11.25.08
Posted in Keselamatan at 7:42 pm by anabaptists
PERTANYAAN UMUM
Sekalipun dunia dengan teknologi komunikasinya sudah sangat canggih,
namun tentu masih ada orang yang tinggal di hutan atau tempat yang
tak terjangkau Injil. Jika mereka meninggal, apakah ada pengampunan
khusus bagi mereka karena mereka belum pernah mendengar tentang
Injil? Atau bagaimanakah nasib penduduk negara-negara Arab yang
dilarang oleh pemerintahnya mendengarkan berita Injil? Pertanyaan-
pertanyaan demikian sering muncul dalam acara seminar Doktrin
tentang Keselamatan (Soteriology). Tentu kita harus melihat
jawabannya di dalam Alkitab.
INJIL YANG MURNI
Injil yang murni mengajarkan bahwa manusia diselamatkan melalui
pertobatan dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya.
Rasul paulus dalam Roma 10:9-10 berkata, “sebab jika kamu mengaku
dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan dan percaya dalam hatimu,
bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka
kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan
dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.”
Dosa tidak dapat diselesaikan dengan apapun selain dihukumkan.
Itulah sebabnya Sang Juruselamat dijanjikan untuk menerima hukuman
atas seisi dunia. Yesus Kristus disalibkan untuk menanggung dosa
seisi dunia. Untuk itu secara akal sehat dapat disimpulkan bahwa
bagi bayi, orang yang sakit jiwa sebelum akil balik, yang lahir
cacat mental dan sejenisnya dan meninggal, mereka pasti masuk Sorga
karena Yesus telah menanggung dosa seisi dunia. Tetapi jika manusia
bertumbuh dewasa, mencapai umur akil balik dan sehat mental, dan
melakukan dosa atas kesadaran dirinya, maka ia menjadi orang berdosa
bukan lagi karena ia keturunan Adam yang jatuh kedalam dosa,
melainkan kini ia menjadi orang berdosa atas perbuatannya sendiri.
Manusia dewasa yang berdosa, mutlak memerlukan berita Injil untuk
keselamatan jiwanya.
Sehubungan dengan kebenaran Alkitabiah ini, maka dapat disimpulkan
bahwa Calvinis (aliran Calvinis) sangat mungkin tidak pernah
mengalami peristiwa rohani yang dikatakan Rasul Paulus ini, karena
Calvinis tidak diselamatkan oleh bertobat dan percaya, melainkan
dipilih sejak dunia belum dijadikan. Calvinis mengurangi berita
Injil Keselamatan dari perlunya respon manusia menjadi hanya diam
menunggu pemilihan.
Kelompok yang menekankan keselamatan melalui baptisan juga tidak
mengalaminya karena melampaui atau menambahi berita Injil
Keselamatan dari tidak memerlukan tambahan baptisan menjadi
memerlukannya.
Injil yang pas takarannya ialah bertobat serta percaya kepada
Juruselamat yang telah menanggung dosa seisi dunia. Pada saat
seseorang mendengarkan dan percaya pada berita Injil yang menyatakan
dosa dan penghakiman, serta menunjukkan kebenaran di dalam penebusan
Sang Juruselamat, maka sesuai dengan janji firman Tuhan , pada saat
itu Roh Kudus masuk ke dalam hatinya (Efesus 1:13)
PERLU PEMBERITAAN
Dalam Roma 10 Paulus menyatakan bahwa hanya orang yg berseru kepada nama Tuhan
yg akan selamat, “tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka
tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia,jika mereka
tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak
ada yg memberitakan-Nya?” Silogisme Rasul Paulus ini membuktikan bahwa
predestinasi keselamatan itu tidak benar. Predestinasi hanya untuk tiang
penopang dan dasar kebenaran saja. Yakub dipilih dan Esau ditolak itu bukan
berhubungan dengan keselamatan melainkan berhubungan dengan pemilihan sebuah
bangsa sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran serta menghadirkan Mesias di
muka bumi. Sedangkan untuk mendapatkan keselamatan jiwa, jelas orang tersebut
harus percaya kepada Mesias, dan untuk percaya ia harus mendengar berita tentang
Sang Mesias. Berarti harus ada pengutusan orang untuk pergi memberitakan Injil.
Orang diselamatkan karena bertobat dan percaya kepada Injil, dan peristiwa ini
diawali dengan pengutusan penginjilan oleh jemaat/gereja lokal. Penginjil yg
memberitakan Injil mengumpulkan orang-orang yg telah diselamatkannya untuk
membentuk jemaat lokal dan kemudian jemaat lokal tersebut mengutus penginjil
lagi untuk memberitakan Injil dan mendirikan jemaat lokal, sehingga semakin
banyak jemaat lokal didirikan dan semakin banyak penginjil diutus untuk pergi
memberitakan Injil dan membangun jemaat lokal. Sebuah siklus yg indah dan sangat
diingini Yesus Kristus.
Orang-orang yg tinggal di daerah yg terpencil perlu diutuskan penginjil untuk
memberitakan Injil dan membangun jemaat lokal agar mereka diselamatkan dan iman
mereka bertumbuh dalam sebuah jemaat lokal yg alkitabiah. Tanpa mendengarkan
Injil, manusia tidak mungkin diselamatkan. Manusia akan mati di dalam dosanya
dan akan masuk ke dalam neraka.
Pembaca mungkin langsung bertanya, kalau mereka masuk neraka, itu kesalahan
siapa? Tentu ada banyak pihak yg bersalah atas kebinasaan sekelompok orang yg
belum pernah mendengarkan berita Injil. Gereja yg tidak pernah mengutus
penginjil untuk pergi memberitakan Injil harus mempertanggungjawabkan setiap
rupiah yg didepositokan atau yg menganggur, di hadapan Tuhan. Bahkan setiap
orang Kristen harus mempertanggungjawabkan setiap rupiah yg didepositokannya, di
hadapan Tuhan. Dan setiap orang yg telah diselamatkan harus berdiri di hadapan
Tuhan untuk menjawab pertanyaan, mengapa ia tidak terlibat dalam pemberitaan
Injil.
MENGAPA PINDAH KE ARAB ?
Ada banyak pihak yg turut bersalah dalam kasus injil tidak sampai kepada
seseorang. Salah satunya juga ialah penyebab sampai ia berada di lokasi yg
terjangkau Injil. Mungkin bapa leluhurnya yg telah mengambil keputusan pindah
hingga ke lokasi tak terjangkau, ikut bersalah juga. Misalnya, jika seseorang
tergiur pada gaji yg tinggi, ia menerima pekerjaan di Arab Saudi. Karena ia
tidak diperbolehkan membawa Alkitab, maka lama-kelamaan imannya dan iman isteri
serta anak-anaknya semakin mundur. Tidak tertutup kemungkinan ia mendapatkan
menantu yg namanya Abdullah atau Aminah. Dan kemudian sangat mungkin cucunya
akan diberi nama Osama atau Aminah. Akhirnya mereka tidak pernah mendengar
Injil Keselamatan yg akan menyelamatkan jiwa mereka. Siapakah yg bersalah atas
kebinasaan mereka?
Betapa banyak orang Kristen yg pindah rumah tanpa mempertimbangkan aspek rohani
keluarganya. Yang mereka hiraukan hanyalah sekolah untuk anak-anak mereka, pasar
atau mall untuk berbelanja, dan berbagai fasilitas kebutuhan manusia jasmaniah.
Biasanya mereka tidak peduli apakah di tempat tujuan mereka terdapat gereja
lokal alkitabiah atau tidak. Mereka tidak mementingkan aspek rohani. Tidak
patutkah kalau Tuhan muak terhadap orang-orang demikian? Dan kalau kebetulan di
dekatnya ada gereja alkitabiah, tentu tidak pernah disyukurinya, karena ia tidak
pernah mementingkannya. Bagi mereka kehadiran gereja adalah aspek optional,
bukan yg utama, dan kalau tidak ada pun tidak apa-apa.
PERLU GEREJA ALKITABIAH
Diperlukan berita Injil untuk menyelamatkan jiwa-jiwa manusia yg telah melakukan
dosa secara sadar. Bahkan bukan sembarangan Injil, melainkan Injil yg
alkitabiah. Dan Injil yg alkitabiah hanya terdapat di dalam gereja yg
alkitabiah. Gereja yg sesat tidak mungkin memberitakan Injil yg
alkitabiah, melainkan Injil yg dikurangi dan ditambahi, yaitu Injil yg akan
menuntun manusia ke neraka (Ams.14:21).
Agar Injil yg alkitabiah ada di mana-mana, maka perlu didirikan jemaat lokal
alkitabiah di mana-mana. Contoh, oleh jemaat mula-mula yg alkitabiah, Injil
disampaikan kepada orang-orang Antiokhia, sehingga di Antiokhia didirikan sebuah
jemaat yg alkitabiah. Dan kemudian jemaat Antiokhia mengutus Paulus dan Barnabas
memberitakan Injil sehingga berdirilah jemaat-jemaat alkitabiah di seluruh Asia
Kecil. Pemberitaan Injil yg alkitabiah semestinya disertai pendirian jemaat
lokal yg alkitabiah. Jika seseorang hanya memberitakan Injil tanpa mendirikan
jemaat lokal, ia hanya melakukan separuh dari Amanat Agung.
Pemberitaan Injil tanpa pendirian jemaat lokal adalah pelayanan yg hanya
terfokus pada generasi kontemporer, tanpa memelihara Injil dan kebenaran untuk
generasi berikut. Karena tanpa jemaat lokal, maka orang yg diselamatkan oleh
Injil tidak memiliki tempat bersekutu, atau tempat mempraktekan semua perintah
Tuhan kepada orang yg telah diselamatkan-Nya.
MEMULIAKAN JEMAAT
Orang Kristen alkitabiah harus faham bahwa jemaat lokal alkitabiah
adalah tubuh Kristus. Orang Kristen lahir baru harus memuliakan
tubuh Kristus bukan memuliakan dirinya sendiri. Jika orang Kristen
lahir baru ingin berbuat baik, maka sepatutnya dilakukan melalui
jemaat agar jemaatlah yang dipuji bukan dirinya. Jika orang
Kristen lahir baru ingin melaksanakan perintah Tuhan, ia harus
melakukannya melalui jemaat bukan langsung dilakukan dirinya, agar
jemaatlah yg dimuliakan atau dipuji. Dan jika orang Kristen lahir
baru ingin memberitakan Injil, tentu ia harus melakukannya melalui
jemaat lokal alkitabiah. Ia bisa menerima pengutusan jika ia
menyumbangkan dirinya. Atau menyalurkan dana untuk penginjilan
melalui jemaat. Intinya, setiap orang Kristen lahir baru harus
menghitung dirinya ke dalam jemaat dalam segala tindakannya, agar
jemaat dimuliakan oleh segala perbuatannya. Tentu kalau ia
melakukan hal-hal buruk, nama jemaat akan tercela atau
dipermalukannya.
Jemaat lokal adalah pusat kehidupan orang Kristen lahir baru sebelum
ia ke Sorga. Jemaat lokal didirikan Tuhan sebagai institusi transit
menuju Sorga. Sebelum TKW dikirim ke luar negeri, biasanya mereka
ditampung, kemudian dilatih untuk menguasai berbagai ketrampilan,
baik bahasa maupun berbagai kecakapan. Demikian juga setiap orang
Kristen lahir baru yg menantikan kedatangan Tuhan. Jemaat lokal
alkitabiah adalah tempat bagi orang percaya untuk mempersiapkan diri
hidup bersama Tuhan selama-lamanya. Betapa penting posisi gereja
lokal alkitabiah di mata Tuhan. Dan betapa penting gereja lokal
alkitabiah bagi manusia yg cinta kebenaran. Berbahagialah jika ada
mahasiswa GRAPHE yg mau memulai jemaat alkitabiah di daerah anda.
Dan kalau anda merindukan gereja alkitabiah dimulai di daerah anda,
berdoalah, dan hubungi GITS segera.
Tanpa gereja alkitabiah di dekat anda, sangat mungkin anak cucu anda
akan berakhir di neraka. Celakalah sebuah bangsa jika di dalamnya
tidak ada gereja alkitabiah, dan celakalah penduduk sebuah daerah
jika di sana tidak ada gereja yg alkitabiah.
Oleh : Dr. Suhento Liauw
Beliau adalah Rektor GITS dan Gembala Jemaat GBIA Graphe
Sumber: tulisan Dr. Suhento Liauw pada buletin Pedang Roh
Edisi XXXIX Tahun IX April-Mei-Juni 2004.
Permalink
Posted in Alkitab at 7:39 pm by anabaptists
Banyak orang Kristen mempertanyakan pertanyaan topik di atas dan jawaban yang mereka peroleh biasanya tidak tegas sehingga bukannya memberi kejelasan malahan menambah kebingungan. Akhirnya ketidakjelasan akan hal yang sangat penting ini mempengaruhi konsep kekristenan dan tentu tindak-tanduk kehidupan ibadah mereka.
Kita tahu bahwa Nabi dan Rasul menempati posisi yang sangat penting dalam proses perkembangan wahyu Allah. Melalui merekalah Alkitab ditulis, sehingga kini ada di tangan kita serta menjadi patokan doktrin kekristenan kita.
Tugas utama Nabi dan Rasul itu bukan mengadakan mujizat, melainkan sebagai dasar jemaat (Ef. 2:20). Mereka membangun jemaat melalui firman yang mereka ucapkan maupun tuliskan. Tanda dan mujizat yang mereka pertunjukkan itu sesungguhnya dimaksudkan untuk meneguhkan firman yang mereka ucapkan (Mrk.16: 20).
Mereka adalah penyalur wahyu Allah kepada manusia. Di dalam proses perkembangan wahyu, Allah pernah memakai undian, urim dan tumim, mimpi, penglihatan (visi), malaikat, Kristofani, dan nabi. Khusus untuk Nabi, selain menyampaikan firman secara lisan (bernubuat), sebagian mereka digerakkan untuk menulis (Yer. 36).
Allah pernah memakai sarana-sarana tersebut di atas untuk menyampaikan firmanNya. Tetapi firman atau pendapat Allah yang disampaikan melalui undian, urim- tumim, mimpi, visi, malaikat, bahkan nabi, yang bersifat lisan itu tidak bisa dijadikan dasar doktrin. Semua itu hanya bisa dijadikan petunjuk praktis kehidupan sehari- hari. Tanpa adanya firman tertulis yang lengkap dan sempurna, tidak mungkin ada doktrin yang benar dan sempurna karena mustahil untuk mendirikan doktrin di atas mimpi maupun nubuatan lisan. Itulah sebabnya sementara para nabi bernubuat secara lisan, Allah menggerakkan sebagian mereka untuk menuliskan wahyu yang akan dipakaiNya sebagai standar doktrin bagi jemaatNya sepanjang masa.
Sedangkan para Rasul adalah orang yang dipilih langsung oleh Tuhan. Syarat kerasulan mereka ialah melihat Tuhan (I Kor. 9:1) dan dibaptis oleh Yohanes Pembaptis (Kis.1:21-22).
Untuk syarat yang satu ini, dibaptis Yohanes, bahkan Paulus tidak memenuhinya. Hal ini sempat menimbulkan keraguan sebagian jemaat terhadap kerasulan Paulus. Tetapi Paulus dengan gigih membela jabatan kerasulannya (I Kor.9:1, II Kor.12:12, Gal.2:8).
Memang Paulus tidak ikut rombongan Yesus sejak pembaptisan Yohanes Pembaptis. Itulah sebabnya Rasul Paulus berkata bahwa kerasulannya itu bagaikan anak yang lahir sebelum waktunya (I Kor.15:8).
Namun Tuhan Yesus sendiri menampakkan diri kepadanya dan memilihnya (Kis. 9:15-16, 26:16) serta memberinya kuasa yang sama dengan rasul lain.
Perhatikan hal-hal yang tercatat di dalam Kisah Para Rasul. Sekali pun Barnabas lebih dahulu menjadi Kristen, bahkan dialah yang mengajak Paulus, namun Allah memakai Paulus untuk mengadakan mujizat, bukan Barnabas (Kis. 13:9-10, 14:8 dsb.).
Hal ini menunjukkan bahwa Allah memilih Paulus untuk jabatan Rasul bukan Barnabas. Karena persyaratan yang jelas itu maka tidak ada orang yang berani menyebut dirinya Rasul selain dua belas orang yang Tuhan pilih langsung dan Paulus.
Pembaca harus dapat membedakan kata rasul ketika dipakai untuk jabatan dan ketika itu dipakai sebagaimana arti kata itu secara umum. Barnabas pernah disebut rasul namun bukan dalam arti kata jabatan Rasul, melainkan dalam arti kata bahwa ia adalah seorang yang diutus (Kis. 14:1,4,6,18 dll.).
Dengan tegas dapat disimpulkan bahwa Tuhan tidak menambah jabatan Rasul untuk bangsa Israel, karena sebagaimana mereka terdiri dari 12 suku, Tuhan telah menetapkan 12 Rasul bagi mereka. Dan juga tidak akan ada orang yang akan dibaptis Yohanes Pembaptis karena Yohanes telah lama mati. Sedangkan Rasul untuk bangsa non-Yahudi juga telah Tuhan pilih langsung dengan penampakan diri kepadanya bagaikan bayi yang lahir sebelum waktunya. Selain menampakkan diri kepadanya, Tuhan juga melengkapinya dengan kuasa yang setara dengan Rasul-rasul lain (II Kor.12:12, Gal.2:8).
Akhirnya dengan tegas dapat kita katakan bahwa jabatan Rasul telah Tuhan hentikan hanya pada 12 orang Rasul untuk bangsa Israel dan satu Rasul yaitu Paulus untuk bangsa non-Yahudi. Selanjutnya siapapun yang menyebut dirinya Rasul, kita dapat pastikan bahwa itu bukan yang diangkat Tuhan.
Selanjutnya kita melihat bahwa dihentikannya jabatan nabi itu bersamaan dengan dihentikannya proses pewahyuan atau fenomena supranatural (nubuatan, bahasa roh) sebagaimana dinubuatkan Rasul Paulus (I Kor. 13:8-10).
Pada ayat-ayat tersebut Paulus menubuatkan bahwa nubuatan akan berakhir, bahasa roh akan berhenti dan pengetahuan akan lenyap dengan menyebut metode jika yang sempurna tiba maka yang tidak sempurna akan lenyap.
Sebelum menafsirkan kapan penggenapan nubuatan tersebut, harus diselesaikan dulu batu sandungannya, yaitu tentang ‘pengetahuan’ yang dimaksudkan Paulus. Kata ‘pengetahuan’ di situ itu bukan pengetahuan 2 + 2 = 4, melainkan karunia pengetahuan seperti yang dimaksud dalam 12:8, yaitu karunia berkata-kata dengan pengetahuan atau hikmat. Sebab kalau suatu hari kelak kita akan kehilangan pengetahuan 2 +2 = 4, maka itu sama artinya bahwa suatu hari nanti kita akan jadi orang bego. Tidak saudara, Paulus tidak memaksudkan bahwa suatu hari kita akan kehilangan akal sehat. Bahkan ketika kita sampai di Surga nanti, pengetahuan kita justru akan disempurnakan, bukan dilenyapkan.
Selanjutnya kita patut merenungkan tentang kapan nubuat, bahasa roh, dan karunia pengetahuan itu akan digantikan dengan sesuatu yang lebih sempurna. Mendapatkan kepastian melalui penafsiran yang tepat akan menolong orang Kristen memiliki konsep yang tepat dan tindakan yang tepat.
Secara umum kita lihat ada dua kemungkinan penggenapan nubuatan Rasul Paulus, yaitu setelah hari pengangkatan (Rapture) atau setelah Wahyu 22:21 ditulis. Selain dua kemungkinan tersebut saya tidak melihat ada kemungkinan lain lagi.
Setelah hari pengangkatan. Sebagian orang percaya bahwa nubuatan, bahasa roh, dan karunia pengetahuan akan berakhir pada saat Tuhan datang. Jadi bagi mereka karunia bernubuat dan berbahasa roh itu masih berlangsung sekarang sehingga mereka berusaha mengejarnya.
Konsekuensi dari penafsiran ini ialah mempercayai bahwa jabatan nabi masih tetap ada karena bernubuat itu adalah karunia utama nabi. Selanjutnya mereka akan tetap mengusahakan bahasa roh sebagai sarana penguat iman (I Kor.14:22), bukan memakai firman tertulis (Alkitab). Dan tanpa mereka sadari bahwa mempercayai penafsiran demikian itu berarti mempercayai bahwa Alkitab bukan satu-satunya firman Allah, melainkan salah satu firman Allah.
Karena masih ada nubuatan dari Allah, maka itu berarti Allah masih menurunkan wahyu, dan kalau wahyu berikut yang dari Allah itu dituliskan maka konsekuensinya tulisan itu akan setara dengan Alkitab. Bisakah anda lihat bahwa mempercayai karunia bernubuat dihentikan pada saat kedatangan Tuhan itu sama dengan mempercayai bahwa Alkitab adalah salah satu firman Allah?
Setelah Wahyu 22:21 dituliskan. Kelompok lain menafsirkan bahwa karunia bernubuat, berbahasa roh, dan berkata-kata dengan pengetahuan itu telah Tuhan hentikan sejak kitab Wahyu 22:21 dituliskan. Setelah wahyu tertulis (written word) sempurna, maka selanjutnya Allah tidak memberi wahyu tambahan lagi. Allah tidak memberikan karunia berbahasa roh karena Allah tidak memakai bahasa roh untuk meneguhkan iman lagi, melainkan dengan firman yang tertulis, yaitu Alkitab.
Alkitab, dari Kejadian 1:1 sampai Wahyu 22:21, adalah satu-satunya firman Allah. Ingat, satu-satunya, artinya di luar Alkitab tidak ada firman Allah baik lisan maupun tertulis. Alkitab adalah sarana yang sempurna sebagaimana yang dimaksudkan Rasul Paulus dalam I Korintus 13:9-10. Seturut dengan dihentikannya proses pewahyuan, maka jabatan Nabi dan Rasul, yaitu jabatan yang berfungsi menyalurkan wahyu, pun dihentikan pula.
Selanjutnya tinggallah 3 jabatan yang bertanggung jawab mengajar kan firman Tuhan yang telah mereka tuliskan, yaitu Gembala, Penginjil dan Guru (Ef. 4:11).
Gembala menggembalakan jemaat, dibantu oleh Penginjil untuk menginjili yang belum percaya dan guru untuk mengajar yang telah percaya. Penatua dan Penilik adalah nama lain dari Gembala (Lihat Kis. 20:17,28, Fil. 1:1, Titus 1:5,7).
Berarti kalau sudah ada jabatan Gembala, jangan lagi ada jabatan Penilik atau Penatua. Pilih saja salah satunya agar tidak terjadi tumpang tindih jabatan yang tidak jelas tugas dan fungsinya.
Wah. 22:21 Rapture
———————–|——————————-|————–
1. Alkitab adalah salah satu firman Allah
2. Alkitab berisi firman Allah.
3. Alkitab adalah satu-satunya firman Allah
Orang “Kristen” yang mengakui adanya firman Allah di dalam kitab-kitab lain pasti memegang statemen pertama. Orang Kristen Neo Orthodox memegang statemen kedua. Bagi mereka, tidak seluruh isi alkitab itu firman Allah, melainkan hanya yang menyentuh hati mereka ketika dibaca (yang terjadi encounter dengan mereka). Sedangkan orang Kristen Alkitabiah pasti memegang statemen ketiga.
Ketahuilah, pemegang statemen pertama adalah orang yang percaya bahwa nubuatan masih tetap berlangsung. Allah masih tetap menurunkan wahyu sampai hari pengangkatan. Sedangkan pemegang statemen ketiga adalah orang yang percaya bahwa wahyu dari Allah telah dihentikan sejak wahyu terakhir, kitab Wahyu 22:21 dituliskan. Banyak orang Kristen tidak menyadari bahwa pengakuan iman mereka itu kontradiksi jika mereka percaya pada statemen ketiga sementara itu mereka percaya juga pada nubuatan, mimpi, visi dan lain sebagainya. Sekali lagi, itu kontradiksi.
Memang Allah pernah menubuatkan bahwa Ia akan mencurahkan RohNya ke atas manusia, dan anak-anak laki-laki dan perempuan akan bernubuat (Yoel 2:28).
Namun terhadap nubuatan ini Petrus menyatakan bahwa itu telah digenapi pada hari Pentakosta. Sebagian, yaitu yang matahari menjadi gelap, akan digenapi nanti.
Sangat disayangkan dimana sebagian orang Kristen tidak menyadari bahwa Allah telah berusaha membimbing manusia dari firman yang tidak pasti (indefinite), yaitu yang disampaikan melalui undian, urim-tumim, mimpi, visi, malaikat, ucapan lisan Nabi dan Rasul, sampai kita memiliki firman yang pasti (definite), yaitu Alkitab, firman tertulis, namun masih ingin kembali kepada yang tidak pasti. Pada zaman sekarang iblis berusaha habis-habisan mengalihkan perhatian manusia dari firman yang pasti (definite), tertulis, ke firman yang tidak pasti (indefinite), yaitu fenomena supranatural.
Jika pada hari ini kita tidak memiliki firman tertulis yang pasti, melainkan hanya mengandalkan mimpi, visi dan lain sebagainya, maka kekristenan tidak memiliki doktrin yang pasti (definite). Pengajaran (doktrin) yang bagaimanakah yang dapat didasarkan pada mimpi dan nubuatan lisan? Bahkan kita patut bersyukur atas dihentikannya karunia bernubuat, penyampaian wahyu melalui mimpi dan lain sebagainya karena Alkitab telah lengkap. Seandainya Alkitab belum lengkap, artinya masih ada manuver nubuatan dan lain sebagainya, maka doktrin yang diajarkan di gereja itu bukanlah yang final, melainkan yang masih bisa direvisi melalui nubuatan berikut.
Sesungguhnya jika anda mengerti kebenaran dengan baik, anda pasti mengerti mengapa jabatan Nabi dan Rasul sudah tidak ada, dan mengapa karunia bernubuat, karunia berbahasa roh dan karunia berkata-kata dalam pengetahuan sudah ditiadakan. Allah telah meniadakannya karena telah ada firman tertulis yang sempurna di tangan kita, yang darinya dapat didirikan doktrin serta yang menjadi patokan kebenaran jemaat sepanjang masa. Siapapun yang mengatakan bahwa ia adalah rasul atau nabi, atau mendapat karunia bernubuat, atau berbahasa roh, dapat dipastikan bahwa itu bukan dari Tuhan.***
(Dr. Suhento Liauw, Rektor STT Graphe/GITS dan Gembala Gereja Baptis Independen Alkitabiah Graphe)
Permalink
Posted in Keselamatan at 7:37 pm by anabaptists
Kematian Kristus di kayu salib adalah penebusan (atonement) untuk seluruh umat manusia (Ibrani 2:9, I Yoh 2:2). Artinya dosa seluruh umat manusia (dari Adam hingga manusia terakhir), ditaruh ke dalam diri Yesus dan Ia dijatuhi hukuman. Itulah sebabnya hukuman atas diri Yesus adalah hukuman terberat (capital punishment), karena itu untuk dosa seisi dunia. Seseorang membunuh beberapa orang akan dijatuhi hukuman mati, bahkan membunuh separuh penduduk dunia pun tetap hanya dijatuhi hukuman mati. Yesus Kristus menerima hukuman mati atas dosa yang dilakukan oleh seluruh umat manusia. Rasul Paulus berkata dalam Roma 5 bahwa oleh pelanggaran Adam semua manusia menjadi manusia berdosa, dan oleh ketaatan satu orang semua orang beroleh pembenaran (Roma 5:18-19). Karena koneksi kita dengan Adam, yaitu melalui kelahiran jasmani kita, maka kita menjadi orang berdosa dan siap menerima hukuman. Oleh Adam, semua umat manusia jatuh ke posisi orang berdosa. Yesus Kristus datang, dan Ia menempatkan diri ke posisi umat manusia yang berdosa dan menerima penghukuman. Sehingga oleh Yesus Kristus, apa yang diakibatkan oleh Adam terhadap seluruh umat manusia diselesaikan, yaitu dijatuhi penghukuman. Sehingga karena koneksi kita dengan Adam, bapa leluhur jasmani kita, semua manusia menjadi orang berdosa. Tetapi oleh koneksi kita dengan Kristus, yaitu melalui kelahiran kembali di dalam air dan roh, maka kita menjadi orang benar dan siap menerima pembenaran. Kematian Kristus di kayu salib adalah tindakan pemusnahan kuasa dosa. Dosa selalu menuntut penghukuman, dan ia tidak berhenti menuntut sebelum hukuman dijatuhkan. Iblis akan selalu mengatakan bahwa Allah tidak adil dan tidak benar jika Allah tidak melaksanakan hukuman atas umat manusia yang berdosa. Ia akan menuduh Allah tidak menerapkan hukum, atau lebih buruk lagi menuduh Allah hanya omong kosong ketika mengumumkan undang-undang pertamaNya di taman Eden. Setelah pelaksanaan hukuman, terlebih lagi setelah kebangkitan, sebagaimana Paulus mengatakan bahwa maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut dimanakah sengatmu? (I Kor 15:54-55). Jadi, status manusia berdosa yang diperoleh dari hubungan kita dengan Adam telah dibereskan melalui penghukuman atas dosa yang ditanggung Yesus Kristus. Saya lebih memilih istilah“status orang berdosa“ daripada istilah“dosa asal atau dosa keturunan“ karena istilah yang lebih tepat adalah kita terima status orang berdosa dari Adam dan Hawa. Nasib Bayi Yang Meninggal Karena status orang berdosa yang diperoleh sebagai anak-cucu Adam bagi semua manusia berakhir sejak kematian dan kebangkitan Kristus, maka tidak ada alasan seorang bayi yang mati akan masuk neraka. Sebagaimana dalam Roma 5, status bayi sebagai orang berdosa disandang karena kejatuhan nenek moyangnya, yaitu Adam, an status bayi sebagai orang benar disandangnya karena kebenaran Sang Juruselamat, yaitu Kristus (Roma 5:18-19), 5:18 Jadi, sama seperti melalui satu pelanggaran banyak orang beroleh penghukuman, demikian pula melalui satu perbuatan kebenaran, banyak orang beroleh pembenaran untuk hidup. 5:19 Sebab, sama seperti melalui ketidaktaatan satu orang banyak orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula melalui ketaatan satu orang banyak orang menjadi orang benar. Jadi, bayi orang Kristen, orang Islam, Budha, atau bayi siapapun adalah orang berdosa karena ketidaktaatan Adam, kemudian mendapat pembenaran melalui ketaatan Kristus. Orang yang telah dibenarkan melalui ketaatan Kristus tidak ada alasan akan berada di Neraka. Orang yang akan berada di Neraka adalah orang yang mengandalkan kebenaran dirinya yang semua, atau kebenaran bohongan yang dibisikkan iblis kepadanya. Dalam Roma 3:10,12,23 dikatakan bahwa semua orang TELAH BERBUAT dosa, pernah menyebabkan pertanyaan, dosa apakah yang DIBUAT oleh seorang bayi yang baru lahir beberapa jam? Jawabannya ialah, pertama sesungguhnya seorang bayi adalah orang berdosa, yaitu berada dalam status atau posisi orang berdosa, dan dalam hati atau nature yang berdosa. Kedua, segera setelah ia menjadi akil-balik maka ia akan segera aktif melakukan dosa sehingga akan membentuk karakter orang berdosa. Rasul Paulus menyatakan bahwa semua orang telah berbuat dosa untuk menggambarkan bahwa semua manusia telah berstatus orang berdosa dan memiliki nature yang berdosa dan segera mencapai akil balik akan segera melakukan tindakan dosa sehingga mulai membentuk karakter orang berdosa. Status bayi yang berdosa dan nature-nya yang berdosa dihukumkan pada diri Kristus di kayu salib. Itulah sebabnya bayi tanpa perlu bertobat dan beriman, karena memang mereka belum bisa bertobat dan beriman, secara otomatis menerima anugerah yang diberikan oleh Allah melalui Yesus Kristus. Tetapi jika seorang bayi bertumbuh menjadi dewasa dan mencapai umur akil balik, lantas ia berdosa atas kesadaran dirinya, maka mulai saat itu, ia mulai menyandang status orang berdosa, bukan lagi karena hubungannya dengan Adam dan Hawa, melainkan karena pelanggaran dirinya sendiri. Ia berstatus orang berdosa, dan mengotori hatinya dengan dosa sehingga nature-nya menjadi nature yang berdosa, serta membangun karakter orang berdosa, bukan karena pihak lain melainkan karena dirinya sendiri. Orang demikian baru akan dihitungkan sebagai orang benar jika ia memutuskan dengan kesadarannya untuk bertobat dan percaya kepada Sang Juruselamat. Ketika ia bertobat (menyesali dosa dan bertekad meninggalkannya) dan percaya dengan segenap hatinya bahwa Yesus telah dihukumkan untuk menanggung seluruh dosanya, maka ia akan dihitungkan Allah yang maha kudus sebagai yang tak berdosa (orang kudus) di hadapan Allah Bapa. Kepada orang berdosa yang telah akil-balik, pertobatan dan iman adalah syarat utama dan satu-satunya untuk dihitungkan sebagai orang benar di hadapan Allah. Status orang berdosa yang disandangnya berakhir ketika ia dilahirkan kembali di dalam Yesus Kristus. Tuhan memperkenalkan istilah dilahirkan kembali ketika berbincang-bincang dengan Nikodemus (Yohanes 3:3-5) bukan tanpa makna. Manusia menerima status orang berdosa dari kelahiran jasmaniah dan akan menerima status orang benar juga melalui kelahiran namun secara rohaniah. Ketika seseorang masih bayi, dalam kondisi belum bisa bertobat, dan tentu belum berdosa atas kesadaran dirinya, melainkan berstatus orang berdosa hanya karena hubungannya dengan Adam dan Hawa, kematian Kristus telah membenarkannya di hadapan Allah Bapa, tanpa perlu bertobat dan percaya yang belum bisa dilakukannya. Itulah sebabnya Doktrin Keselamatan (Soteriology) yang alkitabiah memberi kepastian keselamatan bayi di hadapan Allah. Tuhan Yesus menegaskan bahwa merekalah yang empunya Kerajaan Sorga (Matius 19:14). Perkataan Tuhan Yesus adalah pernyataan kesimpulan teologi alkitabiah karena baik bayi yang meninggal di zaman Perjanjian Lama maupun yang meninggal di zaman Perjanjian Baru, semuanya akan mewarisi Kerajaan Sorga oleh ketaatan Kristus. Lagi pula dalam Perjanjian Lama, I Raja-raja 14:13, terhadap Yerobeam, raja yang paling jahat di mata Tuhan, bayinya yang segera akan mati dikatakan oleh Tuhan ia tidak jahat, Seluruh Israel akan meratapi dia dan menguburkan dia, sebab hanya dialah dari pada keluarga Yerobeam yang akan mendapat kubur, sebab di antara keluarga Yerobeam hanya padanyalah terdapat sesuatu yang baik di mata TUHAN, Allah Israel. Yerobeam adalah seorang yang sangat jahat di mata Tuhan, karena ia memimpin bangsa Israel menjauh dari Allah dan mengajak mereka menyembah patung. Semua nggota keluarga Yerobeam yang telah mencapai umur akil-balik dihitung turut bertanggung jawab atas kejahatan yang dilakukan oleh Yerobeam kecuali bayinya yang belum akil balik. Sehingga pendapat Calvin bahwa bayi orang baik akan masuk Sorga sedang bayi orang jahat akan masuk Neraka dapat dipatahkan oleh pernyataan Allah terhadap bayi Yerobeam. Yerobeam jahat di mata Tuhan, bayinya adalah satu-satunya dalam keluarga Yerobeam yang baik di mata Tuhan. Karena allah calvinis memang kejam, dimana ia dikatakan memilih orang-orang untuk dimasukkan ke Sorga serta memilih orang-orang untuk dimasukkan ke Neraka tanpa kondisi (unconditional-election), maka tidak heran jika allah yang sama juga akan memasukkan bayi yang tidak tahu apa-apa atas dasar dosa orang tuanya. Contoh kasus Daud yang menghamili Batsyeba dan melahirkan seorang anak. Anak itu ditulahi Tuhan untuk mati karena dilahirkan dari perbuatan jahat Daud. Penulahan itu sama sekali bukan untuk nasib akhir bayi tersebut melainkan agar ia mati secara jasmani sebagai sebuah penghukuman kepada Daud. Anak itu akan masuk Sorga sebagaimana kata Daud bahwa ia yang akan pergi kepada anak itu. Daud yakin bahwa suatu hari nanti dialah yang akan menyusul anak itu, dan tentu maksudnya ke Sorga. Jadi penulahan Allah terhadap bayi itu adalah sebagai hajaran Allah kepada Daud. 12:13 Lalu berkatalah Daud kepada Natan: “Aku sudah berdosa kepada TUHAN.” Dan Natan berkata kepada Daud: “TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati. 12:22 Jawabnya: “Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup. (II Samuel) Dari peristiwa ini bahkan bisa kita simpulkan bahwa bayi yang dilahirkan secara tidak sah, bahkan dihasilkan dari perbuatan dosa pun akan masuk Sorga. Sama seperti bayi-bayi kota Betlehem yang dibunuh oleh Herodes. Mereka semua telah masuk Sorga. Peristiwa pembunuhan bayi-bayi itu adalah sebuah peristiwa yang diizinkan Allah untuk menghukum para orang tua yang mengabaikan kehadiran Sang Mesias di kota mereka. Allah yang maha adil dan maha kasih tidak mungkin membinasakan bayi-bayi di kota Betlehem yang tidak tahu apa-apa. Semua bayi yang terbunuh di Betlehem telah masuk Sorga karena sang Juruselamat mereka yang telah lahir di kota mereka akan dihukumkan untuk membereskan posisi mereka sebagai keturunan Adam yang berdosa. Sesungguhnya demi sifat Allah yang maha adil dan maha benar, tidak mungkin ada satu orang pun yang akan dimasukkan ke Neraka oleh karena perbuatan orang lain (Adam dan Hawa), dan tidak ada satu orang pun yang akan berada di Sorga tanpa melalui penebusan Yesus Kristus. Dan tentu tidak ada seorang pun yang akan berada di Sorga oleh jasa seorang manusia lain selain jasa Kristus yang mati di kayu salib. Sehubungan dengan kebenaran ini maka tidak dibenarkan untuk membaptiskan bayi. Bayi tidak perlu dibaptis karena bayi siapapun yang meninggal akan segera masuk Sorga tanpa melalui baptisan. Gereja Reform, Presbyterian, Lutheran, apalagi Katolik, telah membuat kesalahan yang amat besar. Tindakan mereka dalam membaptis bayi membuktikan pemahaman mereka tentang Injil Kristus tidak tepat. Gereja-gereja tersebut di atas ketika keluar dari Gereja Roma Katolik tidak memprotes Doktrin Gereja (ecclesiology) dari Gereja Roma Katolik yang sesat melainkan hanya memprotes Doktrin Keselamatannya (soteriology) saja. Tindakan kepalang tanggung tersebut telah menyebabkan pembaptisan bayi yang sangat bertentangan dengan Injil yang benar. Dan daripada bertobat dari kesalahan tersebut mereka malah mencari-cari pembenaran atas tindakan mereka yang salah itu. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa semua gereja yang mempraktekkan baptisan bayi sesungguhnya memiliki masalah pada Doktrin Keselamatan mereka. Pasti ada yang bertanya, pada umur berapakah seseorang dihitung telah akil-balik? Jawabannya, tidak ada kepastian umur karena sangat tergantung pada banyak faktor, antara lain: kematangan mental, kecerdasan berpikir dan lain sebagainya. Masa akil balik tiap-tiap orang tidak sama. Pada zaman PL, zaman ibadah simbolik lahiriah, Allah menetapkan seorang laki-laki Yahudi mulai umur 12 tahun ke atas harus menghadiri ibadah ritual simbolik di Yerusalem. Dan Yesus di bawa orang tuanya ke Yerusalem pada saat berumur 12 tahun (Luk 2:42). Belum pasti umur 12 tahun adalah umur seseorang menjadi akil balik, tetapi berhubung pada zaman itu adalah zaman ibadah simbolik lahiriah, maka harus ada suatu ketetapan yang bersifat lahiriah yang membatasi saat seseorang diikutsertakan dalam ibadah lahiriah. Menurut pertimbangan pemimpin Yahudi dan mungkin telah melalui perjalanan ribuan tahun, mulai umur 12-lah seorang laki-laki diikutsertakan dalam ibadah. Tentu kini ketika kita berada dalam zaman ibadah roh dan kebenaran, seseorang bisa bertobat dan memahami kebenaran Injil lebih awal dari umur 12 tahun. Intinya, masa akil-balik adalah masa seseorang mulai memahami kebenaran rohani dan mulai mampu memikirkan dan membedakan antara benar dan salah, masa seseorang mulai bertanggung jawab atas keputusan-keputusan yang diambilnya. Sumber: Doktrin Keselamatan Alkitabiah, halaman 81-89, DR. Suhento Liauw, Jakarta: Graphe International Theological Seminary (GITS), 2007.
Permalink
Posted in Keselamatan at 7:16 pm by anabaptists
TUJUH PERUMPAMAAN KRISTUS
Banyak orang salah menafsirkan 7 perumpamaan Tuhan Yesus yang tercatat di dalam Injil Matius 13. Penyebabnya adalah terlalu terpukau pada kata ‘Kerajaan Sorga’ tanpa menggali lebih dalam pada ayat 11. Pada ayat 11 Yesus menjawab: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak…” Kata Yunani dibalik kata rahasia di ayat itu adalah ta musteria=misteri. Sesungguhnya Tuhan bukan membicarakan Kerajaan Sorga, melainkan misteri dari Kerajaan Sorga itu.
Apakah misteri Kerajaan Sorga itu? Banyak orang gagal menangkap bahwa Jemaat lokal Perjanjian Barulah yang dimaksudkan Tuhan Yesus. Jemaat lokal adalah tubuhNya, adalah mempelai wanitaNya, dan itu adalah misteri Kerajaan Sorga.
Tuhan menceritakan bagaimana misteri Kerajaan Sorga itu dimulai, yaitu dengan menaburkan benih Injil. Perumpamaan pertama dari Tuhan ialah tentang Penabur Benih. Tuhan menggambarkan proses sebuah jemaat lokal didirikan, yaitu melalui menaburkan benih Injil. Kalau benih yang ditabur jatuh ke tanah yang subur, maka berdirilah sebuah jemaat lokal.
Perumpamaan kedua ialah tentang musuh Tuhan yang menaburkan benih lalang. Hal itu menyebabkan berdirinya gereja yang sesat. Melalui perumpamaan ini Tuhan mau memberitahukan kita bahwa tidak semua gereja yang eksis adalah ”gandum” atau gereja milik Tuhan, melainkan banyak diantaranya adalah ”lalang” atau gereja milik Iblis.
Kemudian Tuhan melanjutkan perumpamaan ketiga yaitu tentang biji sesawi. Melalui perumpamaan ini Tuhan ingin menggambarkan keadaan jemaat yang sebelumnya digambarkan dengan lalang itu, juga bagaikan biji sesawi yang berkembang menyimpang dari genetikanya sehingga menjadi pohon besar. Banyak orang akan mencari keuntungan materi, jasmani dan duniawi di sana, bagaikan burung yang bertengger dan mencari makan di pohon itu.
Dengan perumpamaan ke-4, yaitu gandum 3 sukat yang dimasukkan ragi oleh perempuan ke dalamnya, Tuhan sekali lagi mengajarkan usaha iblis merusak jemaat lokal dari gandum menjadi lalang dengan memasukkan ragi (doktrin yang salah) ke dalam 3 sukat gandum (1. motivasi yang tulus, 2. doktrin yang alkitabiah, dan 3. moral yang tinggi) hingga khamir semuanya.
Kemudian Tuhan memakai 2 perumpamaan yaitu yang ke-5 dan ke-6 untuk menggambarkan jemaat yang benar, yaitu yang didalamnya terdapat harta yang terpendam, yang layak bagi siapapun untuk menjual hartanya dan membeli ladang itu. Layak bagi siapa saja untuk menjual rumahnya dan pindah ke dekat jemaat lokal yang alkitabiah agar seluruh keluarganya bisa diselamatkan dan berjemaat dengan baik di jemaat yang alkitabiah. Dan Injil yang benar bagaikan mutiara yang tiada tara nilainya. Layak bagi siapapun untuk menukarnya dengan segala yang dimilikinya.
Dan perumpamaan ke-7 adalah tentang penarikan pukat yang sesungguhnya adalah gambaran tentang pengangkatan jemaat pada saat kedatangan Tuhan. Ikan akan dimasukkan ke dalam pasu sedangkan sampah pasti akan dibuang.
TUHAN MENABUR BENIH GANDUM
Banyak orang Kristen terlalu naif dan lugu. Mereka melihat semua AKTIVITAS dan kelompok yang menyebut-nyebut nama Yesus adalah berasal dari Yesus Kristus Juruselamat yang mati tersalib. Padahal Tuhan sudah memperingatkan kita bahwa iblis akan datang dan akan memakai namaNya.
Cara jitu musuh sebuah produk minuman untuk menyerang saingannya ialah memproduksi minuman beracun dengan merek yang sama dengan yang diserangnya. Lucifer memang cerdas, dan kecerdasannya melampaui kita semua. Namun syukur kepada Allah, Tuhan Yesus telah memperingatkan kita bahwa komplotan Lucifer akan memakai namaNya untuk menyesatkan murid-muridNya (Mat 24:3-5, 23-28).
Jelas-jelas Tuhan hanya menaburkan benih gandum, namun fakta menunjukkan tumbuh banyak lalang. Sesungguhnya Tuhan melalui perumpamaan ini ingin memberitahukan kita bahwa iblis mendirikan gereja yang sesat, bahwa kita tidak boleh bodoh dan tidak boleh menganggap semua gereja yang memakai nama Yesus adalah gandum. Kita harus tahu bahwa iblis cukup pintar dalam tindakannya untuk menentang Tuhan, yaitu melakukan pemalsuan akan program Tuhan. Iblis tahu bahwa cara terjitu untuk melawan gereja yang benar adalah mendirikan gereja yang salah. Ia menaburkan benih lalang untuk mengganggu pertumbuhan gandum sekaligus untuk mengacaukan orang awam yang tidak sanggup membedakan antara lalang dan gandum.
IBLIS MENABUR LALANG
Seandainya tidak ada iblis maka pasti tidak ada gereja yang sesat. Dan pasti tidak ada agama yang aneh-aneh, dan tidak ada penyembahan berhala. Jika tidak ada iblis maka juga tidak akan ada usaha penyesatan yang sangat merajalela.
Tanpa iblis, dosa yang dilakukan oleh manusia hanya yang timbul dari dorongan kedagingannya, bukan yang bersifat rohani, doktrinal dan penyesatan. Mencuri, berzinah adalah dosa kedagingan, tetapi penyembahan berhala, penyebaran agama yang tidak berasal dari Allah, dan pendirian gereja yang tidak Alkitabiah, itu berasal dari taktik iblis untuk menjerat lebih banyak manusia ke Neraka.
Kini keadaannya tidak bisa dibalik lagi, kita tidak bisa mengandaikan bahwa iblis tidak ada, karena dia telah ada. Allah tidak menciptakan iblis melainkan menciptakan malaikat yang berkepribadian, dan berkehendak bebas seperti manusia. Dan sejumlah malaikat telah memilih menentang Tuhan sehingga mereka sudah ditetapkan akan dihukum. Mereka menuntut manusia yang juga diberi kehendak bebas diuji, karena mereka sesumbar kepada Allah bahwa setiap yang diberi kehendak bebas pasti akan menentang Allah (Ayub 1:9-12).
Untuk melancarkan programnya iblis mendirikan berbagai agama, dari yang menyembah matahari hingga yang menyembah tahi sapi. Dan satu hal yang oleh banyak orang Kristen tidak diwaspadai, yaitu bahwa iblis mendirikan gereja. Orang-orang yang terjaring di dalam gereja yang didirikan iblis pasti digiring untuk tidak memperhatikan doktrin melainkan hal-hal kehidupan sehari-hari, karena ketika mereka memperhatikan doktrin maka mereka akan melihat kesalahan gereja mereka, serta akan meninggalkan gereja mereka. Seandainya tidak ada iblis, kami tidak perlu menerbitkan Pedang Roh, tidak perlu kuatir akan penyesatan, semua agama pasti membawa orang ke Sorga, dan tidak ada gereja yang sesat. Tetapi karena iblis sudah ada maka kita harus mewaspadainya, menentangnya, bahkan mengalahkannya. Tentu dengan pertolongan Yesus Kristus, dan Alkitab firmannya. Menjunjung tinggi doktrin alkitabiah, dan mengumandangkannya, adalah satu-satunya cara untuk melawan penyesatan yang disebarkannya.***
Sumber: PEDANG ROH: Jurnal Teologi, Sarana Pendidikan Teologi dan Pemberitaan Kebenaran oleh GITS (GRAPHE International Theological Seminary), Edisi 57, Triwulanan Oktober-Desember 2008, Suhento Liauw (STh., M.R.E., D.R.E., Th.D), halaman 8.
Permalink
Posted in Gereja at 7:13 pm by anabaptists
Setelah Tuhan Yesus menyelesaikan pekerjaan di atas bumi dan sebelum terangkat ke dalam kemuliaan, Ia memberikan amanat kepada murid-muridNya sebagai berikut: “KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat. 28: 18-20). Sehubungan dengan amanat ini Yesus memberikan otoritas kepada jemaatNya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia.
Sebuah jemaat Perjanjian Baru adalah sekelompok orang percaya yang sudah dibaptis yang secara sukarela menggabungkan diri bersama untuk memelihara (mempertahankan) ordinansi dan pemberitaan Injil Yesus Kristus.
Karakteristik istimewa jemaat ini jelas membekas di dalam Perjanjian Baru.
Jemaat tersebut merupakan sebuah perkumpulan sukarela dan independen di antara jemaat-jemaat (gereja-gereja) lainnya. Jemaat tersebut bisa saja, dan dimungkinkan untuk berafiliasi dengan jemaat-jemaat lain di dalam hubungan persaudaraan; tetapi ia harus tetap independen dari segala campur-tangan luar, dan hanya bertanggungjawab kepada Kristus, yang adalah pemberi hukum tertinggi dan sumber dari segala otoritas. Dari sejak awal para pengajar dan para jemaat secara bersama-sama melaksanakan urusan gereja.
Dalam pengertian Perjanjian Baru, tidak ada organisasi yang merupakan sebuah Gereja (Jemaat) Umum atau Nasional, yang meliputi sebuah wilayah negara yang luas, yang terdiri atas sejumlah besar organisasi setempat (lokal). Jemaat (gereja) dalam pengertian alkitabiah selalu merupakan sebuah organisasi yang independen dan lokal. Gereja-gereja (jemaat-jemaat) yang bersaudara “dipersatukan hanya karena ikatan iman dan belas kasih. Independensi dan persamaan membentuk tubuh internal mereka” (Edward Gibbon, The History of the Decline and Fall of the Roman Empire, I, 554, Boston, 1854). Gibbon, yang selalu artistik dalam melakukan pembahasan, melanjutkan: “Begitulah lembutnya dan sama kedudukannya dimana orang Kristen diperintah lebih dari seratus tahun setelah wafatnya para rasul. Setiap kumpulan membentuk sendiri sebuah kelompok terpisah dan independen yang berasal dari, untuk dan kepada kepentingan mereka sendiri; dan bahkan bagian dari kelompok yang paling jauh inipun mempertahankan hubungan yang akrab, mutual (saling menguntungkan), mengadakan hubungan surat-menyurat dan utusan-utusan, kalangan Kristen belum berhubungan dengan kumpulan legislatif atau atasan apapun” (Ibid., 558).
Para pejabat gereja yang pertama, adalah para gembala, yang biasa disebut penatua (elder) atau penilik (bishop), dan kedua, para diaken. Mereka adalah para pelayan yang terhormat yang merupakan orang yang merdeka. Para gembala tidak memiliki otoritas yang lebih tinggi dari saudara-saudara yang lain, dan hanya karena pelayananlah, mereka memperoleh tingkat kehormatan yang baik.
Para penulis Episkopal yang kemudian, seperti Jacob dan Hatch, tidak mengambil sistim dari bentuk kepemerintahan alkitabiah yang mula-mula, namun selalu menyatakan bentuk kepemerintahan jemaat (yang mereka anut berasal dari jemaat) yang mula-mula, dan mengatakan bahwa episkopasi (kepenatuan/kepenilikan) adalah perkembangan yang kemudian. Di dalam Perjanjian Baru, penatua dan penilik merupakan nama berbeda untuk menggambarkan jabatan yang sama. Dr. Lightfoot, Penilik dari Durham, di dalam sebuah diskusi yang sangat melelahkan membahas tentang masalah ini, mengatakan:
Jelas, bahwa pada akhir Masa Kerasulan, dua golongan yang lebih rendah dari ketiga lapisan pelayanan tersebut benar-benar tidak dapat dipungkiri dan tersebar luas; namun bekas atau jejak episkopasi, demikian sebutan yang lebih pantas, sangat sedikit dan tidak jelas… Episkopasi dibentuk oleh golongan presbyterian untuk meninggikan posisi; dan gelar tersebut, yang tadinya biasa bagi semua orang, menjadi sebuah gelar
yang bergengsi yang lebih tepat dikatakan sebagai pemimpin mereka (Lightfoot, Commentary on Philippians, 180-276).
Dean Stanley menggambarkan pandangan yang serupa. Ia mengatakan :
Sesuai ketentuan jemaat (gereja) yang tegas yang berasal dari jemaat mula-mula, hanya terdapat dua golongan, yakni penilik dan diaken (Stanley, Christian Institutions, 210).
Richard B. Rackham (The Acts of the Apostles cii), AD. 1912, berpendapat mengenai kata ‘penilik’ (episcopos):
Kita bisa langsung mengatakan bahwa belum diperoleh pengertian yang pasti seperti yang tercantum di dalam surat Ignatius (tahun 115 AD), maupun pada masa kini, yakni mengenai patokan tunggal mengenai kepenilikan. Dari Kis. 20: 28, Tit. 1: 6-7, dan dibandingkan dengan 1 Tim. 3: 2f, dapat kita simpulkan bahwa episcopos (penilik) jelas adalah sebuah sinonim dari kata presbyter (penatua), dan bahwa kedua jabatan tersebut adalah identik (sama).
Knowling (The Expositors Greek Testament, II, 435-437) meninjau tulisan semua ahli, Hatch (Smith and Cheetham, Dictionary of Christian Antiquities, II, 1700), Harnack (Gebhardt and Harnack, Clement of Rome, edisi revisi, 5), Steinmetz, dsb., menyimpulkan sebagai berikut:
Perikop yang satu ini (Kis. 20: 28) juga sudah cukup untuk menunjukkan bahwa ‘presbyter’ dan ‘bishop’ pada mulanya secara praktis adalah identik (sama).
Jerome, pada akhir abad keempat, mengingatkan para penilik bahwa mereka menerima posisi yang lebih tinggi di atas para penatua, bukan karena institusi dari Allah seperti halnya dengan penggunaan posisi tersebut di dalam jemaat; karena sebelum pecah kontroversi di dalam gereja, tidak didapati adanya perbedaan di antara keduanya, kecuali bahwa presbyter (penatua) merupakan istilah yang berkenaan dengan usia, dan bishop (episcopos = penilik) merupakan istilah yang berkenaan dengan status (martabat) resminya; namun ketika manusia terdorong oleh Setan untuk mendirikan kelompok dan sekte dan bukannya hanya mengikut Kristus, kita sebut saja mereka kelompok Paulus, kelompok Apolos, atau kelompok Kefas, yang sepakat mengangkat salah seorang dari para penatua sebagai pimpinan dari penatua-penatua lainnya, sehingga di bawah pengawasan universalnya terhadap gereja-gereja, ia boleh membunuh benih-benih yang ingin memisahkan diri (Hieron. Comm. ad Tit. 1: 7). Para penulis agung dari Gereja Yunani setuju dengan Jerome di dalam mempertahankan identitas asli para penilik dan penatua seperti di dalam Perjanjian Baru. Mereka antara lain adalah Chrysostom (Hom.i. Ef. ad Fil. 1: 11); Theodoret (ad Fil. 1: 1); Ambrosiaster (ad Ef. 4: 11); dan kaum pseudo-Augustinian (Questions V et NT. qu. 101).
Terdapat dua ordinansi di dalam gereja yang sederhana pada masa itu, yakni Baptisan dan Perjamuan Tuhan. Baptisan merupakan pengakuan iman di dalam Kristus dari segi luarnya. Karena baptisan menyatakan sebuah kepercayaan di dalam kematian, penguburan dan kebangkitan Yesus Kristus, yang diikuti oleh kebangkitan semua orang percaya melalui Roh yang kekal.
Hanya orang percaya saja yang boleh dibaptis dan melalui sebuah pengakuan iman di dalam Yesus Kristus. Gereja/Jemaat terdiri atas orang-orang percaya atau orang-orang kudus. Di dalam Perjanjian Baru para anggota disebut sebagai “dikasihi Allah, yang dipanggil untuk menjadi orang-orang kudus”; dikuduskan di dalam Yesus Kristus”; “setia di dalam Kristus”; “dipilih Allah, kudus, dan dikasihi .” Syarat keanggotaan tersebut adalah pertobatan, iman, benar, dan diawali dengan baptisan yang melambangkan perubahan hidup.
Sehubungan dengan hal ini, menarik untuk dicatat bahwa semua Pengakuan Iman Pedobaptis (gereja yang melaksanakan baptisan bayi/kanak-kanak) hanya memasukkan orang-orang percaya di dalam definisi anggota jemaat yang sebenarnya. Definisi jemaat berikut ini dikutip dari Pengakuan Iman Augsburg dari Gereja Lutheran. Ia boleh dikatakan hampir mewakili yang lainnya. Pengakuan itu berbunyi:
Berbicara yang sebenarnya, bahwa gereja Kristus adalah sebuah jemaat anggota Kristus; yaitu orang-orang kudus, yang sungguh-sungguh percaya dan taat kepada Kristus sebagaimana mestinya.
Sedemikian universalnya definisi gereja ini di dalam semua Pengakuan Iman sehingga Kostlin, seorang Profesor Theologi di Halle mengatakan: “Pengakuan Reformed menggambarkan Gereja sebagai persekutuan orang-orang yang percaya atau orang-orang kudus, dan memelihara keberadaannya diatas pengajaran Firman yang murni” (Kostlin, Schaff-Herzog Religious Encyclopedia, I, 474).
Definisi di atas, diterapkan secara konsisten, tidak termasuk baptisan bayi, karena bayi belum bisa percaya, yang di dalam Perjanjian Baru selalu merupakan sebuah prasyarat untuk dibaptis. Pengajaran Perjanjian Baru sangat jelas mengenai masalah ini. Yohanes Pembaptis memberi syarat kepada mereka yang akan dibaptis agar sudah bertobat, beriman, melakukan pengakuan dosa dan hidup di dalam kehidupan yang benar (Mat. 3: 2; Kis. 19: 4). Yesus melakukan pemuridan terlebih dahulu dan kemudian membaptis mereka (Yoh. 4: 1), dan memberikan perintah khusus bahwa pengajaran harus mendahului baptisan (Mat. 28: 19). Di dalam pengajaran para rasul, pertobatan mendahului baptisan (Kis. 2: 38); para petobat dipenuhi dengan sukacita, dan hanya orang dewasa saja (laki-laki maupun wanita) yang dibaptis (Kis. 8: 6, 8, 12). Tidak ada catatan atau kesimpulan yang mengimplikasikan bahwa baptisan bayi dilakukan oleh Yesus maupun rasul-rasulnya.
Ini secara umum diakui oleh para ahli.
Dollinger, seorang ahli Katolik, Profesor di bidang Sejarah Gereja di Universitas Munich, mengatakan: “Tidak ada bukti atau tanda-tanda di dalam Perjanjian Baru bahwa para rasul membaptis bayi atau memerintahkan bayi-bayi dibaptis” (John Joseph Ignatius Dollinger, The First Age of the Church, II, 184).
Dr. Edmund de Pressence, seorang Senator Perancis dan Protestan mengatakan: “Tidak ada fakta positif yang mendukung praktek (baptisan bayi) yang dapat dikemukakan dari Perjanjian baru; bukti-bukti sejarah yang dinyatakan tidak meyakinkan” (Pressence, Early Years of Christianity, 376, London, 1870).
Banyak penulis buku yang membahas baptisan bayi akan langsung menegaskan bahwa hal tersebut tidak disebutkan di dalam Perjanjian Baru. Disini hanya akan dikutip salah satu penulis tersebut. Joh. W.F. Hofling, seorang Profesor Theologi Lutheran di Erlangen mengatakan: “Kitab Suci tidak memberikan bukti sejarah bahwa kanak-kanak dibaptis oleh para rasul” (Hofling, Das Sakrament der Taufe, 99, Erlangen, 1846, 2 vol.).
Sedikit sekali ahli pada masa kini yang akan keliru mengenai masalah ini. “Encyclopedia of Religion and Ethics” yang diedit oleh Profesor James Hastings dan Profesor Kirsopp Lake dari Universitas Leyden mengatakan: “Tidak ada indikasi baptisan bayi di dalam Perjanjian Baru”.
“Real Encyklopadia fur Protestantiche Theologie und Kirche” (XIX, 403, edisi ketiga), ensiklopedi Jerman yang hebat, mengatakan:
Praktek baptisan bayi tidak dapat dibuktikan pada masa kerasulan dan sesudah kerasulan. Kita memang sering mendengar tentang baptisan seisi rumah, seperti di dalam Kis. 16: 34; 18: 8; 1 Kor. 1: 16. Namun perikop terakhir yang dikutip, 1 Kor. 7: 14, tidak mendukung anggapan bahwa baptisan bayi adalah suatu
kebiasaan pada masa itu. Karena jika memang demikian tidak mungkin Paulus kemudian menulis “Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar”.
Kepala Sekolah Robert Rainy, New College, Edinburgh, seorang Presbyterian, mengatakan:
Baptisan mensyaratkan beberapa perintah Kristen, dan didahului dengan puasa. Ia menandakan pengampunan dosa masa lalu, dan merupakan titik balik kehidupan baru di dalam Kekristenan dan dengan inspirasi tujuan dan maksud Kristen. Ia merupakan ‘meterai’ seseorang yang tidak akan diganggu-gugat (Rainy, Ancient Catholic Church, 75).
Bentuk baptisan adalah masuk ke dalam air, atau menyelam ke dalam air. Yohanes membaptis di sungai Yordan (Mrk. 1: 5); dan ia membaptis di Ainon, dekat Salim “sebab disitu banyak air” (Yoh. 3: 23). Yesus dibaptis di sungai Yordan (Mrk. 1: 9), dan Ia “masuk ke dalam air” dan “keluar dari air” (Mat. 3: 16). Perikop-perikop simbolis (Rom. 6: 3, 4; Kol. 2: 12), yang menggambarkan baptisan sebagai sebuah penguburan dan kebangkitan yang dengan jelas menyatakan bahwa cara selam merupakan pelaksanaan baptisan Perjanjian Baru.
Istilah ini memang merupakan makna perkataan Yunani baptizein. Perkataan tersebut didefinisikan oleh Liddell dan Scott, yakni kosa kata sekuler Yunani yang digunakan di semua sekolah tinggi dan universitas, sebagai “menyelam atau di bawah air”. Seluruh pakar menyetujui pandangan ini. Prof. R.C. Jebb, Litt. D., University of Cambridge, mengatakan: “Saya tidak tahu apakah ada yang mempunyai wewenang dalam kosa kata Yunani-Inggris yang mengubah kata tersebut menjadi bermakna ‘memercik’ atau ‘menetes/mencurah/menuang’. Saya hanya bisa mengatakan bahwa pengertian tersebut bukan berasal dari kata tersebut di dalam kesusasteraan Yunani” (Letter to the Author, 23 September, 1898). Dr. Adolf Harnack, University of Berlin, mengatakan: “Tidak diragukan bahwa baptisan berarti selam. Tidak ditemukan bukti bahwa kata tersebut mempunyai arti yang lain di dalam Perjanjian Baru dan di dalam kepustakaan Kristen yang paling lamapun” (Schaff, The Teaching of the Twelve, 50).
Dr. Dosker, Profesor Sejarah Gereja dari Presbyterian Theological Seminary, Louisville, mengatakan:
Setiap sejarawan yang tulus akan mengakui bahwa kaum Baptis memiliki argumentasi yang lebih bagus, baik secara ketatabahasaan maupun sejarah mengenai bentuk baptisan yang berlaku. Kata baptizo berarti menyelam, baik di dalam kesusasteraan Yunani maupun dalam Alkitab bahasa Yunani, kecuali jika secara nyata menunjukkan pemakaian yang berubah makna (Dosker, The Dutch Anabaptists, 176, Philadelphia, 1921).
Tidak ada yang lebih pasti daripada jemaat-jemaat Perjanjian Baru yang secara seragam melaksanakan cara selam.
Selanjutnya Perjamuan Tuhan menunjukkan kematian Juruselamat sampai Ia datang kembali. Ia merupakan sebuah peringatan kekal atas tubuh yang dihancurkan dan darah yang tercurah dari Tuhan yang telah bangkit. Di dalam Alkitab, Perjamuan Tuhan selalu didahului oleh pelaksanaan baptisan, dan tidak ada catatan mengenai orang yang mengambil bagian Perjamuan yang belum dibaptis sebelumnya. Bahwa baptisan harus mendahului Perjamuan Tuhan diakui para pakar dari semua kelompok.
Dr. William Wall menyimpulkan dari seluruh bidang sejarah yang membahas masalah ini ketika mengatakan: “Karena tidak ada jemaat yang pernah melaksanakan Perjamuan kepada orang sebelum mereka dibaptis… Sebab dari semua kemustahilan yang pernah terjadi, tak satupun yang pernah mempertahankan bahwa seseorang harus mengambil bagian di dalam Perjamuan sebelum ia dibaptis” (Wall, The History of Infant Baptism, I, 632, 638, Oxford, 1862).
Kaum Baptis selalu menuntut bahwa ordinansi tersebut merupakan simbol dan bukan sakramen (alat yang menguduskan). Memang itulah inti pendirian mereka.
Presiden E.Y. Mullins secara singkat menyatakan sejarah pendirian Baptis sebagai berikut:
Mereka memandang garis besar unsur-unsur rohani Kekristenan dengan semangat dan kejernihan yang tinggi. Sama pentingnya seperti semangat dan kejernihan bentuk-bentuk yang kelihatan dari luar. Bagi mereka kelihatannya pokok kehidupan Kekristenan seakan-akan tergantung kepada bagaimana mempertahankan unsur-unsur rohani dan seremonial di tempatnya masing-masing. Tentu saja sejarah Kristen meneguhkan pandangan mereka. Bentuk-bentuk dan upacara bagaikan tangga. Kita dapat naik dan turun di atasnya. Jika kita menempatkannya sebagai simbol, maka jiwa-jiwa hidup diatas kebenaran yang disimbolkan. Jika kita mengubahnya menjadi sakramen, jiwa-jiwa kehilangan pokok kehidupannya sendiri, yaitu perjamuan rohani dengan Tuhan. Suatu upacara agama yang bersifat luar melahirkan pengertian pokoknya dari konteks dimana ia ditempatkan, dari sistim umum dimana ia membentuk bagian. Jika sebuah upacara dibentuk dalam konteks sistim kebenaran rohani, ia dapat menjadi sebuah unsur yang sangat diperlukan untuk kelangsungan kebenaran-kebenaran tersebut. Jika ia dibentuk didalam konteks sistim sakramen, ia bisa dan akan menjadi sebuah alat yang mengaburkan kebenaran dan memperhambakan jiwa. Persepsi nilai upacara sebagai simbol dan bahayanya sebagai sakramen inilah yang menjiwai kaum Baptis didalam pembelaan yang kuat terhadap penafsiran rohani atas ordinansi Kekristenan (McGlothlin, Infant Baptism Historically Considered, 7).
Gereja mula-mula merupakan badan-badan misi. Mereka diwajibkan untuk menyampaikan Amanat Agung yang diberikan Tuhan kita. Sebagai ketaatan kepada program misi yang direncanakan oleh Tuhan, murid-murid dalam beberapa generasi mengabarkan Injil kepada dunia-dunia yang dikenal.
Jemaat mula-mula pertama dibentuk oleh Yesus dan para rasulNya; dan setelah pembentukan jemaat yang pertama itu, semua jemaat (gereja) yang lain harus mencontoh jemaat tersebut. Jemaat-jemaat tersebut dibentuk untuk diteruskan di dunia ini sampai kerajaan-kerajaan di bumi ini menjadi Kerajaan Allah, digenapi di dalam Kristus. Nubuatan penuh dengan karakter Kerajaan Kristus yang kekal (Dan. 2: 44-45). Yesus menegakkan maksud yang sama di dalam jemaatNya dan menyampaikan janji tersebut kepada segala zaman. Ia berkata: “Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16: 18). Kata jemaat disini tak diragukan lagi dipakai di dalam pengertiannya yang biasa dan literal sebagai sebuah lembaga lokal; dan satu-satunya perikop dimana hanya ditemukan di dalam Matius (18: 17), sehingga harus diberi pengertian yang sama. Banyak sekali pakar yang mendukung pendapat bahwa perikop ini merujuk kepada jemaat (gereja) Kristus yang lokal dan kelihatan (Meyer, Critical and Exegetical Handbook to the Gospel of Matthew).
Pengertian kritis atas kata tersebut tidak berbeda jauh dari pengertian ini (Thayer, Greek-English Lexicon of the New Testament, 197). Kata ‘jemaat’ digunakan oleh Tuhan dan para rasul tidak begitu bertentangan dengan Theokrasi Yahudi, seperti sinagoga Yahudi, karena sinagoga selalu bersifat lokal (Cremer, Biblico-Theological Lexicon of the New Testament Greek, 330-331). Katolik Roma selalu menolak eksistensi jemaat rohani yang universal (Alzog, Universal Church History, I, 108-109). Sampai pada Reformasi Jerman praktis tidak ada pengertian jemaat yang lain. Ketika Luther dan lainnya memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma, sebuah penafsiran baru atas perikop ini diterima untuk disesuaikan dengan pandangan yang baru; sehingga mereka meyakini bahwa Matius 16: 18 hanya menunjuk kepada kemenangan akhir Kekristenan. Namun jelas penafsiran ini jauh dari yang dimaksudkan oleh Tuhan.
Paulus menyampaikan sebuah janji yang besar: “Bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin” (Ef. 3: 21). Ellicott menerjemahkan perikop ini: “Kepada semua generasi dari zaman segala zaman.” Kemuliaan Kristus akan eksis dalam segala zaman didalam jemaat. Oleh karena itu, jemaat harus eksis dalam segala zaman. Bahkan orang-orang yang ditebus di dalam surga digambarkan didalam Alkitab sebagai sebuah jemaat.
Penulis percaya bahwa di dalam setiap zaman sejak Yesus dan para rasul, telah ada kumpulan orang percaya, jemaat, yang secara substansial mempertahankan prinsip-prinsip Perjanjian Baru seperti yang kini dinyatakan oleh kaum Baptis. Tidak ada rekayasa di dalam halaman-halaman ini yang meniru warisan para penilik, seperti yang direkayasa Katolik Roma, yang menelusuri kembali ke zaman para rasul. Rekayasa tersebut adalah “bekerja di dalam api untuk kesia-siaan belaka”, dan meneruskan sebuah pandangan yang salah mengenai sifat Kerajaan Kristus, dan kedaulatan Allah yang bekerja di atas bumi. Yesus sendiri ketika menjawab permintaan kaum Farisi yang ditujukan kepadaNya (Luk. 17: 20-24), membandingkan KerajaanNya dengan kilat, memancarkan sinarnya dengan kedaulatan tertinggi yang tak tertahankan dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain. Dan gambaran ini sesuai dengan urusan Allah di dalam kerajaan rohani. Dimanapun terdapat orang-orang yang dipilih Allah, maka ketika waktuNya tiba , Ia akan mengirimkan Injil untuk menyelamatkan mereka, dan jemat-jemaat yang sesuai kehendakNya akan diatur (William Jones, The History of the Christian Church, XVII, Philadelphia, 1832).
Perjanjian Baru mengakui kesederhanaan yang demokratis, bukan sebuah monarkhi yang hirarkhis. Tidak ada kekacauan, namun yang ada adalah pernyataan prinsip-prinsip yang kekal. Tidak ada isyarat yang menyatakan tidak adanya kesinambungan jemaat, tetapi adanya kesinambungan jemaat itu sudah pasti, namun penekanan kita adalah bahwa hal ini bukan merupakan perhatian yang dominan pada masa kerasulan. Penekanan tidak diletakkan kepada suksesi baptisan, atau golongan jemaat yang berdasarkan sejarah. Beberapa rasul merupakan murid dari Yohanes Pembaptis (Yoh. 1: 35), tetapi tidak ada catatan tentang pembaptisan yang lainnya, meski mereka telah dibaptis. Paulus, sang misionari besar, dibaptis oleh Ananias (Kis. 9: 17-18), tetapi tidak diketahui siapa yang membaptis Ananias. Tidak diketahui secara pasti asal-usul jemaat di Damaskus (Damsyik). Jemaat di Antiokhia merupakan pusat misionari luar yang besar, tetapi sejarah asal-usulnya tidak diberikan dengan jelas. Jemaat Roma telah ada ketika Paulus menulis surat kepada mereka. Kebisuan terjadi di seluruh Perjanjian Baru, namun terdapat semacam pengulangan yang konstan, keteguhan kepada doktrin-doktrin fundamental, dan sebuah pernyataan prinsip. Hal tersebut menandai seluruh masa kerasulan dan untuk hal tersebut, setiap masa sejak masa tersebut mempertahankannya.
Pengulangan tersebut diakui, bahkan juga ketika kesalahan diketahui. Murid-murid ingin Yesus menegur seseorang yang bukan pengikut Tuhan (Mrk. 9: 40), tetapi Yesus menolak melakukannya. Jemaat Korintus tidak sempurna di dalam melaksanakan perintah Tuhan dan di dalam kehidupan. Para pengajar Yudaisme terus menerus menodai Injil, dan Yohanes sang Penginjil, dalam hari-hari terakhirnya, memerangi kesalahan busuk, tetapi doktrin-doktrin agung tentang karya penebusan Kristus, percaya dan pertobatan, baptisan atas orang-orang yang sudah percaya, kemurnian jemaat, pembebasan jiwa, dan jaminan atas kebenaran-kebenaran, diakui dimana-mana. Kadang-kadang prinsip-prinsip ini ditentang dan orang yang mempertahankannya dianiaya, seringkali mereka ini dikaburkan; kadang-kadang mereka didukung oleh orang-orang yang tidak terpelajar, dan pada waktu yang lain didukung oleh para lulusan universitas yang brilian, yang seringkali mencampur-adukkan kebenaran dengan spekulasi-spekulasi filosofis; namun selalu, biasanya dibawah keadaan-keadaan yang sangat bervariasi, prinsip-prinsip ini muncul ke permukaan.
Gereja (jemaat-jemaat) Baptis memiliki ikatan organisasi yang paling ramping, dan kepemerintahannya yang kuat tidak berdasarkan pemerintahan mereka. Mereka seperti sungai Rhone, yang kadang-kadang mengalir sebagai sungai yang lebar dan dalam, namun kadangkala tersembunyi di dalam pasir. Namun meskipun demikian, ia tidak pernah kehilangan kesinambungan atau eksistensinya. Ia hanya tersembunyi selama suatu masa tertentu. Jemaat Baptis bisa menghilang dan muncul lagi dengan cara yang paling tidak dapat diduga. Penganiayaan dimana-mana dengan pedang dan api, dapat menyebabkan prinsip-prinsip mereka yang hampir punah menjadi tampil lagi, ketika dengan sebuah cara yang sungguh sangat ajaib Allah membangkitkan beberapa orang, atau sekelompok martir untuk menyatakan kebenaran.
Jejak-jejak kaum Baptis yang berabad-abad dapat dengan lebih mudah ditelusuri melalui darah daripada melalui baptisan. Ia lebih merupakan sebuah silsilah penderitaan daripada sebuah suksesi penilik; sebuah prinsip kemartiran, bukan sebuah keputusan dogmatik dari majelis-majelis; sebuah penghubung
kasih emas, bukan sebuah rantai suksesi besi, yang dengan sambil berusaha menggoyang mata rantai hubungannya kembali kepada para rasul, telah mengakibatkan sejumlah kaum Baptis yang protes diikat pada tiang pembakaran daripada menyatakan kebenaran Perjanjian Baru. Meskipun demikian, adalah suksesi kerajaan yang benar, bahwa di setiap masa kaum Baptis telah mendukung kebebasan bagi semua orang, dan mempertahankan bahwa Injil Anak Allah memerdekakan setiap orang di dalam Yesus Kristus.
————————————————————-
Hasan Karman, 2005
Buku-buku untuk bacaan lebih lanjut dan rujukan:
George P. Fisher (Congregationalist), A History of the Christian Church, hal. 1-44.
Philip Schaff (Presbyterian), History of the Christian Church, Vol. 1.
John Alzog (Katolik Roma), Manual of Universal Church History, 4 volume.
Thomas J. Conant (Baptis), The Meaning and Use of Baptizein.
John T. Christian, Immersion, the Act of Christian Baptism.
Edwin Hatch, The Organization of the Early Christian Churches.
Permalink
« Previous entries