima, apakah harga sesuai dengan ketetapan Tuhan. Saya sangat kuatir, jangan-jangan didiscount atau dinaikkan harganya oleh Asalesmen@ gadungan yang tidak terdaftar di buku induk Tuhan (www.graphe-ministry.org).
Permalink
Posted in Keselamatan at 10:42 am by anabaptists
Pada saat Paulus menulis bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus (I Kor.12:3), itu benar. Pada saat itu nama Yesus bukanlah nama yang bisa mendatangkan keuntungan materi, melainkan malapetaka bagi yang menyebutnya. Terlebih lagi ketika pemerintah melancarkan penganiayaan yang intensif terhadap pengikut Yesus.
Dan Tuhan Yesus pernah berkata, Abarangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita@ (Mrk.9:40). Ungkapan ini biasanya ditafsirkan sebagai patokan untuk menilai siapa musuh dan siapa teman. Seolah-olah setiap orang yang tidak melawan kekristenan secara aktif adalah teman kita.
Namun bagaimanakah jika kita pertimbangkan juga ayat-ayat seperti, “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang (Mat.24:4-5). Ternyata menurut ayat ini, si penyesat itu bukan hanya berani menyebut Yesus itu Tuhan bahkan ia berani berkata bahwa ia sendiri adalah Yesus Tuhan itu.
Dengan adanya ayat-ayat tersebut di atas, orang Kristen harus berhikmat dalam menafsirkannya. Pertama, padaI Kor.12:3 tidak dikatakan bahwa hal itu akan berlaku sepanjang masa. Kita bisa mengatakan demikian karena pada Injil Matius 24:4-5, Tuhan mengatakan bahwa pada akhir zaman penyesat akan memakai namaNya. Ia bukan hanya berani menyebut-nyebut Yesus itu Tuhan seperti dalam Mat.7:21, bahkan hingga menyebut dirinya Mesias dan Tuhan. Untuk situasi normal dan situasi pada umumnya Mrk.9:40-lah yang masuk akal. Sedangkan Mat.24:5 itu situasi khusus misalnya oleh penyusup atau seorang agen rahasia musuh.
Bahkan bisa jadi juga justru setelah iblis membaca tulisan Paulus tersebut ia langsung mendapat ilham untuk menipu orang Kristen lugu dengan menyebut-nyebut Yesus adalah Tuhan agar orang Kristen bisa menerimanya sehingga penyusupan berlangsung dengan mulus.
Ketika saya mengatakan bahwa sekarang ada banyak Anabi@ palsu yang memakai nama Yesus mengusir iblis, seseorang langsung protes, Abagaimana mungkin, karena Tuhan Yesus berkata bahwa kalau iblis mengusir iblis maka kerajaannya akan hancur.@ Saya menjawabnya, Abetul, jika pengusirannyaadalah sungguhan. Tetapi bagaimana kalau mereka bersandiwara agar anda percaya bahwa yang mengusir itu dari Tuhan padahal itu tetap dari iblis juga?@
Banyak orang Kristen bersikap terlalu lugu. Mereka tidak mempertimbangkan sama sekali aspek penyusupan, padahal Tuhan sudah wanti-wanti bahwa akan ada banyak serigala yang berbulu domba. Orang Kristen harus waspada, kalau ada pemimpin agama lain menjadi Kristen, jangan gembira dulu, sebab bisa jadi itu adalah sebuah penyusupan.
Kenalkah anda seorang agen rahasia terhebat di dunia? Namanya Cohen, orang Yahudi yang diselundupkan sebagai agen rahasia ke Syria. (Silakan baca buku Mossad: Agen rahasia Israel). Dari semua orang di Syria, Cohen adalah orang yang paling berkobar-kobar mau menghancurkan Israel. Sampai-sampai presiden Syria (Hafez Al Assad) hampir mengangkatnya menjadi Menhan. Hal demikian bisa terjadi tentu karena kecerobohan orang-orang Syria dan kehebatan Cohen dalam berpura-pura.
Dalam sejarah kekristenan, telah berkali-kali terbukti bahwa kekristenan justru makin kuat ketika digempur dari luar. Gempuran dari luar tidak akan efektif jika tidak diikuti pelemahan dari dalam. Pelemahan bisa terjadi kalau pihak musuh berhasil melakukan penyusupan.
Pada saat perang teluk sedang berlangsung, pasti tidak ada rakyat Amerika yang akan berkata Aterkutuklah George Bush!@ secara normatif ini benar karena George Bush adalah presiden mereka. Tetapi tentu tidak termasuk orang-orang yang sedang dipersiapkan untuk menjadi agen rahasia ke Irak.Calon agen rahasia atau mereka yang sedang menjalankan tugas penyusupan akan bertindak sangat militan dalam mengutuki George Bush demi mendapatkan simpati serta kepercayaan dari pihak musuh.
Kesimpulan sementara kita ialah orang Kristen jangan terlalu lugu atau tak berhikmat sehingga masuk perangkap iblis melalui ayat-ayat Alkitab yang bersifat normatif. Ingat, iblis pernah beradu argumentasi dengan Tuhan Yesus memakai ayat-ayat Alkitab. Memang benar ada ayat Alkitab yang mengatakan demikian namun perhatikan juga ayat Alkitab lain yang menjelaskan batasannya.
Menurunkan Standar &Melecehkan Pendidikan
Alkitab mencatat berkali-kali aktivitas iblis dalam ikut memberitakan Injil.Dalam Kis.8:19, iblis pernah menawarkan uang kepada Petrus agar ia bisa diberi wewenang menumpangkan tangan atas orang dan lain sebagainya. Iblis melalui Simon ingin menyusup masuk ke dalam pelayanan Filipus yang telah menghasilkan banyak petobat. Iblis tahu bahwa jika saja ia bisa menyusup ke dalam pelayanan Filipus, maka pelayanan Filipus bisa dihambat dari dalam.
Rasul Petrus dengan tegas menolak menurunkan standar tuntutan seorang pelayan Tuhan. Ketika standar untuk menjadi seorang pelayan Firman betul-betul ditegakkan, maka bukan tidak mungkin, tetapi pasti akan jauh lebih sulit bagi iblis untuk menyusupkan agennya. Itulah sebabnya langkah pertama yang diusahakan iblis ialah menghasut agar standar syarat bagi penyampai firman diturunkan.
Belum lama ini saya dikagetkan oleh selembar brosur dengan nama pembicara seorang pengusaha yang didepan namanya ada huruf AEv@. Mungkin ia memang pintar, punya banyak gelar, tetapi menjabat sebuah jabatan gereja yang berfungsi sebagai penyampai firman itu seharusnya tidak seenaknya.
Karena ia adalah seorang pengusaha kaya maka secepatnya ia direkrut agar bisa tetap bergabung. Kelihatannya ada unsur menjadikan jabatan gereja sebagai alat untuk menarik orang atau memancing orang. Sebenarnya kalau pengusaha tersebut berhikmat, ia segera harus tahu bahwa mereka memancingnya dengan jabatan dan justru itulah ia seharusnya segera meninggalkan kelompok itu karena di situ banyak dipratekkan taktik akal bulus atau tipu muslihat.
Namun juga bisa saja sebaliknya, dimana iblis memang sedang dalam program menyelundupkan orang-orangnya yang tidak mengerti doktrin ke dalam gereja. Dengan orang demikian ia akan merubah gereja menjadi semacam perusahaan sehingga semua tata-cara baik cara menyelenggarakan gereja maupun cara memberitakan Injil akan diubah menurut sistem manajemen perusahaan.
Belakangan ini kita sering mendengar lelucon disekitar gelar pendidikan theologi. S.Th dipelesetkan dengan sudah tinggi hati. M.Th. diplesetkan dengan makin tinggi hati dan lain sebagainya. Ada pengkhotbah yang berkata bahwa ia tidak perlu sekolah theologi atau ia tidak perlu gelar sekolah theologi dengan maksud supaya dianggap rohani.
Sesungguhnya terlepas dari orang memakainya sebagai suatu faktor kesombongan, pendidikan theologi itu sangat perlu. Siapa bilang bahwa Petrus tidak sekolah theologi? Mereka sekolah theologi selama kurang lebih tiga setengah tahun, siang malam dengan seorang MAHA GURU.Tiga setengah tahun siang malam itu setingkat dengan strata tiga atau doktor.
Rasul Paulus menyadari bahwa murid-muridnya tidak cukup dengan hanya bisa berteriak-teriak Ahalelluyah@ sehingga ia mengajar mereka di ruang kuliah Tiranus dua tahun (mungkin siang malam) yang berarti setingkat sarjana.
Ketika penyampai firman berlomba untuk menjadi siapa yang lebih bodoh, atau siapa yang lebih tidak berpendidikan, maka celakalah kekristenan. Anda bisa bayangkan bagaimana jemaat mendengarkan pengkhotbah yang bahasa Indonesianya berlepotan. Sementara ia menafsirkan Alkitab, kita harus berusaha keras untuk menafsirkan maksud ucapannya yang tidak tersusun dengan baik. Atau pengkhotbah yang tidak tahu Kanada itu terletak di benua Amerika atau Eropa.
Tidak dapat disangkal bahwa semakin terpelajar seorang penyampai firman, maka akan semakin sistematis dan gampang dimengerti firman yang disampaikannya. Belum lagi isi firman yang diuraikannya yang tentu adalah hasil penggaliannya. Tentu di sekolah theologi yang baik seseorang akan dilengkapi dengan metode penafsiran Alkitab yang bagus. Dengan metode penafsiran yang bagus dan ditambah lagi dengan penguasaan bahasa asli Alkitab serta berbagai bahasa pengantar, maka akan membedakan antara penyampai firman yang emosional dengan yang terpelajar.
Yang saya maksudkan dengan terpelajar itu tentu bukan di depan dan belakang namanya penuh dengan huruf-huruf singkatan, karena sekarang sudah bukan rahasia lagi kalau ada doktor lima ribu dollar dan lain sebagainya. Jika seorang penyampai firman belajar dengan tekun dan kemudian pihak sekolah memberinya sebuah ijazah atau titel, itu adalah hal yang pantas. Saya pernah mendengar seorang penyampai firman berkata bahwa ia tidak perlu titel. Tetapi anehnya ia mau menerima ijazah SMUnya. Kalau ia tidak membutuhkan bukti jenjang pendidikan, ya jangan terima ijazah SMU juga. Tetapi sesungguhnya sikap itu adalah karena ia merasa telah terlalu tua (terlalu sombong?) untuk duduk di bangku sekolah, sementara itu ia kesal dengan orang-orang muda yang rajin belajar.
Jika seorang penyampai firman sangat mementingkan titel hingga kurang percaya diri tanpa titel dan berusaha membeli atau mencari titel gampangan, maka sikap demikian sesungguhnya sama sekali tidak terpuji. Tetapi jika seseorang telah berusaha keras dan akhirnya mencapai suatu tingkat pendidikan tertentu, maka dengan sikap yang fair kita harus memberi rasa salut, bukannya iri. Inilah sikap orang Kristen yang alkitabiah.
Sikap meremehkan pendidikan theologi yang diperlihatkan oleh sebagian penyampai firman tanpa ia sadari adalah sikap memberi peluang pada iblis untuk ikut menyampaikan Injil. Saya tidak mengatakan bahwa dengan menghargai pendidikan theologi maka pasti akan menutup peluang kepada iblis untuk memberitakan Injil, karena iblis memang sangat ingin memberitakan Injil (tentu Injil yang salah). Tetapi mengikuti pendidikan theologi dengan tidak mengikuti pendidikan theologi, masih lebih baik mengikuti pendidikan theologi karena bagaimanapun ia telah diajar. Setidaknya ia telah melalui sebuah saringan.
Jika anda terpanggil untuk menjadi penyampai firman, ketahuilah bahwa integritas firman Allah yang anda sampaikan itu terpengaruh oleh integritas penyampainya. Dan seberapa hormatnya anda terhadap Tuhan yang anda sampaikan firmanNya itu, tercermin dari seberapa seriusnya anda mempersiapkan diri untuk tugas itu. Jika anda membeli titel, atau cari yang gampangan, itu artinya anda menganggap Tuhan itu seperti pemerintah atau perusahaan yang dilayani oleh orang-orang yang membeli titel agar jenjang gajinya dinaikkan.
Baik penyampai firman maupun anggota jemaat sama-sama harus menunjukkan sikap yang benar agar keadaan kekristenan semakin kondusif. Jemaat harus menghargai penyampai firman yang belajar dengan tekun dan memperoleh jenjang pendidikan dengan benar, bukannya membanggakan penyampai firman yang kaya, mantan dukun, mantan pemimpin agama lain, dan lain sebagainya yang tidak ada hubungannya dengan kemampuannya dalam menyampaikan kebenaran firman Tuhan.
Sementara itu tanpa disadari para pembeli titel, tindakan mereka itu justru bisa mempermalukan mereka sendiri. Saya pernah berbincang-bincang dengan seorang penyampai firman yang bertitel doktor. Namun dalam perbincangan itu saya sempat kaget karena yang bersangkutan tidak mengerti istilah MSS dan juga tidak mengerti istilah LXX, Johannen Coma, yang sepatutnya sudah pasti harus dimengerti oleh orang yang menyandang titel doktor. Hal konyol demikian bisa terjadi karena mereka memakai cara Simon si tukang sihir yang mencoba membeli hak dan jabatan kerasulan dengan Petrus.
Bahaya Pujian Dan Sanjungan
Di dalam Kis.16:16-18, tercatat iblis memberitakan Injil melalui seorang perempuan,
APada suatu kali ketika kami pergi ke tempat sembahyang itu, kami bertemu dengan seorang hamba perempuan yang mempunyai roh tenung; dengan tenungan-tenungannya tuan-tuannya memperoleh penghasilan besar.Ia mengikuti Paulus dan kami dari belakang sambil berseru, katanya: “Orang-orang ini adalah hamba Allah Yang Mahatinggi. Mereka memberitakan kepadamu jalan kepada keselamatan.”Hal itu dilakukannya beberapa hari lamanya. Tetapi ketika Paulus tidak tahan lagi akan gangguan itu, ia berpaling dan berkata kepada roh itu: “Demi nama Yesus Kristus aku menyuruh engkau keluar dari perempuan ini.” Seketika itu juga keluarlah roh itu.@
Seandainya Paulus dan Silas adalah pengkhotbah yang haus akan sanjungan dan pujian, maka pasti mereka akan membiarkan hamba perempuan itu berkoar-koar sepuasnya. Sebelumnya kita telah membahas terjadinya keikutsertaan iblis dalam pemberitaan Injil melalui penurunan standar pendidikan atau meremehkan sebuah proses belajar. Tentu ada orang yang bisa belajar sendiri dan bisa mencapai pengetahuan yang tidak kalah dari yang mengikuti pendidikan formal. Tetapi autodidact tentu harus dibuktikan melalui hasil atau buahnya setelah melalui waktu yang lama, sementara yang mengikuti pendidikan formal dibuktikan melalui ujian dari para pengajar.
Segala macam cara untuk menghalangi Paulus dan Silas memberitakan Injil telah iblis tempuh. Pembaca perlu waspada, tidak ada satu cara pun yang akan iblis abaikan untuk menghalangi pemberitaan Injil bahkan cara memberitakan Injil itu sendiri. Ia ingin agar diikutsertakan ke dalam team Paulus dan Silas. Ia menyanjung-nyanjung mereka.
Kalau dilihat dari ucapan-ucapan perempuan itu, sesungguhnya tidak ada sesuatu yang salah. Sepertinya iblis memberitakan Injil yang benar, yaitu Injil keselamatan. Tetapi mengapakah Paulus membungkamnya dengan mengusirnya?
Jawabannya, pertama, Paulus tahu bahwa iblis tidak mungkin bisa memberitakan Injil dengan tulus. Sekalipun di bagian awal pemberitaan iblis terdengar seolah-olah bagus tetapi nanti pada ujungnya pasti Injil akan diselewengkannya.
Kedua, Paulus tidak menghalalkan segala cara untuk penginjilan. Orang yang belum lahir baru tidak mungkin bisa memberitakan Injil, apalagi iblis. Tujuan tidak boleh menghalalkan cara. Misalnya sekali Alkitab berkata bahwa wanita tidak boleh mengajar laki-laki itu pasti ada alasan dari Tuhan (I Tim.2:11-13, dan I Kor.14:34). Masalahnya bukan seberapa pintar ia berbicara, tetapi harus ada keteraturan antar laki-laki sebagai kepala rumah tangga dengan laki-laki yang mengajar di jemaat. Allah tidak memakai falsafah tidak ada rotan akar pun jadi. Allah mementingkan prinsip kebenaran bukan pragmatisme untuk mencari duit.
Ketika Paulus mengusir iblis yang memakai hamba perempuan itu, akhirnya ia dijebloskan ke dalam penjara. Iblis ngamuk karena tawarannya untuk membantu memberitakan Injil ditolak Paulus. Seolah-olah iblis berkata, Akalau tidak mau dengan cara halus, rasakan cara yang kasar.@ Tetapi tentu Paulus dan Silas memilih tinggal di dalam penjara daripada memberitakan Injil bersama iblis. Paulus dan Silas bernyanyi sebagai tanda bahagia karena Tuhan telah menolong mereka dari memberitakan Injil bersama iblis.
Penyimpangan Hakekat Injil
Bukan hanya penurunan standar dan efek pujian serta sanjungan yang perlu diwaspadai dalam rangka mencegah iblis memberitakan Injil, tetapi isi Injil yang semakin berubah sehingga menjadi Injil yangtidak lagi membawa berkat melainkan membawa kutuk itulah yang paling perlu diperhatikan.Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Paulus memakai kata-kata yang sangat keras.
“Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain,yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus” (Gal.1:6-7).
Rupanya jemaat Galatia sempat percaya kepada Injil lain, yang sebenarnya menurut Paulus itu bukan Injil. Injil apakah itu yang dikutuk oleh Paulus dengan kata yang sangat keras yaitu anathema?
Pada pasal-pasal berikut bisa kita amati dengan lebih jelas Injil yang dikutuk oleh Paulus itu. Ternyata kalau kita lihat pada 5:3-4, telah datang pengajar Yahudi dari Yerusalem yang mengajarkan bahwa tidak cukup dengan pertobatan dan iman, melainkan perlu ditambah dengan mentaati hukum Taurat antara lain disunat.
Injil yang murni ialah diselamatkan oleh iman (Ef.2:8-9), tanpa perlu ditambah dengan usaha manusia dalam bentuk apapun termasuk baptisan. Baptisan diperlukan pada saat mau menjadi murid (menjadi anggota gereja), bukan persyaratan masuk Sorga. Untuk memahami Injil yang murni saya mempersilakan anda membaca buku saya yang berjudul Domba Korban dan Kapan Saja Saya Mati, Saya Pasti Masuk Sorga. Di kedua buku tersebut telah saya uraikan panjang lebar tentang Injil yang benar.
Sejak Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa Allah memerintahkan mereka membunuh seekor domba sebagai akibat dosa. Maksud Allah ialah Adam yang berdosa, namun domba itu yang dimatikan. Dosa hanya dapat diselesaikan dengan penghukuman. Tentu bukan domba itu yang menanggung dosa Adam melainkan hanya sekedar gambaran saja. Yesus Kristus adalah domba korban yang dimaksud Allah. Kematian Kristus di kayu salib menanggung dosa semua manusia itu digambarkan dengan domba yang dikorbankan. Dosa seisi dunia telah ditanggungkan ke atas diri Yesus.
Pada saat seseorang percaya kepada Yesus, maka semua dosanya (dulu, sekarang, dan yang akan datang) diperhitungkan telah tertanggung ke atas diri Yesus, maka sejak saat itu ia tidak berdosa lagi dan tidak akan dihukumkan lagi (Rom.8:1). Hanya dengan iman kepada Yesus saja, tidak perlu ditambah dengan apapun.
Dan juga tidak boleh dikurangi dengan tidak memberitahukan pendengar bahwa semua dosa (dulu, sekarang, dan yang akan datang), telah ditanggung Yesus Kristus. Orang yang telah percaya kepada Tuhan Yesus selanjutnya hanya perlu bersyukur karena semua dosanya telah ditanggung Tuhan Yesus. Saya tahu bahwa pasti ada banyak pertanyaan di kepala anda ketika membaca artikel ini. Oleh sebab itu bacalah buku yang saya sebut sebelumnya untuk mendapatkan semua jawaban yang anda butuhkan.
Kalau anda telah mengerti tentang Injil yang benar, maka anda akan sanggup melihat dan mengidentifikasi Injil yang diberitakan oleh iblis. Anda akan mendapatkan bahwa banyak Injil yang sesungguhnya bukan Injil melainkan kutukan. Mengapa demikian? Jawabannya ialah karena sesungguhnya sejak zaman Rasul-rasul, iblis telah berulang kali mencoba memberitakan Injil. Ia pernah ditolak oleh Petrus, dan juga pernah ditolak oleh Paulus.
Apakah iblis putus asa setelah ditolak baik oleh Petrus maupun Paulus? Tidak mungkin! Jelas ia lebih tekun dari penyampai firman manapun. Ia berusaha masuk ke dalam gereja, masuk ke dalam kelompok gereja-gereja. Tujuannya jelas, ia ingin ikut memberitakan Injil. Dulu ia pernah memakai taktik menentang Injil, dan itu memang tetap dilakukannya melalui sebagian anak buahnya. Tetapi sebagian anak buahnya lagi diselundupkannya ke tengah-tengah orang Kristen dengan berpakaikan bulu domba. Ia tentu cukup cerdik untuk menyadari bahwa dengan masuk ke dalam dan turut memberitakan Injil, ia akan lebih berpeluang menyimpangkan Injil itu daripada memeranginya dari luar.
Akhirnya wahai sobat, yang bahaya itu bukan yang menentang Injil dari luar, melainkan yang memberitakan Injil yang salah dari dalam. Kalau anda tidak berhati-hati, maka neraka menantikan anda. Sekali lagi, neraka menantikan anda. Dan yang lebih penting dari itu lagi ialah pastikan diri anda telah lahir baru agar jangan sampai malah anda sendiri yang menjadi kaki-tangan iblis yang diselundupkan ke dalam gereja untuk memberitakan Injil yang salah. Anda perlu membaca dua buku yang saya sebutkan.
Permalink
11.25.08
Posted in Keselamatan at 7:42 pm by anabaptists
PERTANYAAN UMUM
Sekalipun dunia dengan teknologi komunikasinya sudah sangat canggih,
namun tentu masih ada orang yang tinggal di hutan atau tempat yang
tak terjangkau Injil. Jika mereka meninggal, apakah ada pengampunan
khusus bagi mereka karena mereka belum pernah mendengar tentang
Injil? Atau bagaimanakah nasib penduduk negara-negara Arab yang
dilarang oleh pemerintahnya mendengarkan berita Injil? Pertanyaan-
pertanyaan demikian sering muncul dalam acara seminar Doktrin
tentang Keselamatan (Soteriology). Tentu kita harus melihat
jawabannya di dalam Alkitab.
INJIL YANG MURNI
Injil yang murni mengajarkan bahwa manusia diselamatkan melalui
pertobatan dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya.
Rasul paulus dalam Roma 10:9-10 berkata, “sebab jika kamu mengaku
dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan dan percaya dalam hatimu,
bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka
kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan
dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.”
Dosa tidak dapat diselesaikan dengan apapun selain dihukumkan.
Itulah sebabnya Sang Juruselamat dijanjikan untuk menerima hukuman
atas seisi dunia. Yesus Kristus disalibkan untuk menanggung dosa
seisi dunia. Untuk itu secara akal sehat dapat disimpulkan bahwa
bagi bayi, orang yang sakit jiwa sebelum akil balik, yang lahir
cacat mental dan sejenisnya dan meninggal, mereka pasti masuk Sorga
karena Yesus telah menanggung dosa seisi dunia. Tetapi jika manusia
bertumbuh dewasa, mencapai umur akil balik dan sehat mental, dan
melakukan dosa atas kesadaran dirinya, maka ia menjadi orang berdosa
bukan lagi karena ia keturunan Adam yang jatuh kedalam dosa,
melainkan kini ia menjadi orang berdosa atas perbuatannya sendiri.
Manusia dewasa yang berdosa, mutlak memerlukan berita Injil untuk
keselamatan jiwanya.
Sehubungan dengan kebenaran Alkitabiah ini, maka dapat disimpulkan
bahwa Calvinis (aliran Calvinis) sangat mungkin tidak pernah
mengalami peristiwa rohani yang dikatakan Rasul Paulus ini, karena
Calvinis tidak diselamatkan oleh bertobat dan percaya, melainkan
dipilih sejak dunia belum dijadikan. Calvinis mengurangi berita
Injil Keselamatan dari perlunya respon manusia menjadi hanya diam
menunggu pemilihan.
Kelompok yang menekankan keselamatan melalui baptisan juga tidak
mengalaminya karena melampaui atau menambahi berita Injil
Keselamatan dari tidak memerlukan tambahan baptisan menjadi
memerlukannya.
Injil yang pas takarannya ialah bertobat serta percaya kepada
Juruselamat yang telah menanggung dosa seisi dunia. Pada saat
seseorang mendengarkan dan percaya pada berita Injil yang menyatakan
dosa dan penghakiman, serta menunjukkan kebenaran di dalam penebusan
Sang Juruselamat, maka sesuai dengan janji firman Tuhan , pada saat
itu Roh Kudus masuk ke dalam hatinya (Efesus 1:13)
PERLU PEMBERITAAN
Dalam Roma 10 Paulus menyatakan bahwa hanya orang yg berseru kepada nama Tuhan
yg akan selamat, “tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka
tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia,jika mereka
tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak
ada yg memberitakan-Nya?” Silogisme Rasul Paulus ini membuktikan bahwa
predestinasi keselamatan itu tidak benar. Predestinasi hanya untuk tiang
penopang dan dasar kebenaran saja. Yakub dipilih dan Esau ditolak itu bukan
berhubungan dengan keselamatan melainkan berhubungan dengan pemilihan sebuah
bangsa sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran serta menghadirkan Mesias di
muka bumi. Sedangkan untuk mendapatkan keselamatan jiwa, jelas orang tersebut
harus percaya kepada Mesias, dan untuk percaya ia harus mendengar berita tentang
Sang Mesias. Berarti harus ada pengutusan orang untuk pergi memberitakan Injil.
Orang diselamatkan karena bertobat dan percaya kepada Injil, dan peristiwa ini
diawali dengan pengutusan penginjilan oleh jemaat/gereja lokal. Penginjil yg
memberitakan Injil mengumpulkan orang-orang yg telah diselamatkannya untuk
membentuk jemaat lokal dan kemudian jemaat lokal tersebut mengutus penginjil
lagi untuk memberitakan Injil dan mendirikan jemaat lokal, sehingga semakin
banyak jemaat lokal didirikan dan semakin banyak penginjil diutus untuk pergi
memberitakan Injil dan membangun jemaat lokal. Sebuah siklus yg indah dan sangat
diingini Yesus Kristus.
Orang-orang yg tinggal di daerah yg terpencil perlu diutuskan penginjil untuk
memberitakan Injil dan membangun jemaat lokal agar mereka diselamatkan dan iman
mereka bertumbuh dalam sebuah jemaat lokal yg alkitabiah. Tanpa mendengarkan
Injil, manusia tidak mungkin diselamatkan. Manusia akan mati di dalam dosanya
dan akan masuk ke dalam neraka.
Pembaca mungkin langsung bertanya, kalau mereka masuk neraka, itu kesalahan
siapa? Tentu ada banyak pihak yg bersalah atas kebinasaan sekelompok orang yg
belum pernah mendengarkan berita Injil. Gereja yg tidak pernah mengutus
penginjil untuk pergi memberitakan Injil harus mempertanggungjawabkan setiap
rupiah yg didepositokan atau yg menganggur, di hadapan Tuhan. Bahkan setiap
orang Kristen harus mempertanggungjawabkan setiap rupiah yg didepositokannya, di
hadapan Tuhan. Dan setiap orang yg telah diselamatkan harus berdiri di hadapan
Tuhan untuk menjawab pertanyaan, mengapa ia tidak terlibat dalam pemberitaan
Injil.
MENGAPA PINDAH KE ARAB ?
Ada banyak pihak yg turut bersalah dalam kasus injil tidak sampai kepada
seseorang. Salah satunya juga ialah penyebab sampai ia berada di lokasi yg
terjangkau Injil. Mungkin bapa leluhurnya yg telah mengambil keputusan pindah
hingga ke lokasi tak terjangkau, ikut bersalah juga. Misalnya, jika seseorang
tergiur pada gaji yg tinggi, ia menerima pekerjaan di Arab Saudi. Karena ia
tidak diperbolehkan membawa Alkitab, maka lama-kelamaan imannya dan iman isteri
serta anak-anaknya semakin mundur. Tidak tertutup kemungkinan ia mendapatkan
menantu yg namanya Abdullah atau Aminah. Dan kemudian sangat mungkin cucunya
akan diberi nama Osama atau Aminah. Akhirnya mereka tidak pernah mendengar
Injil Keselamatan yg akan menyelamatkan jiwa mereka. Siapakah yg bersalah atas
kebinasaan mereka?
Betapa banyak orang Kristen yg pindah rumah tanpa mempertimbangkan aspek rohani
keluarganya. Yang mereka hiraukan hanyalah sekolah untuk anak-anak mereka, pasar
atau mall untuk berbelanja, dan berbagai fasilitas kebutuhan manusia jasmaniah.
Biasanya mereka tidak peduli apakah di tempat tujuan mereka terdapat gereja
lokal alkitabiah atau tidak. Mereka tidak mementingkan aspek rohani. Tidak
patutkah kalau Tuhan muak terhadap orang-orang demikian? Dan kalau kebetulan di
dekatnya ada gereja alkitabiah, tentu tidak pernah disyukurinya, karena ia tidak
pernah mementingkannya. Bagi mereka kehadiran gereja adalah aspek optional,
bukan yg utama, dan kalau tidak ada pun tidak apa-apa.
PERLU GEREJA ALKITABIAH
Diperlukan berita Injil untuk menyelamatkan jiwa-jiwa manusia yg telah melakukan
dosa secara sadar. Bahkan bukan sembarangan Injil, melainkan Injil yg
alkitabiah. Dan Injil yg alkitabiah hanya terdapat di dalam gereja yg
alkitabiah. Gereja yg sesat tidak mungkin memberitakan Injil yg
alkitabiah, melainkan Injil yg dikurangi dan ditambahi, yaitu Injil yg akan
menuntun manusia ke neraka (Ams.14:21).
Agar Injil yg alkitabiah ada di mana-mana, maka perlu didirikan jemaat lokal
alkitabiah di mana-mana. Contoh, oleh jemaat mula-mula yg alkitabiah, Injil
disampaikan kepada orang-orang Antiokhia, sehingga di Antiokhia didirikan sebuah
jemaat yg alkitabiah. Dan kemudian jemaat Antiokhia mengutus Paulus dan Barnabas
memberitakan Injil sehingga berdirilah jemaat-jemaat alkitabiah di seluruh Asia
Kecil. Pemberitaan Injil yg alkitabiah semestinya disertai pendirian jemaat
lokal yg alkitabiah. Jika seseorang hanya memberitakan Injil tanpa mendirikan
jemaat lokal, ia hanya melakukan separuh dari Amanat Agung.
Pemberitaan Injil tanpa pendirian jemaat lokal adalah pelayanan yg hanya
terfokus pada generasi kontemporer, tanpa memelihara Injil dan kebenaran untuk
generasi berikut. Karena tanpa jemaat lokal, maka orang yg diselamatkan oleh
Injil tidak memiliki tempat bersekutu, atau tempat mempraktekan semua perintah
Tuhan kepada orang yg telah diselamatkan-Nya.
MEMULIAKAN JEMAAT
Orang Kristen alkitabiah harus faham bahwa jemaat lokal alkitabiah
adalah tubuh Kristus. Orang Kristen lahir baru harus memuliakan
tubuh Kristus bukan memuliakan dirinya sendiri. Jika orang Kristen
lahir baru ingin berbuat baik, maka sepatutnya dilakukan melalui
jemaat agar jemaatlah yang dipuji bukan dirinya. Jika orang
Kristen lahir baru ingin melaksanakan perintah Tuhan, ia harus
melakukannya melalui jemaat bukan langsung dilakukan dirinya, agar
jemaatlah yg dimuliakan atau dipuji. Dan jika orang Kristen lahir
baru ingin memberitakan Injil, tentu ia harus melakukannya melalui
jemaat lokal alkitabiah. Ia bisa menerima pengutusan jika ia
menyumbangkan dirinya. Atau menyalurkan dana untuk penginjilan
melalui jemaat. Intinya, setiap orang Kristen lahir baru harus
menghitung dirinya ke dalam jemaat dalam segala tindakannya, agar
jemaat dimuliakan oleh segala perbuatannya. Tentu kalau ia
melakukan hal-hal buruk, nama jemaat akan tercela atau
dipermalukannya.
Jemaat lokal adalah pusat kehidupan orang Kristen lahir baru sebelum
ia ke Sorga. Jemaat lokal didirikan Tuhan sebagai institusi transit
menuju Sorga. Sebelum TKW dikirim ke luar negeri, biasanya mereka
ditampung, kemudian dilatih untuk menguasai berbagai ketrampilan,
baik bahasa maupun berbagai kecakapan. Demikian juga setiap orang
Kristen lahir baru yg menantikan kedatangan Tuhan. Jemaat lokal
alkitabiah adalah tempat bagi orang percaya untuk mempersiapkan diri
hidup bersama Tuhan selama-lamanya. Betapa penting posisi gereja
lokal alkitabiah di mata Tuhan. Dan betapa penting gereja lokal
alkitabiah bagi manusia yg cinta kebenaran. Berbahagialah jika ada
mahasiswa GRAPHE yg mau memulai jemaat alkitabiah di daerah anda.
Dan kalau anda merindukan gereja alkitabiah dimulai di daerah anda,
berdoalah, dan hubungi GITS segera.
Tanpa gereja alkitabiah di dekat anda, sangat mungkin anak cucu anda
akan berakhir di neraka. Celakalah sebuah bangsa jika di dalamnya
tidak ada gereja alkitabiah, dan celakalah penduduk sebuah daerah
jika di sana tidak ada gereja yg alkitabiah.
Oleh : Dr. Suhento Liauw
Beliau adalah Rektor GITS dan Gembala Jemaat GBIA Graphe
Sumber: tulisan Dr. Suhento Liauw pada buletin Pedang Roh
Edisi XXXIX Tahun IX April-Mei-Juni 2004.
Permalink
Posted in Keselamatan at 7:37 pm by anabaptists
Kematian Kristus di kayu salib adalah penebusan (atonement) untuk seluruh umat manusia (Ibrani 2:9, I Yoh 2:2). Artinya dosa seluruh umat manusia (dari Adam hingga manusia terakhir), ditaruh ke dalam diri Yesus dan Ia dijatuhi hukuman. Itulah sebabnya hukuman atas diri Yesus adalah hukuman terberat (capital punishment), karena itu untuk dosa seisi dunia. Seseorang membunuh beberapa orang akan dijatuhi hukuman mati, bahkan membunuh separuh penduduk dunia pun tetap hanya dijatuhi hukuman mati. Yesus Kristus menerima hukuman mati atas dosa yang dilakukan oleh seluruh umat manusia. Rasul Paulus berkata dalam Roma 5 bahwa oleh pelanggaran Adam semua manusia menjadi manusia berdosa, dan oleh ketaatan satu orang semua orang beroleh pembenaran (Roma 5:18-19). Karena koneksi kita dengan Adam, yaitu melalui kelahiran jasmani kita, maka kita menjadi orang berdosa dan siap menerima hukuman. Oleh Adam, semua umat manusia jatuh ke posisi orang berdosa. Yesus Kristus datang, dan Ia menempatkan diri ke posisi umat manusia yang berdosa dan menerima penghukuman. Sehingga oleh Yesus Kristus, apa yang diakibatkan oleh Adam terhadap seluruh umat manusia diselesaikan, yaitu dijatuhi penghukuman. Sehingga karena koneksi kita dengan Adam, bapa leluhur jasmani kita, semua manusia menjadi orang berdosa. Tetapi oleh koneksi kita dengan Kristus, yaitu melalui kelahiran kembali di dalam air dan roh, maka kita menjadi orang benar dan siap menerima pembenaran. Kematian Kristus di kayu salib adalah tindakan pemusnahan kuasa dosa. Dosa selalu menuntut penghukuman, dan ia tidak berhenti menuntut sebelum hukuman dijatuhkan. Iblis akan selalu mengatakan bahwa Allah tidak adil dan tidak benar jika Allah tidak melaksanakan hukuman atas umat manusia yang berdosa. Ia akan menuduh Allah tidak menerapkan hukum, atau lebih buruk lagi menuduh Allah hanya omong kosong ketika mengumumkan undang-undang pertamaNya di taman Eden. Setelah pelaksanaan hukuman, terlebih lagi setelah kebangkitan, sebagaimana Paulus mengatakan bahwa maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut dimanakah sengatmu? (I Kor 15:54-55). Jadi, status manusia berdosa yang diperoleh dari hubungan kita dengan Adam telah dibereskan melalui penghukuman atas dosa yang ditanggung Yesus Kristus. Saya lebih memilih istilah“status orang berdosa“ daripada istilah“dosa asal atau dosa keturunan“ karena istilah yang lebih tepat adalah kita terima status orang berdosa dari Adam dan Hawa. Nasib Bayi Yang Meninggal Karena status orang berdosa yang diperoleh sebagai anak-cucu Adam bagi semua manusia berakhir sejak kematian dan kebangkitan Kristus, maka tidak ada alasan seorang bayi yang mati akan masuk neraka. Sebagaimana dalam Roma 5, status bayi sebagai orang berdosa disandang karena kejatuhan nenek moyangnya, yaitu Adam, an status bayi sebagai orang benar disandangnya karena kebenaran Sang Juruselamat, yaitu Kristus (Roma 5:18-19), 5:18 Jadi, sama seperti melalui satu pelanggaran banyak orang beroleh penghukuman, demikian pula melalui satu perbuatan kebenaran, banyak orang beroleh pembenaran untuk hidup. 5:19 Sebab, sama seperti melalui ketidaktaatan satu orang banyak orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula melalui ketaatan satu orang banyak orang menjadi orang benar. Jadi, bayi orang Kristen, orang Islam, Budha, atau bayi siapapun adalah orang berdosa karena ketidaktaatan Adam, kemudian mendapat pembenaran melalui ketaatan Kristus. Orang yang telah dibenarkan melalui ketaatan Kristus tidak ada alasan akan berada di Neraka. Orang yang akan berada di Neraka adalah orang yang mengandalkan kebenaran dirinya yang semua, atau kebenaran bohongan yang dibisikkan iblis kepadanya. Dalam Roma 3:10,12,23 dikatakan bahwa semua orang TELAH BERBUAT dosa, pernah menyebabkan pertanyaan, dosa apakah yang DIBUAT oleh seorang bayi yang baru lahir beberapa jam? Jawabannya ialah, pertama sesungguhnya seorang bayi adalah orang berdosa, yaitu berada dalam status atau posisi orang berdosa, dan dalam hati atau nature yang berdosa. Kedua, segera setelah ia menjadi akil-balik maka ia akan segera aktif melakukan dosa sehingga akan membentuk karakter orang berdosa. Rasul Paulus menyatakan bahwa semua orang telah berbuat dosa untuk menggambarkan bahwa semua manusia telah berstatus orang berdosa dan memiliki nature yang berdosa dan segera mencapai akil balik akan segera melakukan tindakan dosa sehingga mulai membentuk karakter orang berdosa. Status bayi yang berdosa dan nature-nya yang berdosa dihukumkan pada diri Kristus di kayu salib. Itulah sebabnya bayi tanpa perlu bertobat dan beriman, karena memang mereka belum bisa bertobat dan beriman, secara otomatis menerima anugerah yang diberikan oleh Allah melalui Yesus Kristus. Tetapi jika seorang bayi bertumbuh menjadi dewasa dan mencapai umur akil balik, lantas ia berdosa atas kesadaran dirinya, maka mulai saat itu, ia mulai menyandang status orang berdosa, bukan lagi karena hubungannya dengan Adam dan Hawa, melainkan karena pelanggaran dirinya sendiri. Ia berstatus orang berdosa, dan mengotori hatinya dengan dosa sehingga nature-nya menjadi nature yang berdosa, serta membangun karakter orang berdosa, bukan karena pihak lain melainkan karena dirinya sendiri. Orang demikian baru akan dihitungkan sebagai orang benar jika ia memutuskan dengan kesadarannya untuk bertobat dan percaya kepada Sang Juruselamat. Ketika ia bertobat (menyesali dosa dan bertekad meninggalkannya) dan percaya dengan segenap hatinya bahwa Yesus telah dihukumkan untuk menanggung seluruh dosanya, maka ia akan dihitungkan Allah yang maha kudus sebagai yang tak berdosa (orang kudus) di hadapan Allah Bapa. Kepada orang berdosa yang telah akil-balik, pertobatan dan iman adalah syarat utama dan satu-satunya untuk dihitungkan sebagai orang benar di hadapan Allah. Status orang berdosa yang disandangnya berakhir ketika ia dilahirkan kembali di dalam Yesus Kristus. Tuhan memperkenalkan istilah dilahirkan kembali ketika berbincang-bincang dengan Nikodemus (Yohanes 3:3-5) bukan tanpa makna. Manusia menerima status orang berdosa dari kelahiran jasmaniah dan akan menerima status orang benar juga melalui kelahiran namun secara rohaniah. Ketika seseorang masih bayi, dalam kondisi belum bisa bertobat, dan tentu belum berdosa atas kesadaran dirinya, melainkan berstatus orang berdosa hanya karena hubungannya dengan Adam dan Hawa, kematian Kristus telah membenarkannya di hadapan Allah Bapa, tanpa perlu bertobat dan percaya yang belum bisa dilakukannya. Itulah sebabnya Doktrin Keselamatan (Soteriology) yang alkitabiah memberi kepastian keselamatan bayi di hadapan Allah. Tuhan Yesus menegaskan bahwa merekalah yang empunya Kerajaan Sorga (Matius 19:14). Perkataan Tuhan Yesus adalah pernyataan kesimpulan teologi alkitabiah karena baik bayi yang meninggal di zaman Perjanjian Lama maupun yang meninggal di zaman Perjanjian Baru, semuanya akan mewarisi Kerajaan Sorga oleh ketaatan Kristus. Lagi pula dalam Perjanjian Lama, I Raja-raja 14:13, terhadap Yerobeam, raja yang paling jahat di mata Tuhan, bayinya yang segera akan mati dikatakan oleh Tuhan ia tidak jahat, Seluruh Israel akan meratapi dia dan menguburkan dia, sebab hanya dialah dari pada keluarga Yerobeam yang akan mendapat kubur, sebab di antara keluarga Yerobeam hanya padanyalah terdapat sesuatu yang baik di mata TUHAN, Allah Israel. Yerobeam adalah seorang yang sangat jahat di mata Tuhan, karena ia memimpin bangsa Israel menjauh dari Allah dan mengajak mereka menyembah patung. Semua nggota keluarga Yerobeam yang telah mencapai umur akil-balik dihitung turut bertanggung jawab atas kejahatan yang dilakukan oleh Yerobeam kecuali bayinya yang belum akil balik. Sehingga pendapat Calvin bahwa bayi orang baik akan masuk Sorga sedang bayi orang jahat akan masuk Neraka dapat dipatahkan oleh pernyataan Allah terhadap bayi Yerobeam. Yerobeam jahat di mata Tuhan, bayinya adalah satu-satunya dalam keluarga Yerobeam yang baik di mata Tuhan. Karena allah calvinis memang kejam, dimana ia dikatakan memilih orang-orang untuk dimasukkan ke Sorga serta memilih orang-orang untuk dimasukkan ke Neraka tanpa kondisi (unconditional-election), maka tidak heran jika allah yang sama juga akan memasukkan bayi yang tidak tahu apa-apa atas dasar dosa orang tuanya. Contoh kasus Daud yang menghamili Batsyeba dan melahirkan seorang anak. Anak itu ditulahi Tuhan untuk mati karena dilahirkan dari perbuatan jahat Daud. Penulahan itu sama sekali bukan untuk nasib akhir bayi tersebut melainkan agar ia mati secara jasmani sebagai sebuah penghukuman kepada Daud. Anak itu akan masuk Sorga sebagaimana kata Daud bahwa ia yang akan pergi kepada anak itu. Daud yakin bahwa suatu hari nanti dialah yang akan menyusul anak itu, dan tentu maksudnya ke Sorga. Jadi penulahan Allah terhadap bayi itu adalah sebagai hajaran Allah kepada Daud. 12:13 Lalu berkatalah Daud kepada Natan: “Aku sudah berdosa kepada TUHAN.” Dan Natan berkata kepada Daud: “TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati. 12:22 Jawabnya: “Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup. (II Samuel) Dari peristiwa ini bahkan bisa kita simpulkan bahwa bayi yang dilahirkan secara tidak sah, bahkan dihasilkan dari perbuatan dosa pun akan masuk Sorga. Sama seperti bayi-bayi kota Betlehem yang dibunuh oleh Herodes. Mereka semua telah masuk Sorga. Peristiwa pembunuhan bayi-bayi itu adalah sebuah peristiwa yang diizinkan Allah untuk menghukum para orang tua yang mengabaikan kehadiran Sang Mesias di kota mereka. Allah yang maha adil dan maha kasih tidak mungkin membinasakan bayi-bayi di kota Betlehem yang tidak tahu apa-apa. Semua bayi yang terbunuh di Betlehem telah masuk Sorga karena sang Juruselamat mereka yang telah lahir di kota mereka akan dihukumkan untuk membereskan posisi mereka sebagai keturunan Adam yang berdosa. Sesungguhnya demi sifat Allah yang maha adil dan maha benar, tidak mungkin ada satu orang pun yang akan dimasukkan ke Neraka oleh karena perbuatan orang lain (Adam dan Hawa), dan tidak ada satu orang pun yang akan berada di Sorga tanpa melalui penebusan Yesus Kristus. Dan tentu tidak ada seorang pun yang akan berada di Sorga oleh jasa seorang manusia lain selain jasa Kristus yang mati di kayu salib. Sehubungan dengan kebenaran ini maka tidak dibenarkan untuk membaptiskan bayi. Bayi tidak perlu dibaptis karena bayi siapapun yang meninggal akan segera masuk Sorga tanpa melalui baptisan. Gereja Reform, Presbyterian, Lutheran, apalagi Katolik, telah membuat kesalahan yang amat besar. Tindakan mereka dalam membaptis bayi membuktikan pemahaman mereka tentang Injil Kristus tidak tepat. Gereja-gereja tersebut di atas ketika keluar dari Gereja Roma Katolik tidak memprotes Doktrin Gereja (ecclesiology) dari Gereja Roma Katolik yang sesat melainkan hanya memprotes Doktrin Keselamatannya (soteriology) saja. Tindakan kepalang tanggung tersebut telah menyebabkan pembaptisan bayi yang sangat bertentangan dengan Injil yang benar. Dan daripada bertobat dari kesalahan tersebut mereka malah mencari-cari pembenaran atas tindakan mereka yang salah itu. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa semua gereja yang mempraktekkan baptisan bayi sesungguhnya memiliki masalah pada Doktrin Keselamatan mereka. Pasti ada yang bertanya, pada umur berapakah seseorang dihitung telah akil-balik? Jawabannya, tidak ada kepastian umur karena sangat tergantung pada banyak faktor, antara lain: kematangan mental, kecerdasan berpikir dan lain sebagainya. Masa akil balik tiap-tiap orang tidak sama. Pada zaman PL, zaman ibadah simbolik lahiriah, Allah menetapkan seorang laki-laki Yahudi mulai umur 12 tahun ke atas harus menghadiri ibadah ritual simbolik di Yerusalem. Dan Yesus di bawa orang tuanya ke Yerusalem pada saat berumur 12 tahun (Luk 2:42). Belum pasti umur 12 tahun adalah umur seseorang menjadi akil balik, tetapi berhubung pada zaman itu adalah zaman ibadah simbolik lahiriah, maka harus ada suatu ketetapan yang bersifat lahiriah yang membatasi saat seseorang diikutsertakan dalam ibadah lahiriah. Menurut pertimbangan pemimpin Yahudi dan mungkin telah melalui perjalanan ribuan tahun, mulai umur 12-lah seorang laki-laki diikutsertakan dalam ibadah. Tentu kini ketika kita berada dalam zaman ibadah roh dan kebenaran, seseorang bisa bertobat dan memahami kebenaran Injil lebih awal dari umur 12 tahun. Intinya, masa akil-balik adalah masa seseorang mulai memahami kebenaran rohani dan mulai mampu memikirkan dan membedakan antara benar dan salah, masa seseorang mulai bertanggung jawab atas keputusan-keputusan yang diambilnya. Sumber: Doktrin Keselamatan Alkitabiah, halaman 81-89, DR. Suhento Liauw, Jakarta: Graphe International Theological Seminary (GITS), 2007.
Permalink
Posted in Keselamatan at 7:16 pm by anabaptists
TUJUH PERUMPAMAAN KRISTUS
Banyak orang salah menafsirkan 7 perumpamaan Tuhan Yesus yang tercatat di dalam Injil Matius 13. Penyebabnya adalah terlalu terpukau pada kata ‘Kerajaan Sorga’ tanpa menggali lebih dalam pada ayat 11. Pada ayat 11 Yesus menjawab: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak…” Kata Yunani dibalik kata rahasia di ayat itu adalah ta musteria=misteri. Sesungguhnya Tuhan bukan membicarakan Kerajaan Sorga, melainkan misteri dari Kerajaan Sorga itu.
Apakah misteri Kerajaan Sorga itu? Banyak orang gagal menangkap bahwa Jemaat lokal Perjanjian Barulah yang dimaksudkan Tuhan Yesus. Jemaat lokal adalah tubuhNya, adalah mempelai wanitaNya, dan itu adalah misteri Kerajaan Sorga.
Tuhan menceritakan bagaimana misteri Kerajaan Sorga itu dimulai, yaitu dengan menaburkan benih Injil. Perumpamaan pertama dari Tuhan ialah tentang Penabur Benih. Tuhan menggambarkan proses sebuah jemaat lokal didirikan, yaitu melalui menaburkan benih Injil. Kalau benih yang ditabur jatuh ke tanah yang subur, maka berdirilah sebuah jemaat lokal.
Perumpamaan kedua ialah tentang musuh Tuhan yang menaburkan benih lalang. Hal itu menyebabkan berdirinya gereja yang sesat. Melalui perumpamaan ini Tuhan mau memberitahukan kita bahwa tidak semua gereja yang eksis adalah ”gandum” atau gereja milik Tuhan, melainkan banyak diantaranya adalah ”lalang” atau gereja milik Iblis.
Kemudian Tuhan melanjutkan perumpamaan ketiga yaitu tentang biji sesawi. Melalui perumpamaan ini Tuhan ingin menggambarkan keadaan jemaat yang sebelumnya digambarkan dengan lalang itu, juga bagaikan biji sesawi yang berkembang menyimpang dari genetikanya sehingga menjadi pohon besar. Banyak orang akan mencari keuntungan materi, jasmani dan duniawi di sana, bagaikan burung yang bertengger dan mencari makan di pohon itu.
Dengan perumpamaan ke-4, yaitu gandum 3 sukat yang dimasukkan ragi oleh perempuan ke dalamnya, Tuhan sekali lagi mengajarkan usaha iblis merusak jemaat lokal dari gandum menjadi lalang dengan memasukkan ragi (doktrin yang salah) ke dalam 3 sukat gandum (1. motivasi yang tulus, 2. doktrin yang alkitabiah, dan 3. moral yang tinggi) hingga khamir semuanya.
Kemudian Tuhan memakai 2 perumpamaan yaitu yang ke-5 dan ke-6 untuk menggambarkan jemaat yang benar, yaitu yang didalamnya terdapat harta yang terpendam, yang layak bagi siapapun untuk menjual hartanya dan membeli ladang itu. Layak bagi siapa saja untuk menjual rumahnya dan pindah ke dekat jemaat lokal yang alkitabiah agar seluruh keluarganya bisa diselamatkan dan berjemaat dengan baik di jemaat yang alkitabiah. Dan Injil yang benar bagaikan mutiara yang tiada tara nilainya. Layak bagi siapapun untuk menukarnya dengan segala yang dimilikinya.
Dan perumpamaan ke-7 adalah tentang penarikan pukat yang sesungguhnya adalah gambaran tentang pengangkatan jemaat pada saat kedatangan Tuhan. Ikan akan dimasukkan ke dalam pasu sedangkan sampah pasti akan dibuang.
TUHAN MENABUR BENIH GANDUM
Banyak orang Kristen terlalu naif dan lugu. Mereka melihat semua AKTIVITAS dan kelompok yang menyebut-nyebut nama Yesus adalah berasal dari Yesus Kristus Juruselamat yang mati tersalib. Padahal Tuhan sudah memperingatkan kita bahwa iblis akan datang dan akan memakai namaNya.
Cara jitu musuh sebuah produk minuman untuk menyerang saingannya ialah memproduksi minuman beracun dengan merek yang sama dengan yang diserangnya. Lucifer memang cerdas, dan kecerdasannya melampaui kita semua. Namun syukur kepada Allah, Tuhan Yesus telah memperingatkan kita bahwa komplotan Lucifer akan memakai namaNya untuk menyesatkan murid-muridNya (Mat 24:3-5, 23-28).
Jelas-jelas Tuhan hanya menaburkan benih gandum, namun fakta menunjukkan tumbuh banyak lalang. Sesungguhnya Tuhan melalui perumpamaan ini ingin memberitahukan kita bahwa iblis mendirikan gereja yang sesat, bahwa kita tidak boleh bodoh dan tidak boleh menganggap semua gereja yang memakai nama Yesus adalah gandum. Kita harus tahu bahwa iblis cukup pintar dalam tindakannya untuk menentang Tuhan, yaitu melakukan pemalsuan akan program Tuhan. Iblis tahu bahwa cara terjitu untuk melawan gereja yang benar adalah mendirikan gereja yang salah. Ia menaburkan benih lalang untuk mengganggu pertumbuhan gandum sekaligus untuk mengacaukan orang awam yang tidak sanggup membedakan antara lalang dan gandum.
IBLIS MENABUR LALANG
Seandainya tidak ada iblis maka pasti tidak ada gereja yang sesat. Dan pasti tidak ada agama yang aneh-aneh, dan tidak ada penyembahan berhala. Jika tidak ada iblis maka juga tidak akan ada usaha penyesatan yang sangat merajalela.
Tanpa iblis, dosa yang dilakukan oleh manusia hanya yang timbul dari dorongan kedagingannya, bukan yang bersifat rohani, doktrinal dan penyesatan. Mencuri, berzinah adalah dosa kedagingan, tetapi penyembahan berhala, penyebaran agama yang tidak berasal dari Allah, dan pendirian gereja yang tidak Alkitabiah, itu berasal dari taktik iblis untuk menjerat lebih banyak manusia ke Neraka.
Kini keadaannya tidak bisa dibalik lagi, kita tidak bisa mengandaikan bahwa iblis tidak ada, karena dia telah ada. Allah tidak menciptakan iblis melainkan menciptakan malaikat yang berkepribadian, dan berkehendak bebas seperti manusia. Dan sejumlah malaikat telah memilih menentang Tuhan sehingga mereka sudah ditetapkan akan dihukum. Mereka menuntut manusia yang juga diberi kehendak bebas diuji, karena mereka sesumbar kepada Allah bahwa setiap yang diberi kehendak bebas pasti akan menentang Allah (Ayub 1:9-12).
Untuk melancarkan programnya iblis mendirikan berbagai agama, dari yang menyembah matahari hingga yang menyembah tahi sapi. Dan satu hal yang oleh banyak orang Kristen tidak diwaspadai, yaitu bahwa iblis mendirikan gereja. Orang-orang yang terjaring di dalam gereja yang didirikan iblis pasti digiring untuk tidak memperhatikan doktrin melainkan hal-hal kehidupan sehari-hari, karena ketika mereka memperhatikan doktrin maka mereka akan melihat kesalahan gereja mereka, serta akan meninggalkan gereja mereka. Seandainya tidak ada iblis, kami tidak perlu menerbitkan Pedang Roh, tidak perlu kuatir akan penyesatan, semua agama pasti membawa orang ke Sorga, dan tidak ada gereja yang sesat. Tetapi karena iblis sudah ada maka kita harus mewaspadainya, menentangnya, bahkan mengalahkannya. Tentu dengan pertolongan Yesus Kristus, dan Alkitab firmannya. Menjunjung tinggi doktrin alkitabiah, dan mengumandangkannya, adalah satu-satunya cara untuk melawan penyesatan yang disebarkannya.***
Sumber: PEDANG ROH: Jurnal Teologi, Sarana Pendidikan Teologi dan Pemberitaan Kebenaran oleh GITS (GRAPHE International Theological Seminary), Edisi 57, Triwulanan Oktober-Desember 2008, Suhento Liauw (STh., M.R.E., D.R.E., Th.D), halaman 8.
Permalink
« Previous entries